Dark/Light Mode

Sinergi BPR, SCF dan Koperasi Dorong Ekosistem Keuangan Terintegrasi untuk UMKM

Kamis, 12 Februari 2026 18:44 WIB
Foto: BPR.
Foto: BPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Upaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar semakin berkembang dinilai tidak bisa dilakukan secara parsial.

Diperlukan sinergi antara Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Securities Crowdfunding (SCF), dan koperasi untuk membangun ekosistem keuangan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Kesimpulan tersebut mengemuka dalam seminar bertema ekosistem keuangan terintegrasi bagi UMKM yang digelar di Hotel Neo+ Airport Jakarta, Cengkareng Business City, Kota Tangerang, Rabu (11/2/2026).

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Ednaz Hermawan, ST, CPT dari Direktorat Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kemudian, Managing Director Tri Capital Investama (TC Invest) yang juga mewakili manajemen BPR TCI Sumbar Agus Jamiatul Firdaus.

Lalu, Direktur Utama FundEx Farid Nugraha, Operational Director TC Invest M Dedi Gunawan, serta Ketua Koperasi TC Invest Iqbal Alan Abdullah.

LEdnaz Hermawan menyoroti bahwa peluang pembiayaan bagi UMKM sebenarnya sangat terbuka. OJK dan Bank Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor UMKM, yang jumlahnya mencapai 58 juta unit atau sekitar 98 persen dari total pelaku usaha di Indonesia.

Beragam skema pembiayaan seperti KUR dan Kredit Industri Padat Karya juga telah tersedia.

Baca juga : Perkuat Ekosistem Gaming Terpadu, HP Luncurkan HyperX OMEN

Namun demikian, ia mempertanyakan sejauh mana pelaku UMKM memahami berbagai produk pembiayaan tersebut.

"Saya kira di sinilah pentingnya literasi dan inklusi keuangan bagi UMKM perlu terus dilakukan sebagaimana juga dilakukan di OJK," sambungnya.

Sementara Iqbal Alan Abdullah menegaskan, salah satu persoalan utama UMKM adalah akses pendanaan yang terjangkau. Kendala administratif, jaminan, hingga aspek manajerial kerap menjadi hambatan.

Menurutnya, solusi yang dibutuhkan bukan hanya pembiayaan sesaat, melainkan ekosistem yang mampu mendampingi UMKM sesuai tahap pertumbuhannya.

”Jadi kami melihat perlunya membangun ekosistem ini. Yang ultra mikro ini kita besarkan di koperasi, kemudian naik kelas lagi maka kita dorong dia dibantu oleh BPR, setelah itu naik kelas lagi kemudian gabung ke securities crowdfunding. Hal ini sudah terbukti di TC Invest,” ujar Iqbal.

Dia menegaskan selama ini selain membantu UMKM, pihaknya membantu program pemerintah lainnya seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan ketahanan pangan, penyediaan perubahan subsidi dan lainnya.

Ekosistem tersebut telah dikembangkan dalam TC Invest Group melalui Koperasi Jasa Tri Capital Investama, BPR Tri Capital Investama Sumbar, dan FundEx sebagai platform securities crowdfunding.

Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan hingga UMKM benar-benar tumbuh kuat dan mandiri.

Baca juga : Perkuat Fondasi Bisnis, PGN Tingkatkan Kompetensi SDM Dan Ekosistem Kerja

Operational Director TC Invest M Dedi Gunawan menambahkan, kolaborasi tiga pilar ini menjadi kunci penguatan UMKM, yakni koperasi sebagai community-based finance, BPR sebagai perbankan mikro formal, dan SCF sebagai akses pasar modal digital.

Ia menjelaskan, tahapan sinergi dimulai dari inkubasi oleh koperasi melalui pembinaan, pembiayaan mikro, serta pendampingan legalitas dan laporan keuangan sederhana.

Selanjutnya, UMKM naik ke tahap scale up melalui pembiayaan BPR berbasis sistem perbankan dan peningkatan bankability. Tahap akhir adalah ekspansi lewat SCF melalui penghimpunan dana publik dalam bentuk saham atau sukuk.

”Sinergi semacam ini akan sangat bermanfaat. Untuk UMKM pembiayaan berjenjang dan berkelanjutan, untuk koperasi ekosistem dan diversifikasi pendapatan, untuk BPR pipeline debitur berkualitas, dan untuk SCF deal flow UMKM terkurasi,” ucap Dedi.

Kinerja BPR dan Peran SCF

Mewakili manajemen BPR TCI Sumbar, Agus Jamiatul Firdaus memaparkan bahwa kinerja BPR TCI Sumbar sepanjang 2025 menunjukkan hasil positif.

Laba meningkat hampir 100 persen dibanding 2024 menjadi Rp.712.043.439, dengan total aset Rp 74,84 miliar dan pendapatan operasional Rp 9.261.465.806.

Rasio keuangan bank juga dalam kondisi sehat, dengan ROA 1,35 persen, LDR 94,60 persen, Cash Ratio 22,00 persen, NPL Gross 3,81 persen, dan NPL Neto 2,83 persen.

Permodalan dinilai memadai untuk mendukung ekspansi usaha secara terukur. Menurut Agus, integrasi dengan koperasi dan SCF memberi banyak manfaat bagi BPR.

Baca juga : Sinergi BSI dan Kadin Dorong UMKM Naik Kelas

Mulai dari peningkatan kualitas debitur, penurunan NPL, efisiensi operasional, hingga peluang pendapatan baru berbasis fee based income. Selain itu, kerja sama ini memperkuat citra BPR sebagai institusi yang progresif dan inovatif.

Direktur FundEx Farid Nugraha menambahkan bahwa TCI Group membuka akses pendanaan bagi UMKM dalam berbagai kondisi agar tetap dapat tumbuh.

FundEx memiliki visi mendukung pengusaha lokal melalui akses pendanaan yang luas dan mudah, sekaligus menyediakan instrumen investasi dengan risiko terukur bagi investor.

Platform ini menawarkan alternatif pengembangan bisnis, pendampingan penguatan merek, dukungan mitra strategis, pilihan produk investasi dengan risiko terukur, potensi imbal hasil menarik, serta kemudahan investasi berbasis teknologi finansial.

Melalui kolaborasi terintegrasi antara koperasi, BPR, dan securities crowdfunding, diharapkan UMKM Indonesia dapat berkembang secara berjenjang, berkelanjutan, dan semakin tangguh menghadapi dinamika ekonomi global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.