Dark/Light Mode

Respons Cepat Tarif Trump

Pemerintah Bakal Siapkan Stimulus Ekonomi Khusus

Sabtu, 3 Mei 2025 07:05 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Indonesia bergerak cepat merespons kebijakan tarif balasan (resiprokal) yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Sebagai langkah strategis, Pemerintah tengah menyiapkan peluncuran paket kebijakan ekonomi. Hal itu untuk mengantisipasi dampak kebijakan tersebut terhadap perdagangan dan investasi nasional.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui sejumlah paket kebijakan ekonomi yang dirancang khusus untuk menjaga stabilitas dan daya saing ekonomi nasional.

Stimulus ekonomi ini akan mencakup kebijakan perdagangan hingga investasi. Tujuannya, mempercepat proses perundingan dengan AS, memudahkan pelaku usaha menjalankan ak­tivitas bisnis dan menjaga iklim investasi kondusif di tengah tan­tangan global,” ujar Airlangga, Jumat (2/5/2025).

Airlangga menegaskan, Pe­merintah tidak hanya menyam­paikan sikap. Tetapi juga telah mengajukan proposal konkret kepada Pemerintah AS dalam semangat kerja sama bilateral yang adil dan saling mengun­tungkan.

Baca juga : BI Ramal Penyaluran Kredit Tetap Tumbuh

“Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang dijad­walkan memulai perbincangan dengan AS. Ini menunjukkan posisi Indonesia sebagai early mover yang mendapat apresiasi dari Pemerintah AS,” jelasnya.

Sejak diumumkannya kebi­jakan tarif tersebut, Pemerintah Indonesia telah melakukan ko­munikasi intensif lintas negara, memperkuat posisi ASEAN, serta menjalin diplomasi aktif dengan mitra strategis seperti Malaysia, Singapura, Uni Eropa, Inggris dan China.

Sebagai respons cepat, Indo­nesia telah membentuk satuan tugas khusus dan menyusun paket kebijakan komprehensif.

Usulan tersebut, yang dikenal sebagai comprehensive and fair proposal, mencakup revitalisasi perjanjian perdagangan bilateral seperti Trade and Investment Framework Agreement (TIFA) Indonesia–AS dan ASEAN–AS.

“Tidak hanya merespons ke­bijakan AS, Indonesia juga me­nyampaikan permintaan resmi agar kerja sama ekonomi ini bersifat dua arah dan saling menguntungkan. Kami bahkan mengusulkan format perjanjian baru,” lanjut Airlangga.

Baca juga : Tidak Boleh Ada Anak Putus Sekolah Di DKI

Pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar ekspor seba­gai strategi jangka panjang. Ero­pa menjadi target pasar strategis berikutnya, dengan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Kompre­hensif Indonesia–Uni Eropa (IEU–CEPA) yang disebut telah memasuki tahap akhir.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menyambut baik langkah Pemerintah menyikapi kebijakan tarif resiprokal dari AS.

Dia menilai, persoalan ini perlu ditangani secara kolektif antara Pemerintah dan pelaku usaha. Apindo mendukung ter­capainya kesepakatan bilateral dengan AS yang memberikan akses pasar terbaik dan saling menguntungkan.

“Integrasi rantai pasok antara industri Indonesia dan AS juga penting agar ekspor Indonesia dipandang sebagai penguat industri AS, bukan ancaman,” ujar Shinta.

Apindo juga mendorong pendekatan kerja sama sektoral. Seperti energi, critical minerals dan farmasi, tanpa harus lang­sung menuju negosiasi Free Trade Agreement (FTA) yang kompleks.

Baca juga : Sarwendah, Sibuk Jual Daster Dan Urus Anak

Selain itu, Shinta menekankan perlunya evaluasi terhadap prinsip resiprokal. Termasuk tarif dan hambatan non-tarif atas produk AS yang masuk ke Indonesia.

“Langkah ini penting untuk menciptakan keseimbangan dan keadilan dalam hubungan da­gang kedua negara,” ucapnya.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Shinta juga men­dorong Pemerintah memperkuat diversifikasi pasar ekspor.

Negara-negara ASEAN, Timur Tengah, Amerika Latin dan Af­rika disebut memiliki potensi besar sebagai pasar alternatif untuk menekan ketergantungan terhadap pasar AS.

“Kami juga berharap Pemerintah memaksimalkan perjanji­an dagang yang telah ada. Mem­percepat penyelesaian perjanjian yang masih dalam proses, seperti kerja sama Indonesia–Uni Ero­pa,” harap Shinta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.