Dark/Light Mode

Di Tengah Guncangan Geopolitik Global, Bos OJK: Sektor Jasa Keuangan Kita Stabil

Kamis, 7 Mei 2026 06:30 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDK) OJK secara virtual, Selasa (5/5/2026). (Foto: YouTube/Otoritas Jasa Keuangan)
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDK) OJK secara virtual, Selasa (5/5/2026). (Foto: YouTube/Otoritas Jasa Keuangan)

 Sebelumnya 
 

Perbankan Tumbuh Positif 

Selanjutnya, dari sisi kinerja intermediasi perbankan tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga, meskipun dunia masih dibayangi ketidakpastian kondisi geopolitik. 

Tercatat pada Maret 2026, kredit tumbuh sebesar 9,49 persen yoy menjadi sebesar Rp 8.659 triliun dibanding Februari 2026 sebesar 9,37 persen yoy. 

Baca juga : Agus-Purbaya Matangkan Stimulus Kendaraan Listrik

“Kinerja keuangan secara keseluruhan masih menunjukkan daya tahan yang solid, meski mulai terlihat tanda-tanda normalisasi di sejumlah indikator utama,” imbuh Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. 

Dian membeberkan, berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi tumbuh tertinggi yaitu sebesar 20,85 persen, diikuti oleh Kredit Konsumsi sebesar 5,88 persen, sedangkan Kredit Modal Kerja sebesar 4,38 persen. 

Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi yang tumbuh sebesar 14,88 persen yoy. 

Sementara kredit Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) telah menunjukkan perbaikan dengan tumbuh positif sebesar 0,12 persen yoy (di mana pada Februari 202 terkontraksi sebesar 0,56 persen yoy). 

Baca juga : Pemprov Siap Bangun Flyover & Underpass

Ditinjau dari kepemilikan, kredit bank BUMN tumbuh tertinggi, yaitu sebesar  13,66 persen yoy. Porsi produk kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,33 persen. 

Per Maret 2026, baki debet kredit BNPL sebagaimana dilaporkan dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), tumbuh sebesar 24,20 persen yoy menjadi Rp 28,3 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 30,81 juta. 

Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 13,55 persen yoy menjadi Rp 10.231 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 21,37 persen yoy, 11,57 persen yoy, dan 8,36 persen yoy. 

Likuiditas industri perbankan pada Maret 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 122,55 persen dan 27,85 persen. 

Baca juga : Tak Tersentuh, Arsenal Mentas Di Budapest

“Angka ini masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen,” jelas Dian. 

Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 193,64 persen, sedangkan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di level 128,84 persen. 

Sementara, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,14 persen dan NPL net terjaga di 0,83 persen. Loan at Risk (LaR) tercatat 8,94 persen. Secara umum, tingkat profitabilitas bank (Return of Asset/ROA) sebesar 2,47 persen. 

“Setelah memperhitungkan pembagian dividen, indikator permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 25,09 persen menandakan ketahanan permodalan perbankan yang kuat sebagai buffer mitigasi risiko yang memadai,” pungkasnya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.