Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Per 12 Mei 2024 Realisasi KUR Baru 32,56 Persen, Kemenkop UKM Genjot Lewat 3 Terobosan
Jumat, 17 Mei 2024 16:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menyebut, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) per Mei 2024 mencapai Rp 97,70 triliun kepqda 1,67 juta debitur atau sebesar 32,56 persen dari total target penyaluran KUR Pemerintah di tahun ini sebesar Rp 300 triliun.
Realisasi penyaluran KUR sebesar Rp 97,70 triliun telah tersalurkan kepada 1,67 juta debitur tersebut, terdiri dari KUR supermikro sebanyak 52,693 ribu debitur, KUR Mikro sebesar 1,4 juta debitur, KUR Kecil mencapai 127,923 debitur dan KUR TKI sebanyak 352 debitur.
Tak jauh berbeda, bahkan tahun lalu penyaluran KUR hanya sebesar Rp 260,26 triliun dari target Rp 297 triliun alias tak tercapai target.
Baca juga : Survei IPE: Elektabilitas Ganjar-Mahfud 35,4 Persen, Kalahkan Prabowo-Gibran
Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kemenkop UKM Riza Damanik mengatakan, akibat penyaluran KUR tahun lalu yang juga tak mencapai target, pihaknya sudah jauh-jauh mengantisipasi.Bahkan Riza menyebut, hal tersebut adanya gejala stagnansi.
“Maka, perlu dilakukan terobosan-terobosan. Baik itu terkait agunan agar semakin dimudahkan, dan jumlah debitur yang kecil-kecil atau perorangan harus terintegrasi dalam jumlah signifikan,” katanya dalam acara Orientasi Jurnalis Kemenkop UKM di Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/5/2024).
Riza melanjutkan, setidaknya ada tiga hal terobosan yang dilakukan. Pertama, Kemenkop UKM mendorong adanya credit scoring.
Baca juga : ICEF 2023 Dorong Optimalisasi Belanja Pemerintah Lewat Toko Daring
“Ini yang sedang kita bicarakan. Bagaimana integrasi credit scoring ke dalam pelaku UMKM, agar bisa mendapatkan akses pembiayaan yang lebih mudah. Namun ini masih dijajaki, masih dalam proses, semoga nanti bisa menjadi salah satu pendorong,” harap Riza.
Kedua, sambung Riza adalah, melakukan pendekatan KUR Klaster. Saat ini, sudah ada sekitar 39 klaster yang dikembangkan dalam inisiatif.
“Dulu belum ada KUR Klaster, sekarang sudah ada. Misalnya, ada klaster oleh-oleh, maka klaster oleh-oleh ini menjadi satu bagian dari pembiayaan murah, sehingga nanti engagement-nya jauh lebih besar dari pada per orang,” jelas Riza.
Baca juga : DKI Pugar Dan Percantik Lima Pasar Tradisional
Ketiga, adalah dengan metode hybrid. Dalam pengembangan khususnya terkait dengan korporatisasi petani dan nelayan. Ambil contoh misalnya apa yang dilakukan di koperasi Al-Itifaq di Ciwidey, Bandung memiliki anggotanya para petani yang memiliki lahan-lahan kecil.
“Maka di saat yang sama, si petani-petani ini sudah kesulitan mendapatkan akses kebiayaan sebelum-sebelumnya. Lalu kita mengubahnya menjadi model hybrid.
Koperasinya menjadi agregator memastikan seluruh hasil petani yang dibeli, sehingga ekosistem telah terbentuk. Kemudian koperasi memberikan pembiayaan melalui KUR Klaster atau pembiayaan bergulir,” terang Riza.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya