Dark/Light Mode

CEO Pertamina NRE John Anis

Storage Dan Gasifikasi Terapung Jawa-1, Jadi Pembangkit Terintegrasi, Terbesar Di Asia Tenggara

Minggu, 27 Oktober 2024 08:00 WIB
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Apakah teknologi ini sudah bisa dikembangkan di Indo­nesia?

Teknologi ini sudah bisa diterapkan di Indonesia. Meski kami bekerja sama dengan perusahaan luar, desain dan konsep awal dikembangkan bersama dengan kami. Yang penting adalah kami sudah mampu menangani konsepnya dari tahap awal.

Apakah fasilitas ini sudah diresmikan?

Kami berharap agar peresmian dapat dilakukan oleh Presiden. Semoga presiden yang baru bersedia untuk meresmi­kannya. Proyek ini merupakan langkah penting dalam upaya mengurangi emisi. Dengan instalasi ini kami dapat meng­hemat sekitar 3,3 juta ton CO2 setiap tahun. Dengan demikian, kami dapat memperoleh kredit karbon CO2 setiap tahun. Saat ini, kami sedang memprosesnya menjadi sertifikat karbon yang nantinya dapat dijual sebagai karbon kredit.

Baca juga : Pakai AI, BRIN Analisis Produk Makanan

Proyek ini mengandalkan teknologi canggih yang sangat efisien. Selain itu, ini adalah salah satu proyek terintegrasi terbesar di Asia Tenggara dan dibangun oleh tenaga kerja Indonesia. Kami bekerja sama dengan Marubeni dan Sojitz, perusahaan asal Jepang. Na­mun, Pertamina tetap menjadi pemimpin proyek ini.

Dari desain hingga imple­mentasi, konstruksi, dan startup, kami memimpin seluruh prosesnya. Saat ini, direktur utama dan direktur operasional ber­asal dari Pertamina. Dengan begitu kami dapat mengontrol semuanya dengan baik. Kami merasa bangga atas pencapaian ini dan berharap Bapak Presiden dapat meresmikan proyek strategis ini sebagai modal untuk masa depan.

Dari mana inspirasi teknologi ini?

Teknologinya terinspirasi dari proyek-proyek yang sudah ada, seperti Nusantara Regas. Meskipun Nusantara Regas ter­inspirasi dari negara lain seperti Amerika. Kami tidak mengambil teknologi yang masih dalam tahap percobaan.

Baca juga : PKB Dukung Prabowo

Kami sudah diakui secara internasional, bahkan baru-baru ini kami menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Afrika Selatan. Mereka memiliki kebutuhan serupa dan tertarik untuk mengadopsi solusi yang sama, mulai dari LNG, FSRU, hingga pembangkit gas untuk tenaga listrik.

Kenapa Afrika Selatan ter­tarik?

Ketertarikan mereka ber­asal dari sifat gas yang ramah lingkungan dan efisien. Saat ini ada eksplorasi dan ada potensi penemuan gas di sekitar Afrika Selatan. Sebagai solusi semen­tara sambil menunggu hasil eksplorasi gas di negara sekitar, mereka memilih menggunakan LNG. LNG sangat fleksibel karena dapat diangkut dengan kapal dari berbagai negara, seperti Amerika, Qatar, atau Indonesia. Selama harganya kompetitif, mereka akan mencari sumber terendah. Jika proyek ini berjalan dengan baik dan terdapat ladang gas di sekitar, mereka bisa beralih dari FSRU ke gas pipa secara langsung.

Mengenai Energi Baru jenis lainnya. Bagaimana progres pengembangan bioethanol dan biomassa di Pertamina?

Baca juga : KBL Berbasis Baterai Dikasih Keistimewaan

Pengembangan bioethanol berbasis biomassa perlu terus didorong karena ini bisa mem­bantu transisi energi selama 10-15 tahun ke depan, sebelum kita sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik atau hidrogen. Contohnya, kita sudah berhasil dengan biodiesel—sekarang kita sudah tidak mengimpor biodiesel lagi. Pertamina sudah menambangkan ini.

Untuk bioethanol, kami juga ingin mengikuti jejak biodiesel. Kami telah menyusun peta jalan untuk pengembangan bioethanol di Indonesia. Fokus kami di pasar domestik, karena berkaitan dengan ketahanan energi nasional. Namun, isu yang se­lalu muncul adalah ketersediaan lahan. Inilah mengapa kami fokus di daerah seperti NTT dan Merauke.

Pengembangan ini membutuh­kan waktu. Di NTT, misalnya, kami melihat ini sebagai solusi jangka menengah. Sementara itu, solusi jangka pendeknya adalah memanfaatkan apa yang sudah ada.

Progres lainnya adalah kerja sama dengan pabrik pengolahan molase—bahan baku ethanol—yang diekspor ke luar negeri. Kami berencana membangun pabrik ethanol engan kapasitas produksi sekitar 3.000 kiloliter per tahun. Di NTT, kami juga sudah bekerja sama dengan pemerintah provinsi, meski tan­tangannya masih cukup besar. Kami fokus pada dua proyek besar, meskipun masih dalam tahap screening lahan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.