Dark/Light Mode

Tambal Defisit, Pemerintah Tambah Surat Utang

Sabtu, 26 Oktober 2019 11:26 WIB
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman (Foto:Istimewa)
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman (Foto:Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah kembali memasarkan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua valuta asing (dual-currency) berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dan Euro. 

Nilainya masing-masing sebesar 1 miliar dolar AS untuk tenor 30 tahun dan 1 miliar Euro untuk tenor 12 tahun. 

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan, penerbitan ini jadi salah satu upaya pemerintah menambal potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019. Lucky memprediksi, memperkirakan defisit APBN bisa melebar di kisaran 2 hingga 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir 2019. 

Berita Terkait : Mahfud: Masjid Pemerintah Harus Sebarkan Kedamaian

Besaran angka tersebut, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 1,93 persen hingga akhir 2019. 

“Ini disebabkan penerimaan negara yang lebih rendah dibandingkan belanja negara. Ini juga efek kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian,” kata Luky di Gedung Kemenkeu, Jakarta, kemarin. 

Berdasarkan data terakhir yang dirilis Kemenkeu, defisit per akhir Agustus 2019 capai 1,24 persen, dan angka ini lebih lebar dari defisit APBN 2018 pada periode yang sama yaitu sebesar 1,02 persen. 

Berita Terkait : Umat Buddha Indonesia Kehilangan Bhiksu Tadisa Paramita

Dikatakan Luky, sebagai langkah antisipasi menambal defisit tersebut, pemerintah menerbitkan SUN yang sudah memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch. Transaksi kali ini merupakan penerbitan SUN dengan format SEC-Registered Shelf yang keempat kalinya untuk seri SUN valuta asing berdenominasi dolar AS (USD Bonds) dan yang ketiga kalinya untuk SUN valuta asing dengan mata uang Euro (Euro Bonds). 

Dikatakan Luky, penerbitan SUN dual-currency ini dilaksanakan pada momentum yang tepat dengan memanfaatkan kondisi pasar keuangan yang relatif stabil, menjaga kecukupan likuiditas dalam negeri, serta respon positif atas pelaksanaan pelantikan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. 

“Ini sebagai implementasi kebijakan counter-cyclical untuk merespon kondisi ekonomi domestik dan global, namun dengan tetap menjaga kinerja penerimaan dan kualitas belanja negara,” ujar Luky. 

Berita Terkait : Tak Masalah, Menteri Rangkap Jabatan Parpol

Diterangkannya, transaksi SUN dalam mata uang dolar AS bertenor 30 tahun kali ini menjadi penerbitan dengan yield dan spread terendah sepanjang sejarah penerbitan SUN dalam mata uang dolar AS untuk tenor 30 tahun. 

Yield terendah pada penerbitan sebelumnya terjadi pada bulan Desember 2017 dengan yield obligasi dolar AS jangka waktu 30 tahun sebesar 4,4 persen (UST+163,3 basispoin/bps). [NOV]