Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ekonomi Tak Meroket ke 7 Persen, Istana Bilang Bukan Ingkar Janji
Minggu, 9 Februari 2020 08:20 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Janji Presiden Jokowi bikin ekonomi Indonesia meroket 7 persen belum juga terwujud. Lima tahun berkuasa, pertumbuhan ekonomi mandek di angka 5 persen. Bahkan target tiap tahun tak pernah tercapai. Namun, Istana tak terima Jokowi disebut ingkar janji.
Sejak 2014, target pertumbuhan ekonomi selalu meleset. Tahun lalu, juga begitu. Ditargetkan 5,3 persen, ekonomi hanya tumbuh 5,02 persen. Atau mengalami perlambatan dibanding 2018 yang tumbuh 5,17 persen.
Menghadapi kondisi itu, pejabat di Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian menepis, pemerintah ingkar janji. "Kalau menetapkan target kan bisa saja mundur atau maju, jadi target itu adalah perkiraan berdasarkan asumsi-asumsi. Jadi bukan melanggar janji," kata Donny dalam diskusi 100 Hari Kabinet Jokowi-Ma'ruf di Jakarta, kemarin.
Donny mengakui, angka pertumbuhan ekonomi 2019 memang tak mencapai target. Tapi angka 5,02 persen, sudah cukup memuaskan. Sudah mendekati target yang dipatok di angka 5,3 persen. "Sekali lagi target itu bukan janji," ucapnya.
Baca juga : Golkar Tegetkan Menang 60 Persen Di Pilkada Tahun Ini
Menurut dia, banyak faktor yang mempengaruhi realisasi target. Salah satu penyebabnya adalah faktor ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Ada perang dagang antara Amerika dan China. Yang terbaru ada wabah virus Corona yang memicu perlambatan ekonomi dunia.
Karena itu, dia minta, masyarakat melihat soal ini secara komprehensif. Meski target tak terealisasi, indikator pertumbuhan ekonomi cukup memuaskan. Angka kemiskinan menurun, begitu juga dengan angka pengangguran yang kini di angka sekitar 7 juta. "Indeks korupsi kita juga membaik. Jadi masih okelah dalam situasi yang tidak pasti," ujarnya.
Politikus PDIP Effendi Simbolon menyebut, salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi adalah soal likuiditas pasar keuangan. Kondisi pasar keuangan dan investasi saat ini kurang bergairah. Akibatnya menyebabkan efek domino ke bawah. "Ini harusnya dikoreksi, mungkin salah satunya Pak Jokowi harus mengganti menterinya," kata Effendi, di lokasi yang sama.
Reshuffle, lanjut dia, bisa membuat sektor keuangan lebih bergairah. Dia menilai, dalam 100 hari pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, ada sejumlah menteri yang tak dapat menunjukkan kemampuannya.
Baca juga : Mendagri Kerahkan 8 Ribu Personil Gabungan TNI dan Polri
Wakil Direktur Indef, Eko Listiyanto mengaku, tak kaget dengan realisasi pertumbuhan ekonomi 2019. Dia bilang, penyebab kelambatan ekonomi domestik lebih karena persoalan internal. Bukan karena masalah eksternal semata. "Jadi jangan sedikit-sedikit pemerintah menyalahkan faktor global," kata Eko, kemarin.
Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi yang stagnan di 5 persen karena lemahnya fundamental ekonomi. Pertumbuhan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga secara tetus menerus. Akibatnya ekonomi sangat rapuh. "Belum lagi inflasi pangan terus menekan daya beli rumah tangga" ujarnya.
Menurut Eko, ekonomi nasional yang digadang-gadang menjadi perekonomian terbesar keempat dunia pada 2045 akan sulit direalisasikan. Sebab, untuk sampai ke perekonomian terbesar keempat di dunia perlu pertumbuhan di atas 6 persen per tahun.
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah memprediksi, perlambatan ekonomi akan terus berlanjut di 2020. Pertumbuhan di kuartal I akan sangat berat lantaran wabah virus corona. Ia memprediksi, pertumbuhan kuartal I akan di bawah 5 persen. Karena virus corona, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara menurun drastis. Hal ini menyebabkan efek berantai pada pendapatan hotel dan restoran. Penutupan penerbangan juga menghambat masuknya impor bahan baku serta terhambatnya investasi.
Baca juga : Komisi VI Dorong Pertamina Rampungkan Digitalisasi SPBU
Seberapa besar dampaknya? Menurut dia, sangat bergantung berapa lama wabah itu bisa diatasi. Semakin lama, semakin besar dampaknya pada perekonomian Indonesia. "Realisasi pertumbuhan tahun ini akan sangat berat," pungkasnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya