Dark/Light Mode

Penerimaan Pajak Januari-Maret Meningkat 20,7%

Ekonomi RI Tumbuh

Selasa, 7 April 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama (dari kiri) Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Marbun, Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu dan Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama (dari kiri) Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Robert Marbun, Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Nathan Kacaribu dan Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)

 Sebelumnya 
“Percepatan belanja ini memang by design agar kementerian dan lembaga bisa bekerja lebih cepat,” tegasnya. 

Moncernya penerimaan negara dari sektor pajak di Triwulan I-2026 mendapat apresiasi dari Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun. Politisi Golkar itu menekankan pentingnya transparansi pemerintah, khususnya terkait kesiapan fiskal menghadapi lonjakan harga minyak dunia. 

Misbakhun menilai, kesiapan tersebut penting agar masyarakat yakin pemerintah mampu menjaga stabilitas, termasuk tidak menaikkan harga BBM. Menurutnya, penerimaan negara harus menjadi fondasi kuat untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan global. 

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai, salah satu faktor yang berpengaruh adalah perbaikan pada sistem administrasi perpajakan Coretax. Samirin bilang, kinerja Coretax menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. 

Baca juga : Purbaya Tenangkan Rakyat

Samirin juga menyoroti kemungkinan pengaruh dari mekanisme restitusi pajak terhadap angka penerimaan yang tercatat saat ini. 

Menurutnya, apabila restitusi pajak pada tahun ini belum sepenuhnya direalisasikan, maka penerimaan pajak bersih dapat terlihat lebih tinggi secara statistik. 

Wijayanto juga menilai, kenaikan penerimaan pajak juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Pada awal tahun ini terdapat beberapa momentum konsumsi yang terjadi berdekatan. Ia mencontohkan libur Natal dan Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, dan periode menjelang Lebaran. 

“Secara riil, ekonomi sesungguhnya sedang memburuk, daya beli masyarakat turun dan aktivitas dunia usaha melambat,” nilai Samirin kepada Rak­yat Merdeka. 

Baca juga : Bun Joi Phiau: Alarm Keras Kegagalan Pengelolaan Sampah

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, secara nominal peningkatan penerimaan pajak memang terlihat impresif. Namun, secara analitis perlu dicermati lebih jauh faktor-faktor yang mendorong kenaikan pajak. 

Rizal menjelaskan, kenaikan penerimaan pajak berpotensi dipengaruhi oleh sejumlah faktor teknis. Di antaranya percepatan pembayaran pajak pada awal tahun (front-loading), intensifikasi pengawasan perpajakan dan kemungkinan efek basis yang rendah pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Selain itu, kontribusi sektor tertentu terutama yang bersifat siklikal seperti komoditas juga dapat menciptakan ilusi perbaikan. 

“Padahal, tidak mencerminkan penguatan ekonomi yang merata di seluruh sektor,” nilai Rizal. 

Baca juga : Rani Mauliani: Percepat Pengelolaan Sampah Secara Modern

Rizal mengimbau agar Pemerintah mempertimbangkan berbagai indikator makroekonomi lainnya. Dia khawatir, lonjakan penerimaan pajak saat ini berpotensi tidak berkelanjutan apabila tidak diikuti oleh penguatan sektor produksi dan konsumsi secara luas. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.