Dark/Light Mode

Beri Pendampingan Finalis TEY Ke-13

Bos TMMIN: Generasi Muda Berperan Penting Jaga Bumi

Kamis, 5 Desember 2024 19:29 WIB
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam. (Foto: Ist)
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam mengatakan, generasi muda berperan penting dalam menjaga keberlanjutan bumi. 

Hal tersebut disampaikan Bob saat memberikan pendampingan finalis Toyota Eco Youth (TEY) ke-13 di SMKN 5 Surabaya, Jawa Timur, Kamis (5/12/2024).

Untuk diketahui, Toyota Eco Youth (TEY) ke-13 kini memasuki tahap pendampingan untuk 25 finalis dengan proposal terbaik dari seluruh Indonesia. Setelah sebelumnya diadakan di Mojokerto, pendampingan berlangsung serentak di Surabaya dan Balikpapan, dan akan dilanjutkan ke kota-kota lainnya. 

Tahapan ini bertujuan memberikan bimbingan, motivasi, dan arahan bagi siswa-siswi finalis dalam merealisasikan proyek inovasi lingkungan mereka.

“Aksi nyata siswa-siswi ini membantu akselerasi target pemerintah dalam pengurangan emisi menuju transisi energi di tahun 2030. Melalui TEY, kami mendukung langkah generasi muda untuk menciptakan solusi cerdas dan inovatif bagi masa depan yang lebih hijau,” ujar Bob. 

Baca juga : Biden Dihujani Kritik

Bob mengatakan, kegiatan pendampingan bertujuan untuk meninjau langsung proses realisasi proposal proyek finalis TEY, sekaligus memberikan semangat kepada para siswa-siswi finalis 25 besar TEY, agar dapat mewujudkan proposal yang memberikan manfaat dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM), Henry Tanoto yang menyatakan, TEY merupakan bagian dari inisiatif “IT’S TIME FOR EVERYONE” untuk mengurangi emisi secara inklusif. “Kami memberikan pendampingan langsung kepada para finalis untuk memastikan ide-ide mereka lebih terarah dan dapat diimplementasikan secara nyata demi kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Untuk diketahui, proposal yang diangkat oleh SMKN 5 Surabaya bertemakan “Pemanfaatan Limbah Daun Sebagai Bahan Baku Pembuatan Pupuk Granula dengan Menggunakan Energi Alternatif Biogas Sebagai Bahan Bakar Seiving Machine”. 

Tema tersebut menjadi salah satu keunikan dan daya tarik yang dimiliki oleh SMKN 5 Surabaya. Semenjak tahun 2006, SMKN 5 Surabaya konsisten terpilih sebagai peserta dan finalis Toyota Eco Youth (TEY).

Finalis TEY asal SMKN 5 Surabaya, Adeeb dan Brigma dalam paparannya mengatakan, tema proposal berdasarkan fakta bahwa Surabaya adalah kota besar dengan RTH (Ruang Terbuka Hijau) sebesar 22 persen, lebih dari target yang diatur pemerintah pusat sebesar 20 persen, sehingga potensi limbah daun menjadi sangat tinggi. Sebagai fokus proposalnya diambil kondisi di sekitar sekolah yang memiliki lahan cukup luas dan jumlah tanaman cukup banyak. 

Baca juga : Penutupan KREASI 2024: Bangun Generasi Peneliti Muda Berbakat untuk Indonesia Emas

“Setiap harinya, lingkungan tersebut menghasilkan limbah daun kering dalam jumlah besar. Pada musim kemarau, limbah daun kering yang dihasilkan berlimpah dibandingkan saat musim hujan,” ujar keduanya.

Dengan alasan itu, siswa-siswi beserta guru SMKN 5 Surabaya berinovasi untuk mengolah limbah daun tersebut menjadi pupuk granula. Pupuk granula adalah jenis pupuk yang diproses dalam bentuk butiran atau granula yang padat, yang dirancang untuk mempermudah aplikasi dan distribusi ke tanaman.

Menurut mereka, limbah daun memiliki beberapa karakteristik yang sangat umum yaitu mudah terurai, berasal dari alam, tidak menyebabkan pencemaran, mudah didaur ulang, bersifat organik sehingga dapat diolah menjadi pupuk granula. Pembuatan pupuk granula ini mengalami proses pengayaan menggunakan sieving machine. 

Sieving machine atau mesin ayakan adalah alat yang digunakan untuk memisahkan bahan atau material berdasarkan ukuran partikel atau butiran dengan cara menyaring atau mengayaknya. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan bakar  alternatif biogas sebagai bahan bakar untuk proses pembuatan pupuk tersebut.

Energi biogas ini dihasikan dari limbah peternakan sapi yaitu feses sapi dan  limbah eceng gondok yang terurai melalui proses pencampuran limbah di ruang kedap udara. Dari pemanfaatan limbah kotoran sapi dan eceng gondok sebagai biogas dapat mengurangi gas metana yang menjadi penyebab utama dari GRK atau Gas Rumah Kaca.

Baca juga : Hari Santri Nasional, Generasi Muda Makin Cakap Digital

Program TEY, yang telah berjalan sejak tahun 2005, merupakan kompetisi inovasi berbasis Eco Project yang melibatkan siswa SMA dan sederajat di seluruh Indonesia. Dengan tema “EcoActivism, Saatnya Beraksi Jaga Bumi,” TEY ke-13 berfokus pada upaya generasi muda dalam dekarbonisasi, menciptakan solusi lingkungan berkelanjutan, serta mendorong potensi ekonomi masyarakat melalui inovasi hijau.

Program TEY ke-13 telah melalui beberapa tahap, dimulai dari sosialisasi, seleksi proposal, hingga pengumuman 25 finalis. Setelah tahap pendampingan ini, kompetisi akan berlanjut ke penjurian akhir dan ditutup dengan pengumuman pemenang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.