Dark/Light Mode

Muncul Modus Baru Di Sektor Keuangan

Hati-hati Transaksi, Jaga Data Pribadi

Minggu, 21 September 2025 06:35 WIB
Ekonom dari Center of Eco­nomic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. (Foto: Instagram/nailul_huda)
Ekonom dari Center of Eco­nomic and Law Studies (Celios) Nailul Huda. (Foto: Instagram/nailul_huda)

 Sebelumnya 
Terpisah, Direktur Digital Business Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) Farah Fitria Rahmayanti men­gamini, literasi digital yang ma­sih rendah membuat masyarakat rentan menjadi korban.

Alhasil, fenomena deepfake dan scam digital semakin marak terjadi dan menimpa kelompok yang sudah terdidik.

“Saat ini yang paling sering kan terjadi deepfake, lalu scam digital yang tumbuh sangat cepat,” imbuhnya.

Padahal menurutnya, peng­gunaan kecerdasan buatan harus bersifat inklusif agar manfaatnya dirasakan semua lapisan masyarakat.

Baca juga : Investasi Meningkat Dan Lapangan Kerja Terbuka

Karenanya, pemahaman semua pihak dalam menghadapi risiko digital, seperti serangan siber dan deepfake harus diperkuat.

“Sebab jika tidak siap, maka apa yang sudah dibangun akan mudah diserang,” ucap Farah, dalam acara Digital Resilience Summit 2025 di Jakarta, Kamis (11/9/2025).

Farah berharap, ada integrasi teknologi mutakhir antara cy­ber security, AI dan kuantum teknologi dengan tata kelola keamanan digital. Sehingga, data privasi tetap terjaga.

Selain itu, peran regulator dalam menetapkan standar tata kelola dan etika penggunaan teknologi juga sangat penting. Mengingat, teknologi selalu punya dua sisi, ancaman sekaligus peluang.

Baca juga : Program 1 RT 1 APAR Ditunggu Kelanjutannya

Saat ini Pemerintah sudah memiliki aturan yang terbuka untuk publik, terkait AI.

“Regulator perlu menetapkan standar-standar, bagaimana tata kelola dan etika bisa dilaksanakan,” ucap Farah.

Terpenting, membangun ketahanan digital adalah tugas bersama. Dengan begitu, teknologi dapat dikelola sebagai peluang, bukan ancaman.

“Digital resilience itu penting untuk seluruh pihak dan kita ha­rus bersama-sama membangunnya,” katanya.

Baca juga : Dony Oskaria Sinkronkan BUMN Dengan Danantara

Sementara, Chief Technology Officer DANA Indonesia Nor­man Sasono menyampaikan, di balik kemudahan transaksi digi­tal, ancaman penipuan online juga semakin marak.

Menurutnya, hal ini pun dira­sakan langsung masyarakat Jawa Barat dan Banten, yang masih menghadapi berbagai risiko digital. Yakni, mulai dari penyalahgunaan akun untuk menipu teman atau keluarga hingga per­mintaan transfer untuk program donasi atau crowdfunding palsu.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.