Dark/Light Mode

Bank Dunia Ternyata Masih Dukung Puluhan Proyek Batubara

Selasa, 10 Oktober 2023 17:22 WIB
Demonstrasi menolak pembangunan PLTU batubara. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Demonstrasi menolak pembangunan PLTU batubara. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penelitian terbaru menunjukkan, International Finance Corporation (IFC), bagian dari Bank Dunia, memberikan dukungan kepada 39 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara baru, dengan total kapasitas lebih dari 68 gigawatt di China, Indonesia, dan Kamboja.

IFC, lembaga pinjaman swasta dari Grup Bank Dunia, secara tidak langsung mendukung proyek batubara baru di seluruh Asia. Inclusive Development International, Recourse, dan Trend Asia membuat laporan mengenai hal ini dengan judul “Klaim Kosong: Bagaimana Pendanaan Batubara Menembus Celah Hukum Perjanjian Paris oleh IFC”.

Laporan ini diterbitkan Jumat (6/10) sebelum Pertemuan Tahunan Bank Dunia yang akan berlangsung di Marrakesh, pekan depan. “Kami menemukan bahwa IFC masih mendukung kapasitas batubara baru melalui investasinya di bank dan lembaga keuangan lainnya, terlepas dari komitmennya untuk menyelaraskan investasi tersebut dengan Perjanjian Paris,” ujar Direktur Eksekutif Inclusive Development International David Pred seperti keterangan yang diterima redaksi, Selasa (10/10).

Baca juga : Agar Bauran Energi Tercapai, Maksimalkan Penggunaan PLTS Atap

Menurutnya, pembiayaan itu bertolak belakang dengan pembangunan berkelanjutan yang ingin dipromosikan IFC. “Tentunya memiliki dampak yang sangat buruk bagi masyarakat yang terkena dampak batubara di seluruh Asia dan juga di penjuru dunia pada masa-masa iklim ekstrem seperti sekarang ini,” lanjutnya.

Sebuah pembangkit listrik tenaga batubara baru berkapasitas 700 megawatt yang direncanakan bernama Jambi 2 berlokasi di Jambi, merupakan salah satu proyek baru yang secara tidak langsung didukung IFC. Laporan baru ini berfokus pada Jambi 2 sebagai studi kasus tentang bagaimana pinjaman IFC mendukung pengembangan batubara baru dan dampaknya terhadap masyarakat setempat.

Menurut aktivis dan masyarakat setempat yang diwawancarai Inclusive Development International, Jambi 2 merupakan proyek yang tidak diinginkan ataupun dibutuhkan provinsi tersebut. Proyek ini dinilai akan memperparah dampak buruk dari pengembangan batubara di daerah tersebut, termasuk polusi udara, air, dan isu-isu kesehatan yang terkait. Namun, Postal Savings Bank of China, yang merupakan perantara IFC dan pemodal batubara utama di wilayah tersebut, telah memberikan utang kepada pengembang bernama China Huadian.

Baca juga : Pesan Marck Klok: Jangan Remehkan Brunei Darussalam

“Pengembangan batubara yang sedang berlangsung, termasuk PLTU Jambi 2, akan mempercepat perubahan iklim dan konsekuensi-konsekuensi bencana yang ditimbulkannya,” ujar juru kampanye energi Trend Asia Novita Indri.

Postal Savings Bank of China sejauh ini merupakan penyandang dana terbesar bagi para pengembang batubara dalam portofolio IFC. Menurut data yang dikumpulkan Inclusive Development International dan dipublikasikan bersama laporan terbaru ini, IFC membeli saham ekuitas senilai 300 juta dolar AS di Postal Savings Bank pada 2015 dan bank ini telah memberikan 418 miliar RMB atau senilai 57,3 miliar dolar AS dalam bentuk kredit tanpa syarat dan kredit proyek kepada perusahaan-perusahaan yang sedang membangun puluhan pembangkit listrik tenaga batubara di wilayah Asia.

Bank ini memberikan pinjaman ketika hampir sebagian besar industri keuangan mulai beralih dari batubara, yang mengimplikasikan keterlibatan IFC dan kelompok Bank Dunia sebagai pihak yang masih membiayai proyek batubara dan dampak-dampak buruknya bagi masyarakat dan juga terhadap iklim. Para penulis laporan menyerukan kepada IFC untuk memanfaatkan pengaruhnya sebagai pemegang saham utama untuk menghentikan Postal Savings Bank agar tidak lagi mendanai pengembangan batubara.

Baca juga : Dukungan Jadi Cawapres Terus Bermunculan, Gibran Masih Tahan Godaan

“Meskipun mereka sudah berkomitmen untuk beralih dari batubara di atas kertas, Grup Bank Dunia gagal untuk memastikan bahwa investasinya tidak mendukung proyek-proyek pembangkit listrik tenaga batubara yang menjadi kontributor signifikan terhadap perubahan iklim dan memicu dampak buruk bagi masyarakat," kata salah satu direktur Recourse Kate Geary.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.