Dark/Light Mode

Soal Tarif Impor, AS Dan China Saling Gigit

Dampaknya Ke Kita, Apa?

Kamis, 10 April 2025 08:08 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Dok. Kemenkeu)
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Dok. Kemenkeu)

 Sebelumnya 
Tanggapan Pengusaha

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Alas Kaki Nusantara (Hipan) David Chalik menilai, aksi saling gigit AS dan China akan berdampak ke Indonesia. Kedua negara akan mencari alternatif pasar, dan Indonesia memiliki pasar yang cukup besar.

Kata David, barang-barang asal China yang semula bisa mengakses pasar AS, terhambat dan harus mencari pasar lain. Apalagi, Negeri Panda mengalami over produksi di dalam negeri.

“Yang perlu kita perhatikan itu dampak dari perang dagang antara dua negara besar, China dan Amerika. Kemungkinan besar barang ini akan masuk ke pasar di negara berpenduduk besar, di antaranya Indonesia,” ungkap David.

Baca juga : Pasca Lebaran, Menko Polkam Langsung Konsolidasikan Jajaran Hadapi Tantangan Eksternal

Jika kekhawatiran ini menjadi kenyataan, produk-produk UMKM, khususnya alas kaki dan konveksi atau tekstil yang hanya berorientasi pasar dalam negeri, akan keok karena banjirnya produk impor.

“Pasar dalam negeri kita akan dibanjiri barang-barang impor. Sedangkan barang kita untuk keluar (ekspor), nggak mudah,” sesal David.

Senada dikatakan Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto. Ia menilai, perang tarif antara AS dengan China bisa membuat pasar domestik kebanjiran produk asal Negeri Tirai Bambu.

Edy khawatir impor keramik asal China meningkat signifikan. Hal itu lantaran terjadinya peralihan pasar yang awalnya akan diekspor ke AS, justru ke Indonesia karena tarif yang tinggi. Terlebih, impor keramik terbesar ke AS merupakan dari China dan India.

Baca juga : Partai Rakyat Saranin Nasionalisasi Aset Aja

Lalu apa kata pengamat? Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad mengingatkan, perang dagang antara AS dan China tak hanya membuat pasar global bergejolak, tapi juga menyalakan alarm bagi perekonomian Indonesia. Indonesia bisa terkena pukulan dari dua sisi sekaligus.

“Ekspor kita ke Amerika sudah pasti terganggu. Tapi yang lebih besar lagi justru ekspor ke China. Jadi kalau ekonomi China melambat, kita juga ikut kena imbasnya dari dua arah,” ujarnya.

Menurut Tauhid, dampak paling nyata dari ketegangan dua raksasa ekonomi dunia itu adalah jatuhnya harga komoditas global. Padahal, harga komoditas seperti minyak, sawit (CPO), dan nikel menjadi penopang utama penerimaan negara.

“Kalau situasi ini berlarut, bisa berdampak serius ke anggaran,” jelasnya.

Baca juga : Akhirnya, Ome Lolos Dari Hukuman Diskualifikasi...

Tauhid menyebut kondisi ini sebagai dorongan besar bagi pemerintah untuk mewaspadai gejolak eksternal dan mencari pasar baru agar tak terlalu bergantung pada dua negara adidaya itu.

Tak hanya perekonomian makro, dampak perang tarif antara Amerika dan China juga diprediksi akan langsung menghantam pasar modal Indonesia. Tauhid memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali melemah pada Kamis (10/4/2025).

“Kalau ekonomi global melambat, bursa pasti ikut tertekan. Saya prediksi bisa turun lagi ke bawah 6.000. Situasinya berat untuk semua perusahaan,” ujar Tauhid.

Tak berhenti di situ, sektor pariwisata juga disebut akan terkena imbas. Ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang dinilai akan memengaruhi harga tiket dan minat bepergian masyarakat. “Industri jasa, terutama pariwisata, pasti ikut terganggu,” pungkasnya. [BCG/MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.