Dark/Light Mode

Harga Bitcoin Melemah Usai Shutdown AS Berakhir, Ini Penyebabnya

Minggu, 16 November 2025 10:00 WIB
Vice President INDODAX Antony Kusuma. (Foto: dok INDODAX)
Vice President INDODAX Antony Kusuma. (Foto: dok INDODAX)

RM.id  Rakyat Merdeka - Harga aset kripto, khususnya Bitcoin, kembali bergerak melemah setelah menembus ke bawah level US$96.000 pada Jumat, meskipun pemerintah Amerika Serikat resmi kembali beroperasi usai Presiden Donald Trump menandatangani rancangan anggaran yang mengakhiri shutdown selama 43 hari pada Rabu malam (13/11/2025).

Shutdown terpanjang dalam sejarah AS itu berakhir dengan pemulihan pendanaan federal hingga 30 Januari 2026. Dengan beroperasinya kembali lembaga-lembaga kunci seperti Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC), pasar semula memperkirakan adanya respons positif. Namun, reaksi pasar kripto justru relatif datar, sementara tekanan pada Bitcoin masih berlanjut.

Gangguan akibat shutdown sebelumnya menyebabkan tertundanya sejumlah rilis data ekonomi penting, termasuk indeks harga konsumen (CPI) dan laporan pekerjaan nonfarm payrolls untuk Oktober 2025. Data inflasi terakhir menunjukkan tekanan harga yang masih berlanjut, dengan inflasi tahunan AS naik menjadi 3 persen pada September dari 2,9 persen pada Agustus, sedikit di bawah perkiraan pasar 3,1 persen. Angka tersebut masih menjadi acuan utama Federal Reserve karena data terbaru belum tersedia.

Baca juga : Shutdown Pemerintahan AS Berakhir, Jutaan Pegawai Yang Di-PHK Kembali Bekerja

Seiring normalnya kembali aktivitas regulator seperti SEC dan CFTC, fokus pasar beralih pada agenda regulasi kripto, termasuk proses persetujuan ETF kripto dan lanjutan pembahasan regulasi stablecoin. Kondisi ini dinilai dapat menjadi landasan jangka panjang bagi perkembangan industri, meski tekanan inflasi tetap menjadi perhatian.

Vice President INDODAX Antony Kusuma menilai pergerakan harga saat ini merupakan fase konsolidasi menuju pematangan pasar. Menurut dia, kebijakan suku bunga Federal Reserve masih menjadi faktor penentu utama arah pergerakan harga Bitcoin.

“Kebijakan suku bunga The Fed memiliki imbas terhadap pergerakan harga Bitcoin. Selama arah kebijakan belum pasti, volatilitas pasar akan tetap tinggi karena investor menunggu kejelasan sebelum kembali masuk,” ujarnya.

Baca juga : Biaya Besar untuk Ambil Air Pegunungan, Ini Penjelasan Pakar

Antony menambahkan bahwa potensi sinyal pemangkasan suku bunga pada Desember dapat menjadi titik balik penting. Perubahan arah kebijakan moneter dinilai membuka peluang pemulihan harga di pasar kripto global.

Di tengah tekanan jangka pendek, ia menegaskan bahwa dinamika harga saat ini mencerminkan fluktuasi normal aset digital di tengah ketidakpastian global. “Penurunan harga Bitcoin di bawah 100.000 dolar AS dipengaruhi beberapa faktor makro eksternal. Dengan berakhirnya shutdown dan regulator kembali aktif, pasar memiliki ruang untuk menata ulang arah dalam beberapa minggu ke depan,” katanya.

Ia mengimbau investor agar tidak bereaksi berlebihan terhadap volatilitas. “Investor perlu tetap tenang dan fokus pada manajemen risiko. Koreksi seperti ini adalah bagian dari mekanisme pasar. Setiap investor perlu meninjau kembali strategi investasi jangka panjang sesuai profil risiko masing-masing,” ujar Antony.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.