Dark/Light Mode

SNLIK OJK-BPS 2024

Indeks Inklusi Keuangan Lebih Tinggi Dibanding Literasi Keuangan

Jumat, 2 Agustus 2024 12:47 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Plt Kepala BPS Amalia Adaninggar Widyasanti dalam konferensi pers survei SLINK OJK-BPS 2024 di Jakarta, Jumat (2/8/2024). (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Plt Kepala BPS Amalia Adaninggar Widyasanti dalam konferensi pers survei SLINK OJK-BPS 2024 di Jakarta, Jumat (2/8/2024). (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia tahun 2023 berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS), dilaporkan mencapai 65,43 persen.

Sementara indeks inklusi keuangan ada di angka 75,02 persen.

Penghitungan indeks inklusi keuangan dari SNLIK tahun 2024 diperoleh melalui penggunaan produk/layanan jasa keuangan (LJK).

 

Baca juga : Indeks Kemitraan Polda DIY Tertinggi se-Indonesia


"Jadi 65,43 persen dari populasi Indonesia memenuhi kriteria well literate dan 75,2 persen dari masyarakat Indonesia menggunakan, memiliki akses terhadap produk dan jasa layanan keuangan,” kata Plt Kepala BPS Amalia Adaninggar Widyasanti dalam konferensi pers bersama Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi di Jakarta, Jumat (2/8/2024).

Amalia menjelaskan, kriteria well literate tercapai apabila seseorang memenuhi lima kriteria: pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku.

Dalam SNLIK 2024, indeks literasi keuangan pada produk konvensional dilaporkan lebih tinggi dibanding indeks literasi keuangan syariah. Konvensional ada di angka 65,43 persen, syariah 39,11 persen.

Begitu juga indeks inklusi keuangan. Lebih tinggi pada produk konvensional, ketimbang syariah. Indeks inklusi keuangan konvensional ada di angka 73,85 persen. Sedangkan indeks inklusi keuangan syariah 12,88 persen.

Baca juga : Persija Imbangi Singo Edan, Madura United Menang

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2024 yang dijalankan pada periode 9 Januari 2024 sampai 5 Februari 2024, dilakukan di 34 provinsi mencakup 120 kabupaten/kota. Termasuk, delapan wilayah kantor regional atau kantor OJK di wilayah tersebut.

Survei ini melibatkan 10.800 responden usia 15-79 tahun, dengan response rate 98,98 persen.

Tidak Dapat Dibandingkan

Amalia menjelaskan, indeks literasi dan inklusi keuangan hasil SNLIK tahun 2024 tidak dapat dibandingkan secara langsung terhadap indeks literasi dan inklusi keuangan hasil SNLIK tahun 2022 karena memiliki perbedaan metodologi sampling.

Metodologi sampling SNLIK tahun 2022 adalah purposive sampling dan simple random sampling.

Baca juga : Sering Delay, Pengamat Maklumi Penerbangan Haji Lebih Kompleks Dibanding Reguler

Metode ini menghasilkan sampel responden yang cenderung (bias) ke perkotaan dan kelompok masyarakat berpendidikan tinggi, yang secara umum memilki tingkat literasi dan inklusi keuangan lebih tinggi dibanding kelompok masyarakat di perdesaan dan berpendidikan relatif rendah.

Sedangkan SNLIK tahun 2024 menggunakan metodologi stratified multistage cluster sampling.

“Metode ini menghasilkan sampel responden yang lebih mewakili profil populasi masyarakat Indonesia,” terang Amalia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.