Dark/Light Mode

Waspadai Pergerakan Dolar AS

Perbankan Masih Kokoh Hadapi Rontoknya Rupiah

Jumat, 3 November 2023 07:20 WIB
Direktur Whole­sale International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Silvano Winston Rumantir. (Foto: Ist)
Direktur Whole­sale International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Silvano Winston Rumantir. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berdampak terhadap kinerja industri perbankan. Meski begitu, imbasnya dipastikan tidak signifikan. Apalagi, perbankan di Tanah Air sudah siap hadapi pergolakan tersebut.

Mengacu pada data Bloomberg, Rabu, 1 November 2023, rupiah melemah 51 poin atau 0,32 persen menjadi Rp 15.935 per dolar AS. Sedangkan Kamis (2/11), kurs rupiah Jisdor menguat menjadi Rp 15.861 per dolar AS. Rupiah tengah mengalami tren pelemahan, bahkan nyaris mencapai level Rp 16.000 per dolar AS.

Baca juga : Maqdir Ismail: Penerapan Pidana Kasus Korupsi Harus Bijak

Menyoal ini, Direktur Whole­sale & International Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Silvano Rumantir mengaku, pihaknya terus memonitor berbagai ke­mungkinan dampak bagi bisnis bank, seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Tren pelemahan rupiah ter­jadi di tengah kondisi tingkat suku bunga di AS yang tinggi. Kemudian, terjadi pula rebalancing portofolio dolar AS di pasar.

Baca juga : Bantu Warga NTB, Relawan Sandi Gelar Bazar Sembako Murah Hanya Rp 5 Ribu

“Dampak nilai tukar rupiah terhadap dolar masih kami monitor. Tapi secara fundamental ekonomi kita solid. Likuiditas di perbankan juga terjaga dengan baik,” ujar Silvano kepa­da Rakyat Merdeka, kemarin.

Silvano menambahkan, tren pelemahan rupiah ke depan pastinya akan tetap mempengaruhi permintaan valuta asing (valas) di perbankan. Namun diakuinya, permintaan valas itu akan ada siklusnya.

Baca juga : Kasus Dugaan Pemerasan Diusut Polda, KPK Tetap Usut Korupsi Kementan

Saat ini dia melihat, likuiditas dolar AS masih tersedia, kendati lebih mahal. Dan ini bukan hal yang baru buat Indonesia, karena sebelumnya sudah pernah mengalaminya.

“Sudah sewajarnya, likuiditas dolar AS di market maupun rupiah kadang bergerak ketat, kadang longgar,” tuturnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.