Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengamat Energi Ali Ahmudi
Hilirisasi Timah Penentu Industrialisasi, MIND ID Kudu Gaspol Ekosistem Hilir
Jumat, 21 November 2025 15:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat energi Ali Ahmudi menilai, hilirisasi timah di Indonesia sudah memasuki fase penting bagi industrialisasi nasional. Ali berpendapat, PT Timah Tbk sebagai bagian dari MIND ID, telah melakukan langkah hilirisasi nyata poprzez produksi tin solder, tin chemical, hingga tin powder. Namun, perkembangan industri hilir nasional masih berjalan lamban. Butuh kebijakan besar untuk mempercepat.
Dari hilirisasi yang dilakukan PT Timah, Ali menilai Indonesia memiliki kemampuan teknis dan kapasitas industri untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
“PT Timah sudah memulai hilirisasi beyond ingot. Produksi tin solder dan tin chemical menandai bahwa kita sudah masuk fase industrialisasi awal. Tetapi untuk menjadi pemimpin global, struktur hulu dan hilirnya masih harus dibenahi secara menyeluruh,” ujarnya.
Mengacu Data Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), saat ini PT Timah Industri memproduksi tin solder sebanyak 2.000 ton per tahun, tin chemical 21.000 ton per tahun, dan tin powder 100 ton per tahun.
Di luar itu, hanya sedikit perusahaan yang tengah membangun fasilitas hilirisasi dengan kapasitas terbatas. Mulai dari pabrik tin solder 4.000 ton per tahun hingga rencana produksi 40.000 ton tin solder oleh PT Tri Charislink Indonesia, serta pengembangan tin chemical 16.000 ton oleh PT Batam Timah Sinergi.
Industri hilir seperti PT Solderindo, memiliki kapasitas 48.000 ton. Sedangkan PT Latinusa mempunyai kapasitas tin plate 160.000 ton per tahun.
Baca juga : Wamenperin: SBIN Jadi Arah Baru Industrialisasi Nasional
"Kenyataan bahwa hanya segelintir perusahaan yang berhasil membangun fasilitas hilir membuktikan, ekosistem hilirisasi timah Indonesia belum terbentuk secara optimal," papar Ali.
Alasannya, Indonesia masih menghadapi hambatan struktural yang kuat. Mulai dari keterbatasan permintaan domestik, hingga beban regulasi yang justru melemahkan daya saing industri dalam negeri.
“Kita ini punya cadangan besar, tapi industri turunannya belum tumbuh. Ekosistem hilirnya masih tipis. Banyak pelaku yang sebenarnya mampu, tapi terbentur fiskal, regulasi, dan minim insentif,” jelas Ali.
Ali mendata, ada lima hal yang menyebabkan hilirisasi timah nasional berjalan lambat. Pertama, belum terbentuknya ekosistem industri hilir timah. Sehingga, aplikasi logam timah dalam berbagai sektor manufaktur masih sangat kecil.
Baca juga : Menperin Hadiri Teknofest Turki, RI Siap Bangun Ekosistem Teknologi
Kedua, pengenaan PPN terhadap bahan baku logam timah membuat biaya produksi tin solder dalam negeri kalah bersaing. Ketiga, impor tin solder yang tidak dikenakan bea masuk, menyebabkan produk lokal tidak kompetitif.
Keempat, regulasi ekspor masih membatasi spesifikasi produk. Sementara pasar global sangat bervariasi. Kelima, pelaku industri hilir tidak memperoleh insentif fiskal, finansial, maupun dukungan kawasan industri. Mereka bergerak sendiri tanpa kebijakan afirmatif.
Persoalan ini, kata Ali, harus dijawab melalui rekayasa kebijakan yang komprehensif. Terutama, karena timah merupakan komoditas strategis yang menopang banyak industri teknologi.
Menurutnya, Indonesia berpotensi menjadi pusat industrialisasi material berbasis timah, apabila hilirisasi dijadikan agenda nasional bersama MIND ID sebagai lokomotifnya.
“MIND ID punya mandat besar. Dukungan terhadap PT Timah itu kunci. Kalau hilirisasi timah didorong sebagai bagian dari industrialisasi domestik, rantai pasok elektronik, otomotif, energi, semuanya bisa tumbuh di dalam negeri,” ujarnya.
Ali menekankan, keberhasilan hilirisasi timah bergantung pada empat pilar utama. Yakni penjaminan pasokan legal dan berkelanjutan, peningkatan kualitas produk dan teknologi proses, pembangunan ekosistem industri domestik yang kuat, serta penempatan positioning global melalui standar ESG dan inovasi. Tanpa itu, Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan mentah, meski cadangannya termasuk terbesar di dunia.
“Tin solder dan tin chemical adalah langkah awal. Transformasi lebih besar masih harus dibangun. Kalau kebijakan fiskal diperkuat, insentif diperjelas, dan ekosistem industrinya dipercepat, Indonesia bisa naik kelas dan memainkan peran global,” tegasnya.
Ali menambahkan, hilirisasi timah harus diperlakukan tidak hanya sebagai program sektoral, tetapi juga sebagai prioritas industri nasional.
Baca juga : Hilirisasi Makin Digeber, Investasi Tembus Rp 10 T
Dia percaya, MIND ID dapat menjadi pengungkit utama yang memimpin konsolidasi ekosistem, memperkuat rantai pasok, serta mendorong tumbuhnya permintaan domestik.
“Dengan peran MIND ID yang semakin strategis, hilirisasi timah bisa menjadi fondasi industrialisasi Indonesia. Ini momentum besar yang tidak boleh hilang,” tandas Ali.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya