Dark/Light Mode

Ini Saran Ekonom Indef Antisipasi Dampak Perang Iran-Israel

Sabtu, 20 April 2024 21:46 WIB
Diskusi Indef. (Foto: Ist)
Diskusi Indef. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Eskalasi konflik yang meningkat di Timur Tengah dan terus berlangsungnya perang Rusia-Ukraina akan membawa dampak ikutan pada naiknya harga-harga komoditas dan energi di pasar global.

“Indonesia akan terkena impact-nya,” ujar Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti dalam diskusi Indef Kebijakan dan Nasib Ekonomi di Tengah Ketegangan Perang Global, yang digelar Sabtu (20/4/2024).

Hadir juga sebagai pembicara Kepala Center of Digital Economy and SMEs Indef, Eisha Maghfiruha dan Associate Indef /Dosen Universitas Bakrie, Asmiati Malik.

Menurut dia, kenaikan harga minyak yang tinggi akan berpengaruh pada asumsi makro ekonomi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Diperkirakan APBN akan defisit 2-3 persen.

Baca juga : Gibran: Kompetisi Selesai, Waktunya Bergandengan

“Jika kita tidak bisa memanage anggaran APBN, maka ruang fiskal kita akan jauh lebih kecil lagi. Sehingga pemerintah perlu melihat lagi berbagai anggaran belanja agar lebih efektif dan produktif, tidak hanya konsumtif seperti makan siang gratis,” katanya.

Dia menyarankan, agar belanja negara diarahkan untuk menungkatkan pendapatan secara positif, dan berdampak jangka panjang. Dengan demikian jaminan pertumbuhan ekonomi domestik akan lebih menjadi lebih baik dalam jangka panjang.

Menurut dia, untuk mengatasi dampak konflik global, fundamental ekonomi dalam negeri harus terus menguat. “Tingkatkan devisa dan ekspor dari sektor pariwisata, pendapatan ekspor, nonmigas, dan kurangi ketergantungan dari pihak luar. Fundamental kuat, akan mampu mengatasi shock dari pengaruh luar,” tukasnya.

Kepala Center of Digital Economy and SMEs IndefE, isha Maghfiruha mengatakan, serangan balik Israel ke Iran meningkatkan eskalasi konflik Timur Tengah akan meningkatkan banyak tantangan global, sehingga perlu perhatian khusus para ekonom. “Butuh mitigasi untuk memastikan stabilitas makro ekonomi,” katanya.

Baca juga : BUMN Kudu Gercep Hadapi Dampak Konflik Iran-Israel

Menurut dia, yang harus diutamakan adalah menjaga stabilitas daya beli masyarakat dan melindungi golongan bawah dan rentan. Untuk menjaga daya beli agar tidak turun, pemerintah perlu mengendalikan harga-harga atau menjaga inflasi. “BI dan pemerintah harus berperan penting menjaga dari sisi moneter,” katanya.

Di sektor industri, eskalasi konflik akan berpengaruh pada naiknya harga-harga dan biaya produksi akibat kelangkaan input. terutama imported inputs. Dibutuhkan kebijakan industri yang tepat untuk mendukung produktivitas industri. terutama industri prioritas nasional dan industri kecil menengah.

“Kebijakan foreign trader perlu ditujukan ke kawasan yang tidak terpengaruh konflik mis. Jepang, china, Asean, India.dan juga negara tujuan non tradisional,” katanya.

Associate INDEF /Dosen Universitas Bakrie, Asmiati Malik mengatakan, potensi besar ketegangan politik di Timur Tengah akan berlanjut sepanjang tidak ada perubahan kebijakan politik AS dan NATO.

Baca juga : Jokowi Taruh Harapan Ke China

“Perekonomian Indonesia akan terus terdampak signifikan dari besaran komponen ekspor, impor, investasi PMA dan komponen biaya high cost economy goods, and energy, serta logistic cost. Akan dua kali lebih besar dari biaya rata-rata global,” ujarnya.

Solusinya, kata dia, diversifikasi tujuan dan jenis ekspor, begitu juga dengan impor barang terutama untuk kebutuhan industri dalam negeri. “Penguatan sektor pertanian dan perikanan amat perlu sebagai trade off energy dalam jangka pendek,” katanya.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.