Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Langkah BPOM Akan Labelisasi BPA Dinilai Tepat, Sejajar Dengan Negara Maju

Senin, 21 Agustus 2023 14:09 WIB
Pelabelan BPA pada kemasan minuman/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Pelabelan BPA pada kemasan minuman/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Langkah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan menerapkan aturan pelabelan Bisphenol A (BPA) pada kemasan produk dinilai tepat. Dengan langkah itu, Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam hal perlindungan kesehatan masyarakat dari bahaya BPA.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia DKI Jakarta Ketua (PWI Jaya) Sayid Iskandarsyah mengatakan, dalam dua tahun belakangan, berita yang beredar didominasi tentang isu pentingnya makanan dan minuman yang sehat. Hal itu wajar mengingat menyangkut hajat hidup orang banyak. Segala hal yang menyangkut obat-obatan dan makanan pasti akan menyedot perhatian publik. Seperti kasus etilen glikol beberapa waktu lalu, masyarakat langsung memberi perhatian, sehingga persoalan lebih cepat diatasi.

Sayid sependapat dengan pandangan BPOM yang mengedepankan pencegahan terhadap zat-zat berbahaya dalam makanan. Seperti pada upayanya untuk melakukan pelabelan BPA pada galon guna ulang.

Baca juga : Bahlil: Pajak Global 15 % Akal-akalan Negara Maju

"Menurut saya, hal menyangkut makanan, minuman, dan obat obatan harus hati-hati. Lebih baik mencegah daripada menunggu sampai ada korban. Jika upaya labelisasi itu tujuannya untuk mencegah terjadinya korban itu sangat baik," ungkapnya.

Menurut Sayid, BPOM pasti tidak bekerja sendiri. Berdasarkan informasi peneliti dari universitas-universitas negeri Indonesia mendukung pelabelan tersebut. "Itu langkah konkret sebagai tindakan perlindungan kesehatan pada masyarakat," tambahnya.

Dia menilai, masyarakat lebih suka  tindakan konkret untuk pelabelan tersebut. Tentu saja, langkah itu sudah dikaji dan dilakukan seminar berkali-kali melibatkan berbagai elemen yang terkait, utamanya para peneliti, tokoh agama, LSM dan lain-lain.

Baca juga : Legacy Pembangunan Jokowi Bantu Loncatan Jadi Negara Maju

"Soal bahaya BPA sudah kita dengar sejak 5 tahun silam ya. Hasil riset dunia kesehatan international, kajian para ahli Indonesia dan informasi tentang bahaya BPA sangat berlimpah. Benar juga, jangan sampai menunggu ada korban. BPOM sudah tepat melakukan tindakan preventif, agar tidak sampai jatuh korban," ucapnya.

Sayid menambahkan, di luar negeri, hampir semua kemasan sudah free BPA. "Pelarangan penggunaan BPA pada kemasan pangan dilakukan di Perancis, Brazil, Colombia dan negara bagian Vermont (Amerika Serikat). Sementara negara bagian California mencantumkan label bahaya BPA," terangnya.

Menurutmu, pelabelan BPA harus segera dilakukan. Jangan berlarut-larut. "Sudah bertahun-tahun diwacanakan tapi belum juga dilakukan. Jangan sampai menunggu jatuh korban," ucapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.