Dark/Light Mode

Di Tengah Krisis Global

Bersyukur, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dijaga 5 %

Kamis, 29 Agustus 2024 07:05 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia patut bersyukur bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen di tengah krisis ekonomi global. Tapi, kondisi itu bukan satu-satunya faktor untuk mencapai Indonesia maju

Menteri Keuangan (Men­keu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, tantangan Indone­sia mencapai negara maju dan Indonesia Emas 2045 semakin berat karena faktor eksternal.

“Ini pertumbuhan ekonomi 5 persen yang tidak biasa. Environment global tekanannya luar biasa besar, seperti perang, inflasi tinggi, suku bunga tinggi, global growth melemah dan ter­jadinya protectionism,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/8/2024).

Bendahara Negara ini mengatakan, jika dilihat dari environ­ment yang sangat menekan, banyak negara mengalami pelemahan ekonomi, bahkan masuk resesi.

“Ekonomi Indonesia bisa tum­buh 5 persen, berarti kita harus menjaga resep untuk menyeim­bangkan domestic demand, yak­ni dengan memanfaatkan global environment,” jelasnya.

Baca juga : Jamkrindo Bantu UMKM Lebih Mudah Raih Modal

Menurut Sri Mulyani, jika per­tumbuhan ekonomi Indonesia ingin mencapai di atas 5 persen, instrumennya bukan pada stimu­lus fiskal moneter, melainkan harus melalui kebijakan struk­tural dan produktivitas.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid optimistis Indone­sia di bawah kepemimpinan pre­siden terpilih Prabowo Subianto dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan meleng­gang menjadi negara maju.

Optimisme tersebut didasar­kan pada Indonesia memiliki potensi ekonomi, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dapat diman­faatkan optimal.

“Memang tidak gampang menggenjot pertumbuhan eko­nomi 8 persen. Tapi kita harus dukung pemerintahan terpilih. Kalau presiden terpilih sukses, bangsa ini juga akan sukses,” kata Arsjad.

Karena itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, menurut Arsjad, perlu adanya kebijakan yang jelas, tegas dan atraktif terhadap sumber daya alam Indonesia.

Baca juga : Awas, Suhu Panas Bikin Sakit & Rawan Kebakaran

Hal itu akan mendorong datangnya investor untuk berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Indonesia hanya mampu membiayai 3,5 hingga 4 persen dari kebutuhan pendanaan untuk pertumbuhan ekonomi tersebut.

“Tentu saja kebijakan yang diharapkan adalah yang ber­orientasi pada pasar. Tanpa itu, kebijakan ekonomi tidak akan efektif,” ingatnya.

Selain kebijakan, menurut Arsjad, perlu penyelarasan an­tara pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Hal ini penting agar investor yang datang ke Indonesia tidak kapok karena berhadapan dengan kebijakan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya.

Bos Indika Energy Tbk ini juga menyoroti bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini. Menurut dia, bonus demografi bisa menjadi berkah, atau bisa juga sebaliknya.

Agar bonus demografi men­jadi berkah, perlu langkah menyeluruh terkait penyediaan lapangan pekerjaan dan penaja­man skill sesuai yang dibutuhkan dunia usaha.

Baca juga : Amerika Dan Indonesia Tunjukin Kemesraan

Selain itu, lanjut Arsjad, Usa­ha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Selama ini UMKM berkon­tribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indone­sia, membuka lapangan peker­jaan dan berperan dalam pemu­lihan ekonomi pasca pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.