Dark/Light Mode

Menyelamatkan Bumi dengan PROSAPA Proteksi Pantai Sabut Kelapa

Senin, 22 April 2024 22:17 WIB
Abrasi pantai (Foto: Antara)
Abrasi pantai (Foto: Antara)

Indonesia merupakan negara maritim karena terdiri dari 70% lautan, 30% daratan dan memiliki kurang lebih 17.000 pulau dengan garis pantai lebih dari 99.000 km (Harti, dkk. 2022). Wilayah laut Indonesia yang luas membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki potensi besar di bidang kelautan, perikanan, dan pariwisata. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (Maulana, 8 Nopember 2021) pemerintah sudah menetapkan wisata bahari sebagai aset utama Indonesia karena negara kita mempunyai banyak sekali pantai yang cantik. Harapannya, semakin banyak pantai yang dapat dikelola dengan baik sehingga menambah daya tarik wisata sekaligus meningkatkan sumber perekonomian negara. Namun, aset tersebut tanpa disadari sudah mulai mengalami pengeroposan akibat berbagai gejala alam. Salah satu dari gejala alam yang sangat berperan dalam kerusakan pantai adalah perubahan iklim. 

Perubahan iklim yang melanda dunia saat ini bisa dibilang cukup parah dan tidak dapat diprediksi. Segala dampak yang selanjutnya disebut sebagai krisis iklim, mengakibatkan berbagai permasalahan bagi bumi termasuk pantai-pantai di Indonesia. Menurut Gramedia Literasi (2014), iklim yang tak menentu saat ini mengakibatkan naiknya permukaan air laut sehingga meredam daerah pesisir pantai. Abrasi adalah proses pengikisan pantai yang diakibatkan oleh tekanan gelombang laut dan arus laut yang merusak garis pantai, sehingga semakin menjorok ke arah daratan (Harti, dkk., 2022). Abrasi pantai yang terjadi terus menerus dapat mengurangi keindahan dari pantai itu sendiri karena kesimbangan alam menjadi rusak.

Selain mengurangi daya tarik wisata bahari, abrasi juga mengakibatkan beberapa kerugian diantaranya sebagai berikut (dalam Mawardi, 16 Juni 2022). 1) Terganggunya habitat flora dan fauna, dimana abrasi membuat flora dan fauna pesisir kehilangan tempat tinggalnya. Misalnya fauna laut ikan jenis tertentu. Ketika ikan-ikan berpindah tempat mereka belum tentu dapat beradaptasi dengan habitat baru. Hal ini dapat mengakibatkan kematian dan merusak ekosistem laut. 2) Berkurangnya sumber daya alam, abrasi mengakibatkan pengurangan air, pasir dan sedimen yang dapat mempengaruhi aktivitas pertanian,perikanan dan juga industri. 3) Merusak hutan bakau dan tumbuhan pesisir. Apabila tumbuhan ini sudah tidak ada lagi maka tidak ada yang dapat menahan air saat abrasi terus terjadi. 

Baca juga : Menegakkan Keadilan Dalam Perspektif Ideologi Pancasila

Melihat bahaya yang dapat diakibatkan dari abrasi, maka sudah sepatutnya dilakukan berbagai upaya untuk mencegah abrasi khususnya oleh masyaarakat dan pemerintah di daerah pesisir. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membuat PROSAPA. PROSAPA adalah sebuah akronim dari Proteksi Pantai Sabut Kelapa.  Gagasan ini bermaksud mengolah sabut kelapa sebagai bahan utama untuk membuat tembok di batas pantai untuk mencegah abrasi. Gagasan ini terinspirasi dari tindakan konservatif yang telah dilakukan peneliti dari Program Study Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (Susanna Nurdjaman dkk. dalam Moharom 6 September 2019)menggunakan sabut kelapa sebagai bahan alternatif untuk membuat tembok laut di pantai Jawa Barat. Sabut kelapa dapat dibentuk seperti tanggul untuk memagari garis pantai. 

Sabut kelapa merupakan limbah organik yang keberadaaannya melimpah di Indonesia. Berdasarkan data dari e-smartschool (dalam Indahyani, 2011) setiap butir kelapa mengandung serat 525 gram (75% dari sabut), dan gabus 175 gram (25% dari sabut). Dengan produksi buah kelapa Indonesia rata-rata 15,5 milyar butir/tahun atau setara dengan 1,8 juta ton serat sabut, dan 3,3 juta ton debu sabut (Agustian, et al., 2003; Allorerung & Lay, 1998; Anonim, 2000; Nur, et al., 2003; APCC, 2003) maka cukup banyak material yang tersedia. Menurut Choir Institute, kelebihan serat sabut kelapa antara lain anti ngengat, tahan terhadap jamur dan membusuk, memberikan insulasi yang sangat baik terhadap suhu dan suara, tidak mudah terbakar, flame-retardant, tidak terkena oleh kelembaban, alot dan tahan lama, resilient, mata kembali ke bentuk konstan bahkan setelah digunakan, totally statis, mudah dibersihkan serta mampu menampung air 3x dari beratnya. Sabut 15 kali lebih lama daripada kapas untuk rusak dan 7 kali lebih lama dari rami untuk rusak sedangkan kabut Geotextiles adalah 100% bio-degradable dan ramah lingkungan (Indahyani, 2011). 

Meskipun manfaatnya sebagai penangkal abrasi belum banyak diketahui di Indonesia, bahan berbasis sabut kelapa sebenarnya sudah digunakan di beberapa negara untuk proyek pengendalian erosi. Contohnya seperti di Boston, Massachusetts, di mana sabut kelapa digunakan bersamaan dengan serpihan kayu dan bahan lain untuk membuat tikar apung untuk menumpulkan kekuatan ombak dan mendorong pertumbuhan vegetasi air (Subekti, 2023). Selain untuk menahan gelombang laut, sabuk hijau dari sabut kelapa ini  juga bermanfaat sebagai pengendali erosi pada tebing atau lereng. Sabut ini dapat menahan kelembapan tanah dan mencegah terjadinya drainase yang terlalu cepat, sehingga tanah tidak mengering sepenuhnya. 

Melihat keberhasilan yang telah terjadi di negara lain dan menimbang keberadaan sabut kelapa yang melimpah, maka pengggunaan sabut kelapa sebagai penjaga pantai selayaknya dapat diadaptasi di banyak wilayah di Indonesia. Selain dibentuk sebagai tanggul hijau, untuk proses yang lebih kompleks sabut kelapa dapat dijadikan bahan pencampur untuk membuat pagar yang lebih kuat misalnya beton. Menurut penelitian Zai dkk., (2022), serabut kelapa teruji digunakan sebagai bahan penganti sebagian dari semen pada campuran beton normal. Dalam penelitian tersebut dilakukan pengujian kuat tekan beton selama 28 hari dengan empat variasi campuran sabut kelapa. Pada beton normal tanpa serabut kelapa kuat  tekan sebesar 22,24 MPa, sedangkan beton dengan serabut kelapa variasi terbesar atau 0,45% menunjukkan keberhasilan pengujian tekanan sebesar 19,89 MPa atau penurunan kekuatan tekanan beton hanya sebesar 6,33% dari normal. Dapat disimpulkan bahwa dengan bantuan limbah sabut kelapa, beton yang dihasilkan dapat menjadi lebih murah dengan kekuatan tekan yang masih cukup kuat. Hal ini semakin mendukung sabut kelapa sebagai proteksi pantai di daerah pesisir. 

Baca juga : Demokrasi Mengamanatkan Nilai-nilai Pancasila

Seperti yang kita ketahui saat ini, bahwa iklim di Indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis. Maka demi menghindari efek jangka panjang dari abrasi, sudah sepatutnya masyarakat pesisir dan pemerintah setempat melirik potensi sabut kelapa sebagai PROSAPA. Diperlukan pula peran para relawan muda yang berani menginisiasi ide-ide ke dalam tindakan yang preventif demi konservasi alam.  Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memulai dari hal kecil dan ramah lingkungan yaitu dengan mempelajari, mendiskusikan, mengkampanyekan dan mengadaptasi metode PROSAPA di pantai sekitar kita. Dengan demikian, gerakan PROSAPA dapat menjadi alternatif yang efektif dan berkelanjutan. Ini akan menjadi langkah kecil untuk persiapan menghadapai krisis iklim yang akan terus berlanjut di masa depan. Hal kecil yang kita lakukan saat ini pastilah akan memberikan berdampak besar dikemudian hari. Jagalah bumi kita maka dia akan menjagamu !

DAFTAR PUSTAKA 

Harti, Dwi. dkk. 2022. Proyek IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial). Jakarta : Erlangga.

Baca juga : Silaturahmi Jokowi-Mega, PROJO: Tidak Perlu Pakai Syarat

 Indahyani, T. (1 April 2011). Pemanfaatan Limbah Sabut Kelapa Pada Perencanaan Interior Dan Furniture Yang Berdampak Pada Pemberdayaan Masyarakat Miskin. Journal Humaniora 2 (1), 15 – 23. 

Maulana, A. (8 Nopember 2021). Indonesia Bisa Kelola Lebih Banyak Sektor Pariwisata Bahari. Berita Harian Universitas Padjajaran. Dikutip dari https://www.unpad.ac.id/2021/08/indonesia-bisa-kelola-lebih-banyak-sektor-pariwisata-bahari/

Zai, E. O., Simanjuntak, J. O., dan Hutagalung, E.P. (2 Mei 2022). PENGARUH PENAMBAHAN SERAT SERABUT KELAPA TERHADAP KUAT TEKAN BETON. Jurnal Teknik Sipil 1 (2), 1 – 14. .

Ni Komang Intan Kesya Junita
Ni Komang Intan Kesya Junita
Siswi SMK N 1 KUBU, Pecinta wisata bahari

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.