Dark/Light Mode

Nasabah Diimbau Waspada, Penipu Siber Gencar Cari Mangsa Selama Ramadan

Jumat, 27 Februari 2026 06:35 WIB
Ilustrasi, kejahatan penipuan siber. (Foto: Dibuat oleh AI/Chatgpt)
Ilustrasi, kejahatan penipuan siber. (Foto: Dibuat oleh AI/Chatgpt)

 Sebelumnya 
Perseroan mengimbau nasabah untuk selalu memeriksa alamat pengirim, dan memastikan pesan berasal dari sumber resmi. 

Nasabah diminta tidak membuka lampiran dari pengirim tidak dikenal, mengaktifkan autentikasi dua faktor (Two-Factor Authentication/2FA), serta menggunakan kata sandi yang kuat dan unik. 

“Nasabah tidak boleh membagikan data pribadi, Personal Identification Number (PIN), password, maupun kode OTP kepada siapapun, termasuk pihak yang mengaku dari bank,” warning Okki. 

Baca juga : Yuk, Jaga Dan Rawat Maroedja Sport Park

Dia menekankan, BNI sangat fokus pada keamanan digital. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama antara bank dan nasabah. 

“Dengan meningkatkan literasi dan kewaspadaan dalam bertransaksi, masyarakat diharapkan dapat menjaga keamanan dana, termasuk THR, dari ancaman kejahatan siber yang kian berkembang,” ucapnya. 

Jika menemukan aktivitas mencurigakan atau dugaan phishing, masyarakat dapat melaporkannya melalui email [email protected] atau menghubungi BNI Call 1500046. 

Baca juga : Tarian Vinicius Akhiri Benfica

Informasi resmi BNI juga hanya disampaikan melalui kanal resmi perusahaan, termasuk akun media sosial terverifikasi. 

Selain itu, pengaduan dugaan penipuan yang melibatkan rekening BNI dapat disampaikan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui laman iasc.ojk.go.id

Berdasarkan laporan berbagai lembaga keamanan siber nasional, serangan phishing dan social engineering cenderung meningkatsignifikan menjelang periode belanja besar, seperti Ramadan dan Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional). 

Baca juga : Hasil Undial All England 2026, Jojo Hadapi Lawan Berat Di Laga Pembuka

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Persadha mengatakan, modus yang paling banyak ditemukan adalah phishing berbasis pesan instan, impersonasi customer service, serta penyalahgunaan tautan pelacakan pengiriman palsu. 

“Risiko keamanan transaksi online masih menjadi tantangan nyata di Indonesia dan tanggung jawab bersama untuk menjawab tantangan ini,” kata Pratama kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.