Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
“Dengan pertumbuhan yang solid, inflasi yang terjaga, serta pemulihan intermediasi perbankan, Indonesia menunjukkan ketahanan yang konsisten di tengah tekanan eksternal,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Menurut Anton, bauran kebijakan BI tidak bersifat konvensional, melainkan terintegrasi dan adaptif. Kebijakan tersebut mencakup kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, kebijakan makroprudensial yang pro-pertumbuhan, serta penguatan sistem pembayaran guna mendukung aktivitas ekonomi dan digitalisasi.
BI juga menegaskan komitmennya menjaga stabilitas melalui pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur, penguatan instrumen moneter untuk menjaga daya tarik aset domestik, serta pengelolaan likuiditas yang hati-hati.
Baca juga : Badiul Hadi: Berpotensi Menyedot Anggaran Dan Pemborosan
Ia menambahkan, sinergi dengan pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan defisit di bawah 3 persen dan realokasi belanja ke sektor produktif, turut memperkuat kredibilitas kebijakan nasional. Dalam jangka menengah, Indonesia juga terus mendorong transformasi struktural menuju ekonomi bernilai tambah melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi.
“Rangkaian pertemuan ini memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga semakin adaptif dan kredibel dalam menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan berkelanjutan,” kata Anton.
Sebelumnya, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook April 2026 juga memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2026, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar 5,1 persen. ADB menilai pertumbuhan tersebut didukung oleh kuatnya permintaan domestik, meskipun risiko dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah tetap perlu diwaspadai.
Baca juga : Abidin Fikri: Tidak Ada Masalah Dengan Ide Tersebut
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ekonomi Indonesia tetap resilien di tengah tekanan global. Menurut dia, ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah. “Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen, dengan pertumbuhan kuartal pertama diperkirakan mencapai sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga, Selasa (14/4/2026).
Ia menambahkan, memasuki triwulan II 2026, kondisi ekonomi Indonesia tetap kuat, tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingginya kepercayaan konsumen.
Selain itu, sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi dengan indeks PMI sebesar 50,1, sementara cadangan devisa tercatat mencapai 148,2 miliar dolar AS. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya