Dark/Light Mode

CEO Pertamina NRE John Anis

Storage Dan Gasifikasi Terapung Jawa-1, Jadi Pembangkit Terintegrasi, Terbesar Di Asia Tenggara

Minggu, 27 Oktober 2024 08:00 WIB
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Pembangkit Jawa-1 Power disebut sebagai salah satu milestone terbesar Pertamina di bidang renewable energy. Bagaimana Pertamina berhasil membangun proyek ini?

Dimulai dari kebutuhan di PLN. Kami melihat ada peluang baik. Gas merupakan bagian dari transisi energi, sebelum kita sepenuhnya beralih ke energi hijau. Mengapa gas? Karena sumber daya gas masih melimpah, dan dari sisi emisi karbon, gas jauh lebih rendah dibandingkan minyak atau batubara.

Jika saya boleh menyebutnya, gas adalah solusi kompromi. Meski belum sepenuhnya hijau, namun emisi karbonnya relatif rendah. Sumber dayanya melim­pah, dan masih bisa digunakan untuk pembangkit listrik. Jika dibandingkan dengan pembang­kit listrik berbasis fosil seperti batubara atau minyak, gas jelas lebih bersih. Ini yang membuat kami melihat gas sebagai solusi transisi menuju energi rendah karbon.

Ada dua alasan utama menga­pa kami menjalankan proyek ini. Pertama, karena memang ada kebutuhan mendesak. Kedua, gas ini adalah bagian dari solusi rendah karbon yang menjadi bagian dari portofolio. Proyek ini juga membantu mengurangi emisi jika dibandingkan dengan pembangkit uap lainnya.

Baca juga : Pakai AI, BRIN Analisis Produk Makanan

Selain itu kami punya kom­petensi dan teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek ini. Bekerja sama dengan technology provider (penyedia teknologi), Kami sebagai inte­grator mengarahkan proyek ini. Kami mengajukan kepada PLN, dan alhamdulillah, proposal kami diterima.

Bagaimana proses pembangunan Jawa-1 Power? Apakah ada kendala yang cukup menantang?

Proses pembangunannya ti­dak mudah, memakan waktu cukup lama, dan penuh tan­tangan. Kami sangat menghar­gai kerja keras tim yang terus memperjuangkan proyek ini. Tantangan teknis maupun non-teknis harus dihadapi, seperti perizinan, penggunaan lahan, serta kendala teknologi. Karena teknologinya cukup canggih, ada beberapa masalah teknis yang muncul, termasuk adap­tasi terhadap teknologi baru. Namun, kami selalu melakukan mitigasi dengan baik, sehingga pada awal tahun lalu, kedua unit pembangkit akhirnya bisa memasuki Commercial Opera­tion Date (COD).

Keberhasilan proyek ini karena kami mampu melihat peluang, dan kemudian merealisasikannya dengan kompetensi yang kami miliki. Kami berha­sil menjadi integrator, bekerja sama dengan penyedia teknologi untuk menawarkan solusi yang efisien dan ramah lingkungan.

Baca juga : PKB Dukung Prabowo

Apa keunggulan Pembang­kit Jawa-1 Power?

Salah satu keunggulan utama adalah penggunaan LNG (Liquefied Natural Gas). Gas alam sulit diakses melalui pipa, terutama di wilayah yang belum terjangkau. Karena itu, LNG menjadi solusi terobosan dalam sistem terintegrasi ini. Keunggu­lan kedua adalah pada teknologi power generation yang menggu­nakan sistem single shaft, yang memberikan competitive advan­tage (keunggulan kompetitif), termasuk efisiensi pembangkit lebih tinggi dan kemampuan memberikan daya dengan cepat. Sistem ini memungkinkan jika saat salah satu unit pembangkit mati, penggantinya bisa segera beroperasi tanpa menunggu lama.

Berapa lama proyek ini dibangun?

Sekitar tiga tahun. Beberapa kendala yang dihadapi termasuk masalah teknis umum, mekanik, dan commissioning. Selain itu, penerapan teknologi baru juga menjadi tantangan. Namun, semua masalah tersebut dapat diatasi, dan kini pembangkit sudah beroperasi dengan mulus. Bahkan, saat uji coba kemarin, kapasitasnya melebihi target, menjadi 1.800 MW.

Baca juga : KBL Berbasis Baterai Dikasih Keistimewaan

Mengapa memilih sistem Floating Storage and Regasifi­cation Units (FSRU)? Apakah ini tergolong teknologi baru di dunia?

FSRU bukan sepenuhnya teknologi baru. Di Indonesia, FSRU sudah diterapkan, seperti di Nusantara Regas dekat Tan­jung Priok dan di Lampung. Alasan utama memilih sistem floating adalah karena distri­busi gas di Pulau Jawa belum merata. Potensi gas memang ada, terutama di Jawa Timur, tetapi pipa penghubung ke Jawa Barat belum tersedia.

Untuk mengatasi kekurangan gas di Jawa Barat tanpa mem­bebani pipa yang sudah ada, kami memilih menggunakan LNG. Di Indonesia, ada tiga fasilitas LNG: Arun, Bontang, dan Tangguh. Karena Bontang sudah penuh, kami mendapatkan LNG dari Tangguh. Alokasi dari PLN, kami menyediakan fasilitas regasifikasinya.

LNG diubah menjadi gas melalui proses regasifikasi, dan kami melihat ini sebagai solusi terbaik. Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, membangun pipa antar pulau sangat mahal, sehingga sistem regasifikasi floating menjadi alternatif yang menarik untuk ke depan. Jika diperlukan di Sulawesi atau Kalimantan kita sudah siap.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.