Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
WhatsApp Dalam Ancaman Perusahaan Teknologi Israel
Minggu, 10 November 2019 06:37 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anak usaha Facebook, WhatsApp dikabarkan sedang dalam ancaman perusahaan teknologi mata-mata asal Israel, NSO Group. Namun saat dikonfirmasi, pihak WhatsApp belum bisa memberikan keterangan lebih detail.
Direktur Kebijakan WhatsApp Asia Pasifik, Clair Deevy mengakui memang ada beberapa pengguna WhatsApp di beberapa negara yang terkena peretasan oleh NSO Group.
Ketika disinggung apakah ada pengguna WhatsApp di Indonesia yang kena peretasan, pihak WhatsApp menjawab secara diplomatis.
Deevy menegaskan, WhatsApp akan mengambil langkah hukum untuk menghadapi perusahaan NSO Group.
“Kami ingin sampaikan bahwa kami sedang memasukkan tuntutan terhadap NSO Group di Amerika Serikat,” kata Deevy di Jakarta, kemarin.
Facebook Inc nampak belum berani memberikan keterangan lebih detail mengenai kasus peretasan WhatsApp di Indonesia. Entah pertimbangan apa yang jelas pihaknya mengaku berkomitmen untuk menjaga privasi setiap pengguna, tak terkecuali pengguna WhatsApp di Indonesia.
“Hanya itu yang bisa kami sampaikan. Kami belum bisa memberikan penjelasan secara rinci,” katanya.
Baca juga : LKPP Ajak Lembaga Dan Kementerian Manfaatkan Teknologi Digital
Menurut dia, pihak WhatsApp belum bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan Indonesia. Terutama informasi detail tentang kasus peretasan karena pihaknya masih dalam proses memasukan tuntutan hukum di AS, yang mereka sebut komitmen untuk melindungi privasi pengguna.
“Kami menghormati privasi setiap orang di seluruh dunia,” katanya.
Deevy mengatakan, WhatsApp tak ingin para penggunanya mengalami masalah data. Kasus peretasan bukan hal sepele, makanya mereka langsung menuntut NSO Group sebagai pembuat spyware Pegasus.
Langkah WhatsApp dilakukan pada akhir bulan Oktober lalu, WhatsApp melayangkan gugatan terhadap NSO Group di pengadilan Amerika Serikat.
Proses hukum tersebut saat ini masih berlangsung. Dalam gugatannya, WhatsApp mengatakan bahwa NSO Group membangun malware mereka untuk mengakses pesan dan komunikasi lain setelah dienkripsi. Spyware merupakan perangkat pengintai di dunia maya.
Spyware Pegasus merupakan spyware buatan NSO Group. Spyware ini disebut bisa meretas ponsel melalui WhatsApp dan telah menyerang 1.400 pengguna WhatsApp secara global. Spyware Pegasus bisa memonitor 500 smartphone dalam setahun.
Korban Pegasus terdiri dari dari pengacara, jurnalis, aktivis HAM, diplomat hingga pejabat senior pemerintah asing. Pegasus masuk ke WhatsApp melalui fitur panggilan.
Baca juga : Menristek Minta Pengusaha Terapkan Teknologi Di Sektor Pertanian
Dari sana spyware itu bisa mengambil alih sistem operasi Android atau pun iOS. WhatsApp mencatat, Pegasus sudah masuk ke sistem mereka pada awal Mei ini. Saat itu, platform milik Facebook itu belum bisa memastikan berapa jumlah perangkat yang terdampak.
Bahayanya spyware ini punya target khusus yaitu menyasar para aktivis, politisi, jurnalis, pengacara, akademisi dan pembela komunitas Dalit.
Dari informasi Reuters, peretasan ini berdampak pada 1.400 pengguna di berbagai negara, antara lain AS, Bahrain, Uni Emirat Arab, India, Pakistan dan Meksiko. Peretasan ini diduga menargetkan pejabat senior pemerintahan.
India menyatakan korban peretasan di negara mereka adalah jurnalis, Sejumlah media memberitakan peretas menggunakan nomor asal Indonesia untuk melancarkan kasus ini.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate berusaha meyakinkan masyarakat untuk tidak panik terhadap kondisi ini.
Menurut dia sekarang ini belum ada dampak spyware Pegasus di Indonesia. Kendati demikian, Kominfo masih akan melakukan monitoring lebih lanjut terkait serangan spyware Pegasus.
“Sebentar lagi saya akan mengadakan pertemuan dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN),” ujar Johnny.
Baca juga : Malam Ini, Luhut Panjaitan Merapat ke Istana
Dia juga mengatakan pengguna Indonesia tidak terkena dampak. Sejauh ini korban masih dari negara lain. Sehingga diyakini bahwa tak akan ada dampak kepada pengguna WhatsApp di Indonesia.
“Not yet. Tidak ada impact. Untungnya di Indonesia tidak ada,” tegasnya.
Johnny mengimbau masyarakat untuk rutin memperbarui aplikasi yang digunakan untuk mencegah spyware dan sejenisnya.
Sebelumnya dilaporkan bahwa perusahaan siber Israel, NSO Group, telah memasang peranti mata-mata dalam WhatsApp untuk mencuri data milik sejumlah orang, seperti jurnalis, aktivis, dan pejabat di beberapa negara di dunia. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya