Dark/Light Mode

Smelter Manyar, Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup

Rabu, 23 Juli 2025 17:38 WIB
Smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur (Foto: dok. PTFI)
Smelter PTFI di Gresik, Jawa Timur (Foto: dok. PTFI)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Freeport Indonesia (PTFI) telah meresmikan tiga Compost House di desa-desa Ring 1 kawasan smelter Manyar: Manyar Sidorukun, Manyarejo, dan Manyar Sidomukti pada 9 Juni 2025, sebagai bagian dari program Waste for Waste.

Inisiatif ini mencerminkan tanggung jawab lingkungan perusahaan, dan wujud konkret hilirisasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Program ini memanfaatkan limbah organik dari operasional smelter dan lingkungan sekitar, untuk dikompos menjadi pupuk organik. Yang menarik, pupuk tersebut dikelola dan dipasarkan oleh kelompok masyarakat desa, sehingga menjadi sumber pendapatan alternatif bagi warga.

Baca juga : Aturan P3LH Integrasikan Sejumlah Instrumen Lingkungan Hidup

Berdasarkan riset Laporan Akhir Membangun Kemitraan antara Masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Perusahaan untuk Optimalisasi Manfaat Hilirisasi yang diterbitkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) tahun 2024, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam hilirisasi industri tambang, khususnya tembaga, bauksit, dan pasir silika ke depan harus diarahkan pada perbaikan kualitas lingkungan. Serta dukungan bagi kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat lokal.

Peneliti utama dalam laporan tersebut, Hendi Subandi mengatakan, dampak hilirisasi industri tambang terhadap lingkungan dapat dilihat dari indikator kualitas dan pencemaran air (Indeks Kualitas Air dan kandungan BOD), kualitas dan pencemaran udara (Indeks Kualitas Udara dan Densitas CO), dan corporate social responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan.

”Kegiatan CSR yang dilakukan perusahaan berdampak positif terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan di sekitar lokasi perusahaan beroperasi,” kata Hendi, dalam keterangan tertulis. 

Baca juga : Komisi XII DPR Warning Hilirisasi Jangan Sampai Ganggu Lingkungan

Compost House yang dibangun PTFI juga sejalan dengan kajian The Reform Initiatives (TRI) yang berjudul "Membangun Harmoni yang Produktif Antara Pekerja Asing-Domestik dan Masyarakat Lokal: Tantangan, Kesempatan, dan Kebijakan Investasi Hilirisasi di Indonesia.

Ketua Tim Peneliti TRI Indonesia, Unggul Heriqbaldi mengatakan, dukungan dari pemerintah pusat sangat diperlukan untuk meningkatkan ruang fiskal pemerintah daerah. 

"Transformasi transfer fiskal harus dilakukan dengan indikator-indikator baru. Bukan hanya berpatokan pada investasi dan PDB. Indikator sosial dan lingkungan juga harus menjadi acuan," jelasnya.

Baca juga : Ranty Maria, Siapkan Intimate Wedding Di Pantai

Unggul juga merekomendasikan prinsip-prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) untuk dimasukkan ke dalam parameter penilaian kinerja investasi hilirisasi.

"Tidak cukup hanya melihat jumlah dan nominal investasi. Dampak sosial dan keberlanjutan lingkungan juga harus dinilai," tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.