Dark/Light Mode

Belantara Foundation Ajak Mitra Jepang Tanam Pohon Di Hutan Sultan Syarif Hasyim

Jumat, 23 Agustus 2024 21:00 WIB
Penanaman pohon di Sultan Syarif Hasyim. (Foto: Ist)
Penanaman pohon di Sultan Syarif Hasyim. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Belantara Foundation bekerja sama dengan Kesatuan Pengelola Hutan Produksi (KPHP) Minas Tahura dan Kelompok Tani Hutan Sultan Syarif Hasyim (KTH SSH) mengajak mitra sektor swasta Jepang, yaitu Vanfu melakukan penanaman bibit pohon secara simbolis di Kawasan Tahura SSH, Provinsi Riau.

Penanaman simbolis yang didukung oleh APP Japan Ltd. (APP Group), secara khusus diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati pada 10 Agustus setiap tahunnya. Jenis bibit pohon yang digunakan adalah balangeran (Shorea balangeran). Jenis tersebut termasuk dalam kategori pohon langka yang perlu dilestarikan. 

Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) dari Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menerbitkan Laporan Sintesis atas Laporan Penilaian Keenam mengenai situasi iklim terkini pada tahun 2023. Dalam laporan tersebut memperingatkan bahwa pemanasan global di abad ini telah mencapai 1,1 derajat celcius dan akan melampaui batas 1,5 derajat celcius jika tidak ada penurunan drastis pada emisi gas rumah kaca (GRK). Bagi banyak negara, perubahan iklim telah terlihat dan seringkali melanda masyarakat yang paling rentan.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat di seluruh dunia semakin khawatir dengan dampak perubahan iklim. Akan tetapi, penyebaran pengetahuan tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim yang tidak merata telah menghambat beberapa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 

Baca juga : Kepala BSNPG Harap Pokja, Badan dan Lembaga Jadi Tumpuan Golkar Hadapi Pemilu

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dr. Dolly Priatna mengatakan, saat ini dunia sedang menghadapi krisis lingkungan yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yang meliputi perubahan iklim, polusi dan ancaman kehilangan keanekaragaman hayati. Perubahan iklim merupakan salah satu penyebab kehilangan keanekaragaman hayati yang telah menjadi perhatian global. 

Menurut dia, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan aksi penting yang harus segera dilakukan. Salah satu aksi kecil tapi memiliki dampak yang besar bagi iklim yaitu menanam dan merawat pohon.

“Sesuai dengan misi dari UNSDGs yaitu No one left behind dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, kami menggunakan pendekatan kolaborasi multipihak, salah satunya dengan mengajak mitra sektor swasta dari Jepang untuk berkontribusi pada pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia khususnya Pulau Sumatera,” kata Dolly yang juga sebagai pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

Chief Executive Officer Vanfu, Takayuki Suto menuturkan, sebagai individu, secara pribadi ingin melihat permasalahan lingkungan dapat ditangani dengan baik salah satunya dengan cara menanam dan merawat pohon, sehingga generasi yang akan datang dapat menikmati kehidupan di alam yang lebih lestari dan berkelanjutan.

Baca juga : Dubes RI Untuk Kenya Mohamad Hery Saripudin Tanam Pohon Di Hutan Terbesar Di Nairobi

“Kegiatan penanaman pohon kali ini yang dilakukan bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan lainnya memberikan kesan dan pembelajaran tersendiri yang amat mendalam sehingga Vanfu akan selalu berupaya untuk mendukung gerakan penanaman pohon ini secara berkelanjutan,” ujar Suto.

Representative Director APPJ, Tan Ui Sian mengatakan,  setelah menjalankan program Forest Restoration Project: SDGs Together bersama APP Group dan Belantara Foundation sejak pertengahan tahun 2020, tingkat kesadaran (awareness) multi-stakeholders di Jepang sudah meningkat tajam, apalagi dengan melihat dampak yang sangat mengkhawatirkan akibat dari perubahan iklim ini. 

Lebih lanjut, Tan menjelaskan,  pihaknya akan lebih gencar mengajak multi-stakeholders di Jepang untuk berpartisipasi dan mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together ini. 

Kerja sama program dengan KPHP Minas Tahura telah memasuki tahap ke-4 dan telah memberikan nilai tambah lebih besar bagi perseroan untuk mengembangkan program dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di Jepang. “Kami berharap dapat mengajak multi-stakeholders dari mancanegara lebih luas untuk mendukung program Forest Restoration Project: SDGs Together”, tandas Tan.

Baca juga : 15 Tersangka Pungli Di Rutan KPK Segera Diadili

Kepala KPHP Minas Tahura, Sri Wilda Hasibuan menuturkan, kawasan Tahura SSH merupakan kawasan konservasi alam yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1999. Tahura SSH memiliki luas lebih dari 6.000 hektar. Sayangnya saat ini sebagian besar wilayah tersebut telah mengalami deforestasi dan degradasi akibat aktivitas ilegal seperti perambahan lahan, pembalakan liar dan lain sebagainya.

“Kami terus menjaga dan memulihkan fungsi kawasan Tahura SSH melalui kegiatan perlindungan dan restorasi hutan,” ujarnya.

Menurut dia, upaya ini tentunya tidak bisa dilakukan sendiri, tapi perlu adanya kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak. Misalnya saja program yang digagas bersama Belantara Foundation dan pemangku kepentingan di Jepang pada pertengahan 2022 lalu, yaitu Forest Restoration Project: SDGs Together, yang berupaya memulihkan kawasan hutan yang terdegradasi agar ekosistem hutan dapat berkontribusi untuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim serta mendukung pemenuhan Nationally Determined Contribution (NDC) Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi karbon di Provinsi Riau

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.