Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Neraca Perdagangan Tak Boleh Loyo, Pertamina Kuatkan Strategi Substitusi BBM Dengan Biofuel
Rabu, 27 November 2019 09:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero), badan usaha milik negara di sektor energi terintegrasi, memiliki peran besar untuk mewujudkan target pemerintah dalam menguatkan neraca perdagangan. Melalui strategi subsitusi bahan bakar minyak (BBM) dengan biofuel.
Selain akan menerapkan mandatori biodiesel 30 persen atau B30 pada Januari 2020, pemerintah melalui Pertamina juga akan terus mengembangkan penggunaan green diesel.
"Pertamina berperan besar dalam memproses green diesel, karena kilang untuk mengolahnya milik Pertamina,” kata Haryanto, Direktur Konservasi Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat berbicara dalam Panel II Pertamina Energy Forum 2019 bertema “Road Toward Green Energy” di Jakarta, Selasa (26/11).
Baca juga : Pertamina Pastikan Pasokan BBM dan LPG di Kalimantan Aman Terkendali
Pertamina berhasil melakukan uji coba pengembangan green fuel di Kilang Plaju dan Dumai secara co-processing, yaitu bahan baku nabati dicampur dengan bahan baku fosil. Diolah bersama-sama untuk menghasilkan green gasoline dan green diesel. Sementara Kilang Plaju memproduksi green gasoline, dan Kilang Dumai memproduksi green diesel.
Ke depan, Pertamina juga akan membangun green refinery baru yang akan mampu mengolah 100 persen bahan baku nabati - tanpa campuran bahan bakar diesel - untuk menjadi green diesel.
"Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menguatkan neraca perdagangan adalah mencari alternatif pengganti atau subsitusi BBM, yakni dengan mengembangkan biodiesel. Karena itu, kita jalankan program B20 dan B30. Sebanyak 30 persen BBM disubstitusi dengan biodiesel, yang menggunakan bahan baku dari minyak sawit (CPO). Bahan bakar fosil kita gantikan dengan biodiesel,” jelas Hariyanto.
Baca juga : Kadin Lakukan Pendekatan Intensif Dengan Pengusaha Prancis
Menurutnya, konsumsi BBM terbesar berasal dari sektor transportasi, yaitu bensin dan solar. Untuk mengurangi penggunaan dua bahan bakar tersebut, pemerintah mendorong penggunaan biofuel, untuk mensubstitusi solar digunakan biodiesel. Sedangkan untuk bensin, dikembangkan bioetanol.
Soal ini, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial menjelaskan, substitusi minyak dengan bahan bakar berbasis CPO merupakan program pemerintah untuk mengurangi impor BBM.
“Semua masuk dalam program pengurangan impor. Kita sudah memiliki sejumlah kota untuk menjadi pilot project penggunaan bahan bakar berbasis CPO,” kata Ego.
Baca juga : Terapkan Kartu Kendali, Pertamina Pastikan Biosolar Mencukupi
Sementara Managing Director Axens Regional Operation Center, Mai Phuang Do mengatakan, keberhasilan pengembangan energi baru terbarukan membutuhkan peran serta semua pihak.
“Penerapan green energy sangat bergantung pada kemauan pemerintah dan masyarakat,” kata Mai. [HES]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya