Dark/Light Mode

Kajian Teosofi (21)

Bersilaturahim dengan Tumbuh-Tumbuhan

Minggu, 12 April 2026 05:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebuah hasil penelitian di Jepang melaporkan bahwa pohon anggrek yang dipelihara oleh majikan dengan penuh kasih sayang menghasilkan bunga yang jauh lebih indah dibandingkan dengan anggrek yang dirawat oleh tukang kebun.

Sang majikan merawat anggrek dengan motivasi cinta dan persahabatan, bukan semata-mata karena imbalan atau kepentingan materi. Sebaliknya, tukang kebun mungkin lebih dimotivasi oleh gaji yang dijanjikan.

Dalam merawat tanaman tersebut, bisa jadi tidak terjalin hubungan rasa atau silaturahim yang mendalam. Apa yang dilakukannya tidak lebih dari sekadar rutinitas formal.

Baca juga : Berguru Dari Pohon

Dalam sebuah hadis sahih dijelaskan bahwa suatu ketika Nabi melewati pemakaman Baqi dan tiba-tiba berhenti di dua makam yang baru. Para sahabat yang menyertainya bertanya mengapa beliau berhenti.

Nabi kemudian menjelaskan bahwa kedua penghuni makam tersebut sedang mengalami siksa. Yang pertama disiksa karena tidak menjaga kebersihan saat buang air kecil, dan yang kedua karena gemar mengadu domba serta menciptakan keonaran di masyarakat semasa hidupnya.

Nabi kemudian mengambil setangkai pohon dan menancapkannya di atas kedua makam itu. Beliau bersabda bahwa selama tangkai tersebut masih segar, selama itu pula siksaan keduanya akan diringankan.

Baca juga : Antara Denotatif dan Konotatif

Nabi juga menganjurkan umatnya untuk memelihara tanaman dan menghijaukan tanah-tanah tandus. Menanam dan merawat pohon merupakan perbuatan mulia dan berpahala.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Seandainya esok hari terjadi kiamat, maka tetaplah menanam pohon.” Dalam hadis lain dijelaskan bahwa tidaklah seseorang menanam tanaman, lalu dimakan oleh hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya. Nabi juga pernah melarang membunuh makhluk hidup dengan cara dibakar, seraya menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang berhak menyiksa dengan api.

Di balik persahabatan manusia dengan tumbuh-tumbuhan, terdapat hikmah besar bagi kehidupan manusia itu sendiri. Pembabatan hutan secara berlebihan jelas merugikan semua pihak, terutama manusia yang akan menghadapi banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana lainnya.

Baca juga : Teomorfisme Manusia Dan Pertolongan Tuhan

Cara pandang manusia modern yang kurang bersahabat dengan tumbuh-tumbuhan—terutama yang dianggap tidak produktif—sering mendorong upaya pemusnahan dan penggantian dengan tanaman yang lebih “menguntungkan” atau bahkan dengan bangunan. Padahal, mereka kerap tidak menyadari bahwa dengan menebang pohon, ratusan bahkan ribuan burung dan serangga yang hidup dan berkembang biak di dalamnya ikut kehilangan habitatnya.

Demikian pula rawa-rawa yang ditimbun demi kepentingan ekonomi sering mengorbankan kehidupan berbagai makhluk yang bergantung padanya. Akibatnya dapat ditebak: bencana alam akan mengancam kehidupan manusia. Ketika manusia tidak lagi bersahabat dengan tumbuh-tumbuhan, pada saat itulah masalah besar mulai muncul.

Semua orang mengetahui betapa besar manfaat tumbuh-tumbuhan dan pepohonan bagi kehidupan dan kesehatan manusia. Oleh karena itu, silaturahim dengan tumbuh-tumbuhan perlu dibangkitkan kembali, sebagaimana para leluhur kita dahulu memiliki kedekatan batin yang begitu kuat dengan alam.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.