Dark/Light Mode

Kemenperin: Konflik Timteng Tak Berdampak Signifikan Pada Industri Agro

Selasa, 10 Maret 2026 20:36 WIB
Foto: Aditya/RM
Foto: Aditya/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak memberikan dampak signifikan terhadap kinerja industri agro nasional.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan sektor industri agro Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap gejolak geopolitik global karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari dalam negeri.

“Industri agro itu kan pengolahan hasil-hasil alam kita. Jadi untuk bahan baku utama tidak ada isu yang berkaitan langsung dengan konflik di Timur Tengah,” kata Putu saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, sebagian besar bahan baku industri agro seperti minyak goreng, produk pangan olahan, serta berbagai komoditas berbasis pertanian dipasok dari dalam negeri sehingga konflik di kawasan Timur Tengah tidak secara langsung mengganggu ketersediaan bahan baku.

Baca juga : Bazaar Lebaran Kemenperin Kerek Konsumsi Produk Industri Dalam Negeri

Selain itu, kebutuhan impor bahan baku untuk industri agro juga umumnya tidak berasal dari negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Sebagai contoh, bahan baku gula industri seperti gula rafinasi lebih banyak diimpor dari negara seperti Australia, Thailand, serta kawasan Amerika Latin.

Ia menambahkan sebagian bahan baku impor yang dibutuhkan industri juga telah lebih dulu masuk ke dalam negeri sebelum konflik di kawasan tersebut terjadi.

Meski demikian, Putu mengakui dinamika geopolitik global tetap berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung bagi industri, terutama pada aspek biaya distribusi dan logistik.

Baca juga : Konflik Timur Tengah: AS Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Rusia

“Dampaknya lebih kepada biaya pengangkutan atau logistik,” ujarnya.

Karena itu, Kemenperin terus memantau perkembangan situasi global guna mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap rantai pasok maupun perubahan biaya logistik yang dapat memengaruhi sektor industri.

“Alternatif-alternatif juga sudah kami siapkan agar tidak begitu berdampak pada industri agro,” kata Putu.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi memicu volatilitas harga energi global serta mengganggu jalur perdagangan internasional.

Baca juga : China Minta Konflik Timteng Segera Berakhir, Ingatkan Ancaman Energi Global

Menurut dia, eskalasi konflik di kawasan tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya logistik serta memengaruhi kelancaran rantai pasok bahan baku industri.

“Kami terus memonitor perkembangan konflik di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat energi dunia dan jalur logistik global yang sangat penting,” kata Agus.

Ia menambahkan salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah potensi gangguan distribusi energi global, termasuk kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Sekitar seperlima pasokan minyak global diketahui melewati jalur tersebut sehingga setiap gangguan di kawasan itu berpotensi memengaruhi harga energi dan biaya operasional sektor industri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.