Dark/Light Mode

CEO Pertamina NRE John Anis

Storage Dan Gasifikasi Terapung Jawa-1, Jadi Pembangkit Terintegrasi, Terbesar Di Asia Tenggara

Minggu, 27 Oktober 2024 08:00 WIB
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
CEO Pertamina NRE John Anis. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Tanaman apa yang akan dikembangkan untuk bioethanol?

Tanaman yang cocok di dae­rah tersebut adalah sorgum atau jagung. Namun, masalah yang muncul adalah keter­batasan air, terutama untuk jagung. Selain itu, kami juga harus mempertimbangkan lo­gistik seperti pelabuhan, karena ethanol mudah menguap. Proses pemilihan lahan melibatkan banyak faktor, seperti jumlah, ukuran, lingkungan, dan kriteria lainnya, sehingga cukup kom­pleks. Kami sudah bekerja sama dengan pemerintah provinsi, tetapi pengecekan kondisi lahan memerlukan waktu.

Tantangan utamanya adalah tanaman yang digunakan se­bagai bahan baku feedstock sering kali merupakan tanaman pangan. Kita harus memastikan tidak terjadi persaingan antara kebutuhan energi dan ketahanan pangan. Ini adalah tantangan yang perlu diperhatikan dengan serius.

Bagaimana dengan kesiapan SDM Pertamina. Apakah sudah cukup siap dan akan mampu mengerjakan produksi bioethanol?

Baca juga : Pakai AI, BRIN Analisis Produk Makanan

Kami sudah mulai belajar, tapi kalau disebut canggih, mungkin belum sepenuhnya. Ini masih hal baru bagi kami. Saya sendiri, yang biasanya bekerja dengan pengeboran sumur, sekarang berurusan dengan tanaman tebu. Namun, ini menarik dan memberikan tantangan baru. Kami bekerja sama dengan tim dari IPB untuk belajar teknik menanam tebu yang lebih optimal. Kami juga mengambil pengalaman dari luar negeri dan mencoba menerapkan jalan pintas dalam pengembangan ini.

Apakah Pertamina menyiapkan SDM khusus untuk Renewable Energy?

Ya, kami memiliki beberapa program untuk pengembangan SDM di bidang Renewable Energy. Salah satunya adalah program PNRE Academy. Aka­demi ini kami susun dengan kuri­kulum khusus untuk memberikan pemahaman mendalam tentang energi baru dan terbarukan. Kami juga bekerja sama dengan universitas-universitas terke­muka, termasuk University of Arizona di AS. Beberapa per­wakilan Pertamina sudah kami kirim untuk mengikuti pelatihan di sana.

Selain itu, kami merekrut orang-orang yang memiliki latar belakang di bidang energi terbarukan dan menyediakan beasiswa untuk program-pro­gram terkait RNE. Kami juga mengadakan pelatihan internal untuk meningkatkan kompetensi karyawan kami, baik melalui pelatihan PNRE Academy mau­pun melalui beasiswa untuk pengembangan berjenjang.

Baca juga : PKB Dukung Prabowo

Universitas Pertamina sendiri memiliki program studi yang fokus pada keberlanjutan (sus­tainability). Kami mendorong kolaborasi yang intens antara RNE dan universitas, termasuk dalam pengembangan PNRE Academy. Ide dari akademi ini berasal dari kami, namun penyusunan program dilakukan bersama Universitas Pertamina, serta kampus-kampus lain yang kami ajak kerja sama.

Apa tantangan terbesar dalam pengembangan energi baru di Pertamina?

Tantangan yang kami hadapi mirip dengan yang dihadapi oleh banyak perusahaan lain di sektor energi terbarukan. Tantangan pertama adalah soal keekonomian, terutama terkait harga. Misalnya, teknologi hi­drogen sudah ada, tapi ma­salahnya adalah biaya produksi yang masih sangat mahal. Jika diproduksi saat ini, hidrogen sulit dijual di pasar karena harganya tidak terjangkau. Selain itu, kendaraan juga ha­rus diubah untuk menggunakan hidrogen, dan itu membutuhkan biaya besar.

Selain harga, teknologi juga perlu lebih efisien. Contohnya, bagaimana kita bisa mem­produksi listrik dengan harga murah dan menjaga ketahanan energi tanpa banyak kehilangan daya. Tantangan selanjutnya adalah pendanaan. Pengembangan energi baru dan ter­barukan membutuhkan biaya besar. Kami harus mendapatkan akses ke investor dan sumber pendanaan yang kuat.

Baca juga : KBL Berbasis Baterai Dikasih Keistimewaan

Selain itu juga ada regu­lasi. Misalnya, bioethanol ma­sih dikenakan cukai karena dianggap sebagai alkohol. Jika dikenakan cukai, harga bioetha­nol akan menjadi tidak kompeti­tif. Kami berharap ada regulasi yang mendukung pengembangan energi terbarukan.

Energi terbarukan biasanya tidak bisa dipindahkan secara mudah. Misalnya, geothermal hanya bisa digunakan di tempat di mana panas bumi tersebut tersedia. Begitu juga dengan energi dari panel surya, angin, atau arus laut, semuanya bersifat lokal. Ini berbeda dengan energi dari batubara atau minyak yang bisa diangkut ke mana saja. Karena itu, energi terbarukan memerlukan infrastruktur trans­misi yang baik. orang bilang no transition without transmission. Tanpa transmisi yang memadai, listrik dari energi terbarukan tidak akan bisa didistribusikan secara optimal.

Kami sadar ini adalah per­jalanan panjang. Ini seperti membangun startup—sesuatu yang baru dan penuh tantangan. Namun, kami tidak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu. Jika tidak kita ambil sekarang, kita bisa terlambat. Meski saat ini mungkin masih terlihat abstrak dan belum sepenuhnya jelas. Kami yakin bahwa dengan mindset yang terbuka dan jiwa kewirausahaan yang kuat, kita bisa berhasil. Kami harus terus mencari peluang, bekerja sama dengan banyak pihak, dan me­manfaatkan semua sumber daya yang ada untuk memastikan transisi ini berjalan dengan baik. ***

Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu, 27 Oktober 2024 dengan judul CEO Pertamina NRE John Anis, Storage Dan Gasifikasi Terapung Jawa-1, Jadi Pembangkit Terintegrasi, Terbesar Di Asia Tenggara

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.