Dark/Light Mode

Dampak Resesi Global

APHI Mengakui Perdagangan Hasil Kehutanan Nyungsep

Sabtu, 4 Januari 2020 11:25 WIB
Plt Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Hendroyono (tengah) didampingi Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia Indroyono Soesilo (kanan), dan Kabiro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi memberikan paparan dalam media briefing di Jakarta, kemarin.
Plt Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Bambang Hendroyono (tengah) didampingi Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia Indroyono Soesilo (kanan), dan Kabiro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi memberikan paparan dalam media briefing di Jakarta, kemarin.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kondisi perekonomian global yang mengalami perlambatan, berdampak pada menurunnya volume perdagangan dan berimbas pada kinerja sektor usaha kehutanan di 2019. 

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo mengatakan, total nilai ekspor kayu olahan Indonesia tahun 2019 sebesar 11,64 miliar dolar Amerika Serikat (AS). 

“Jumlah tersebut, turun 4 persen dari nilai ekspor tahun 2018 sebesar 12,13 miliar dolar AS,” ujar ¬Indroyono yang juga menjabat Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perhutanan Indonesia di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, kemarin. 

Sementara, untuk negara tujuan ekspor terbesar masih sama seperti tahuntahun sebelumnya, Tiongkok diposisi teratas, diikuti Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea. 

Baca juga : Dagang Dengan Swiss, Kita Untung Gede, Alhamdulillah

“Penurunan permintaan dunia juga melemahkan kinerja ekspor kayu olahan Indonesia, yang secara berantai menurunkan permintaan pasokan bahan baku dari sektor hulu, baik dari hutan alam maupun hutan tanaman,” ujarnya. 

Ia mencatat, produksi kayu hutan alam tahun 2018 mencapai 7 juta meter kubik (m3), sedangkan tahun ini hanya tercapai 5,8 juta m3, atau turun 16,30 persen. 

Penurunan produksi hutan alam ini terutama karena berkurangnya permintaan pasokan dari industri pengolahan kayu, terutama industri panel dan woodworking yang sebagian besar bahan bakunya menggunakan kayu alam. 

Sementara itu, produksi hutan tanaman juga mengalami penurunan tipis, pada tahun 2018 mencapai 40 juta m3, sementara produksi hutan tanaman tahun 2019 tercatat 39 juta m3, atau turun 1,63 persen. 

Baca juga : Muhammadiyah Minta Negara Perhatikan Isu Kesehatan

“Yang cukup menggembirakan dari hutan tanaman, terjadi kenaikan luas penanaman yang cukup signifikan di mana tahun 2018 penanaman hanya mencapai 196 ribu hektare (ha), sedangkan pada tahun 2019 realisasi tanaman meningkat 51,09 persen, menjadi 297 ribu ha,” sebutnya. 

Saat ini kata dia, tren produksi hasil hutan bukan kayu (HHBK) terus meningkat.“Sebagai bagian dari lini konfigurasi bisnis baru kehutanan, ada kenaikan produksi HHBK dari tahun ke tahun. Pada 2018 produksi sebesar 358,8 ribu ton, sedangkan tahun 2019 produksinya mencapai 380,61 ribu ton,” ujarnya.

 Sementara, trend ekspor Tanaman dan Satwa Liar (TSL) yang merupakan pengembangan dari HHBK terus meningkat sampai tahun 2018, meski pada 2019 sedikit mengalami penurunan. 

“Ekspor produk TSL ini sangat potensial di kembangkan di areal Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) untuk pengembangan bioprospecting,” ujar Indroyono. 

Baca juga : Komjen Firli: Pelantikan Masih Lama

Di 2020 ini, ia memprediksi produksi kayu alam relatif tetap, sedangkan produksi kayu tanaman akan meningkat. 

“Pasokan bahan baku industri pengolahan kayu akan bergeser ke hutan tanaman, sementara kayu alam hanya akan digunakan untuk produk bernilai tinggi,” ujarnya.

Produksi HHBK dan bioprospecting, serta investasi usaha di pemanfaatan hutan alam dan hutan tanaman juga diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan kebijakan pengembangan multi usaha di hutan produksi, yang sedang digodok intensif saat ini. [NOV]
 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.