Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RI Kena Tarif Impor 32 Persen
INDEF: Pemerintah Harus Segera Negosiasi Perdagangan Dengan AS
Kamis, 3 April 2025 14:22 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif resiprokal yang berkisar antara 10 hingga 39 persen kepada negara-negara dunia, Rabu (2/4/2025).
China dikenai tarif 34 persen, Uni Eropa 20 persen, Vietnam 46 persen, India 26 persen, Jepang 24 persen, Thailand 36 persen, Malaysia 24 persen, Filipina 17 persen, dan Singapura 10 persen. Sementara Indonesia 32 persen.
Tarif yang diberlakukan untuk Indonesia lebih tinggi dibanding negara Asia lainnya seperti Malaysia, Singapura, India, Filipina, dan Jepang.
Direktur INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini PhD menjelaskan, tarif resiprokal itu dijatuhkan kepada beberapa negara partner dagang, yang sebelumnya telah menetapkan tarif kepada barang impor dari AS.
Baca juga : Menkop Budi Arie: Perintah Presiden Tegas, Berantas Rentenir Dan Tengkulak
Menurut dia, kebijakan proteksionisme AS ini ditujukan untuk mendorong produksi dalam negeri, lapangan pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi AS.
"Pengumuman tarif resiprokal ini berimbas terhadap pasar keuangan AS. Harga saham AS turun setidaknya 3 persen. Selain itu, juga terdapat penurunan harga saham di pasar keuangan Jepang. Ini terendah dalam 8 bulan terakhir. Begitu juga di pasar saham Korea Selatan, terutama harga saham otomotif," papar Eisha.
Harga Emas & Nilai Tukar
Pengumuman tarif resiprokal Trump juga berimbas pada meningkatnya harga emas hingga mencapai rekor tinggi di atas 3.160 dolar AS per ons. Sementara harga minyak dunia turun lebih dari 3 persen.
Fluktuasi nilai tukar juga terjadi setelah tarif diberlakukan. Yen Jepang yang menjadi salah satu safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi Negeri Paman Sam, dilaporkan menguat terhadap dolar AS.
Baca juga : Perpemindo Dukung Pemerintah Cabut Moratorium Pengiriman PMI ke Saudi
"Tarif yang diberlakukan Trump bisa berpotensi menjadi boomerang bagi ekonomi AS. Selain dapat memicu inflasi tinggi, harga barang juga bisa melonjak tinggi karena tarif dapat berdampak pada pasar tenaga kerja AS," urai Eisha.
Lantas, bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia? Asal tahu saja, secara rata-rata tahunan, pangsa pasar ekspor Indonesia ke negara tujuan AS mencapai 10,3 persen. Terbesar kedua setelah China.
Sehingga, Eisha meyakini, pengenaan tarif resiprokal tersebut akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia ke AS secara signifikan. Seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan semisal minyak kelapa sawit, karet, perikanan.
"Secara teori, penerapan tarif akan memunculkan trade diversion dari pasar berbiaya rendah ke pasar berbiaya tinggi. Pelaku ekspor untuk komoditas unggulan, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furniture, dan produk pertanian akan terkena dampaknya. Sehingga, produksi dan pertumbuhan lapangan pekerjaan akan melambat," terang Eisha.
Saran Untuk ​Pemerintah
Baca juga : Istana Tegaskan Komitmen Pemerintah Dukung Kebebasan Pers
Eisha berpendapat, pemerintah perlu melakukan negosiasi perdagangan dengan AS dengan segera, untuk meminimalkan dampak tarif bagi produk ekspor Indonesia ke negara tersebut.
Menurutnya, kekuatan negosiasi diplomatik menjadi sangat krusial, dalam memitigasi dampak dari perang dagang dengan AS.
"Pemerintah perlu mengoptimalkan perjanjian dagang secara bilateral dan multilateral, CEPA, serta inisiasi perjanjian kerja sama dengan negara non-tradisional untuk mendorong ekspor produk terdampak, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan semisal minyak kelapa sawit, karet, perikanan. Sehingga, pelaku ekspor dan industri terdampak dapat mengalihkan pasar ekspor," papar Eisha.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga perlu memberikan kebijakan Insentif keuangan, subsidi, dan keringanan pajak. Karena langkah tersebut dapat membantu bisnis mengatasi peningkatan biaya l, dan pengurangan permintaan akibat dampak tarif dan perang dagang AS.
"Investasi dalam kemajuan teknologi dan inovasi, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global, sebagai upaya dalam jangka panjang," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya