Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Tengah Krisis Global
Bersyukur, Pertumbuhan Ekonomi Bisa Dijaga 5 %
Kamis, 29 Agustus 2024 07:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia patut bersyukur bisa menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 persen di tengah krisis ekonomi global. Tapi, kondisi itu bukan satu-satunya faktor untuk mencapai Indonesia maju
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, tantangan Indonesia mencapai negara maju dan Indonesia Emas 2045 semakin berat karena faktor eksternal.
“Ini pertumbuhan ekonomi 5 persen yang tidak biasa. Environment global tekanannya luar biasa besar, seperti perang, inflasi tinggi, suku bunga tinggi, global growth melemah dan terjadinya protectionism,” kata Sri Mulyani saat rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Bendahara Negara ini mengatakan, jika dilihat dari environment yang sangat menekan, banyak negara mengalami pelemahan ekonomi, bahkan masuk resesi.
“Ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5 persen, berarti kita harus menjaga resep untuk menyeimbangkan domestic demand, yakni dengan memanfaatkan global environment,” jelasnya.
Baca juga : Jamkrindo Bantu UMKM Lebih Mudah Raih Modal
Menurut Sri Mulyani, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia ingin mencapai di atas 5 persen, instrumennya bukan pada stimulus fiskal moneter, melainkan harus melalui kebijakan struktural dan produktivitas.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid optimistis Indonesia di bawah kepemimpinan presiden terpilih Prabowo Subianto dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen dan melenggang menjadi negara maju.
Optimisme tersebut didasarkan pada Indonesia memiliki potensi ekonomi, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan optimal.
“Memang tidak gampang menggenjot pertumbuhan ekonomi 8 persen. Tapi kita harus dukung pemerintahan terpilih. Kalau presiden terpilih sukses, bangsa ini juga akan sukses,” kata Arsjad.
Karena itu, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, menurut Arsjad, perlu adanya kebijakan yang jelas, tegas dan atraktif terhadap sumber daya alam Indonesia.
Baca juga : Awas, Suhu Panas Bikin Sakit & Rawan Kebakaran
Hal itu akan mendorong datangnya investor untuk berinvestasi di Indonesia. Pasalnya, APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Indonesia hanya mampu membiayai 3,5 hingga 4 persen dari kebutuhan pendanaan untuk pertumbuhan ekonomi tersebut.
“Tentu saja kebijakan yang diharapkan adalah yang berorientasi pada pasar. Tanpa itu, kebijakan ekonomi tidak akan efektif,” ingatnya.
Selain kebijakan, menurut Arsjad, perlu penyelarasan antara pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota. Hal ini penting agar investor yang datang ke Indonesia tidak kapok karena berhadapan dengan kebijakan yang berbeda-beda dari satu daerah dengan daerah lainnya.
Bos Indika Energy Tbk ini juga menyoroti bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini. Menurut dia, bonus demografi bisa menjadi berkah, atau bisa juga sebaliknya.
Agar bonus demografi menjadi berkah, perlu langkah menyeluruh terkait penyediaan lapangan pekerjaan dan penajaman skill sesuai yang dibutuhkan dunia usaha.
Baca juga : Amerika Dan Indonesia Tunjukin Kemesraan
Selain itu, lanjut Arsjad, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Selama ini UMKM berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, membuka lapangan pekerjaan dan berperan dalam pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya