Dark/Light Mode

BRI Cetak Laba Rp57,132 T Dukung Asta Cita Pemeritah, Perkuat Ekonomi Rakyat

Kamis, 26 Februari 2026 21:38 WIB
Direktur Utama BRI Hery Gunardi (kedua kiri) dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025 di Kantor Pusat BRI Jakarta, Kamis (26/2/2026). (Foto: Dok. BRI)
Direktur Utama BRI Hery Gunardi (kedua kiri) dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025 di Kantor Pusat BRI Jakarta, Kamis (26/2/2026). (Foto: Dok. BRI)

 Sebelumnya 
Akuisisi dan retensi nasabah juga diperkuat melalui kolaborasi lintas unit dan cross-selling produk, yang ditopang melalui peningkatan kapabilitas Relationship Manager (RM).

Langkah ini bertujuan memperbaiki cost of fund sekaligus menjaga stabilitas likuiditas jangka panjang.

Adapun, segmen ritel, penguatan difokuskan pada pengembangan SuperApp BRImo dan ekosistem pembayaran.

Di segmen SME dan Wholesale, QLola terus dikembangkan sebagai platform transaksi terintegrasi untuk layanan cash management, trade finance, dan foreign exchange.

Melalui strategi ini, BRI tidak hanya berperan sebagai lender, tetapi juga sebagai transaction bank utama bagi nasabah.

Selanjutnya, pada pilar kedua transformasi, melalui Revamp Existing Core and Build New Core, BRI memastikan bisnis inti tetap kuat sekaligus menciptakan sumber pertumbuhan baru.

Penguatan proses bisnis mikro dilakukan dengan menjaga kualitas aset serta meningkatkan produktivitas. Sementara itu, dalam menciptakan sumber pertumbuhan baru, BRI pun mempercepat ekspansi bisnis konsumer melalui penguatan mortgage, auto loan, optimalisasi payroll, hingga penguatan layanan wealth management.

Perseroan juga memperkuat ekosistem gadai emas melalui integrasi outlet dan kanal digital.

Sementara itu, pada segmen Commercial dan Corporate, pertumbuhan didorong melalui pendekatan end-to-end ecosystem, yang melibatkan penguatan sektor unggulan, serta akuisisi CASA berkualitas berbasis value chain dengan tetap menjaga manajemen risiko yang prudent.

Kedua pilar transformasi ini ditopang oleh enam fondasi, yakni penguatan Human Capital, Risk Management, IT dan Digital, Distribution, Operational Excellence, serta Rebranding.

Baca juga : KPKI Dukung Program Pemerintah Perkuat Kawasan Kepabeanan

Tak hanya itu, sebagai bagian dari transformasi BRIVolution Reignite, BRI pun secara bertahap mengimplementasikan inisiatif strategis untuk meningkatkan produktivitas transaksi sekaligus memperkuat kualitas aset secara berkelanjutan.

Dari sisi Retail Funding & Transaction, BRI mengoptimalkan digital channel untuk meningkatkan engagement dan volume transaksi di seluruh lini.

Inisiatif tersebut dijalankan melalui berbagai program bagi merchant dan pengguna QRIS, serta perluasan penetrasi BRImo.

Langkah ini pun berkontribusi pada peningkatan basis pengguna BRImo menjadi 45,9 juta atau tumbuh 18,9 persen YoY.

Tak hanya itu, volume transaksi merchant BRI pun meningkat 48,1 persen YoY menjadi Rp223,2 triliun.

Hal ini tak lepas dari berbagai program yang telah dijalankan, seperti Merchant Lucky Ride.

Selanjutnya, dalam melakukan transformasi, BRI juga membuka sumber pertumbuhan baru melalui pengembang new growth engines.

Di segmen Consumer, ekspansi difokuskan pada payroll loan, penguatan KPR melalui kerja sama developer tier-1, percepatan auto loan melalui sinergi dengan BRI Finance, serta pengembangan wealth management.

Sebagai bagian integral dari agenda transformasi menyeluruh BRIVolution Reignite, fase transformasi ini turut diiringi dengan peluncuran penyegaran identitas korporasi melalui inisiatif corporate rebranding dengan semangat baru:

“Satu Bank Untuk Semua yang sukses dilaksanakan pada Desember 2025 lalu. Melalui semangat baru.

Baca juga : Menkop: Festival Kopdes Merah Putih 2026 Perkuat Ekonomi Kerakyatan

“Satu Bank Untuk Semua, pembaruan ini merefleksikan komitmen BRI untuk tetap relevan, adaptif, dan hadir di setiap fase kehidupan masyarakat. BRI berupaya memastikan bahwa setiap ambisi, sekecil apa pun, dapat terwujud serta memberikan dampak nyata bagi kemajuan negeri.

Dengan berbagai inisiatif transformasi yang telah berjalan, kinerja keuangan BRI hingga akhir 2025 pun menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dan berkelanjutan.

Tercatat, total aset BRI tumbuh 7,2 persen YoY, menjadi Rp2.135 triliun. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI juga menunjukkan peningkatan yang solid, didorong oleh pertumbuhan dana murah (CASA) yang terus menguat.Total dana pihak ketiga tercatat tumbuh 7,4 persen YoY menjadi Rp1.467 triliun.

Di samping itu, porsi dana murah yang terus meningkat, memberikan dampak yang positif terhadap Cost of Fund (CoF) BRI.

Tercatat CoF dana pihak ketiga pada akhir 2025 sebesar 2,9 persen atau membaik dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar 3,1 persen.

Pada sisi intermediasi, kredit BRI tumbuh 12,3 persen YoY menjadi Rp1.521 triliun, dengan fokus penyaluran kepada segmen UMKM.

Capaian ini melampaui pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang 2025 yang sebesar 9,6 persen. Pertumbuhan tersebut tetap dijaga secara prudent dan sehat, tercermin dari rasio NPL sebesar 3,07 persen pada akhir Triwulan IV 2025.

Pada saat yang sama, Loan at Risk (LaR) berhasil ditekan dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen di akhir 2025.

“Perbaikan fundamental kinerja BRI tersebut berdampak positif terhadap capaian laba perseroan. Hingga akhir Triwulan IV 2025 BRI berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp57,132 triliun,” ujar Hery.

Direktur Treasury & International Banking BRI Faridha Thamrin pun menyampaikan bahwa pertumbuhan aset selama tahun 2025 didominasi oleh pertumbuhan kredit dan pembiayaan sebesar Rp167 triliun YoY yang sebagian besar merupakan pertumbuhan pada kredit segmen UMKM.

Baca juga : Pertamina Paparkan Strategi Swasembada Energi & Penguatan Ekonomi Rakyat di DPR

Hal tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus mendukung penguatan sektor riil, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, sebagai pilar utama perekonomian nasional.

Di sisi Dana Pihak Ketiga, fokus strategi BRI untuk penguatan CASA terlihat dari pertumbuhan Giro yang mencapai 19,7 persen secara year on year  dan pertumbuhan tabungan sebesar 7,9 persen YoY.

Ini menandakan kepercayaan masyarakat yang terus meningkat dengan semakin kuatnya dana murah Perseroan. Jika dilihat dari struktur pendanaan, DPK BRI semakin kuat dengan rasio CASA meningkat 331 bps YoY, didorong oleh pertumbuhan tabungan ritel yang konsisten.

Secara konsolidasi, total DPK tumbuh 7,4 persen YoY menjadi Rp1.466,8 triliun, dengan pertumbuhan CASA mencapai 12,7 persen YoY.

Kenaikan giro mencapai 19,7 persen YoY, dan tabungan tumbuh 7,9 persen YoY, sehingga mendorong CASA ratio meningkat hingga 70,6 persen, menandakan biaya dana yang semakin efisien.

Dari sisi segmen, non-wholesale menjadi motor utama, terutama tabungan yang terus meningkat dan menopang stabilitas dana murah.

Sementara, wholesale relatif stabil, dengan pergeseran komposisi ke giro yang tumbuh kuat, sementara deposito cenderung moderat.

Secara keseluruhan, ini menunjukkan strategi BRI dalam memperkuat transaction-led relationships, menjaga likuiditas, dan meningkatkan kualitas pendanaan yang lebih berkelanjutan.

Kapasitas BRI untuk terus tumbuh secara sehat pun ditopang oleh likuiditas yang solid, hal tersebut tercermin dari rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank berada di level yang ample sebesar 91,4 persen.

“Kedisiplinan dalam pengelolaan likuiditas terus menjadi fondasi utama bagi BRI dalam menjaga efisiensi biaya dana dan memastikan struktur dana pihak ketiga (pendanaan) yang optimal,” ujar Farida Thamrin.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.