Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pengamat Ekonomi: Pelemahan Mata Uang Terjadi Hampir Di Semua Negara
Rabu, 13 Mei 2026 07:06 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat ekonomi Dr. Surya Vandiantara menilai, pelemahan nilai tukar mata uang domestik terhadap dollar Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Sebagian besar negara Asia juga turut mengalami tekanan nilai mata uang domestik.
Menurutnya, salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah keberhasilan Amerika Serikat dalam memenangkan perang opini atau sentimen atas konflik yang terjadi dengan Iran.
"Konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan para investor dan pelaku bisnis memilih US$ sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibandingkan mata uang negara lainnya. Tentunya fenomena ini mampu meningkatkan permintaan terhadap US$ secara signifikan. Tingginya tingkat permintaan terhadap dolar Amerika inilah yang kemudian menyebabkan nilai dolar Amerika melambung tinggi," katanya.
Baca juga : Soal Ekonomi, Presiden Minta Rakyat Tidak Khawatir
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah bila dibanding dengan negara lain sebenarnya masih relatif lebih baik. Data menunjukkan pelemahan Rupiah sekitar 3,65 persen sejak awal konflik AS-Iran.
Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand 5,04 persen. Rupee India melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen. Sedangkan, Won Korea mencatat pelemahan 2,29 persen.
Surya melihat pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dollar AS itu terjadi dikarenakan pengaruh faktor eksternal bukan karena faktor internal. Menurutnya, hal itu dipengaruhi oleh para investor dan pelaku bisnis dalam negeri yang mengikuti tren dunia untuk menggunakan dollar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar yang akhirnya menekan jumlah permintaan Rupiah dan meningkatkan permintaan dollar AS.
Baca juga : Ekonom: Pelemahan Rupiah Dipicu Faktor Eksternal, Tak Ganggu Daya Beli
"Di tengah pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang cenderung stabil dan positif, serta necara perdagangan terhadap Amerika Serikat yang tercatat surplus, semakin mempertegas bahwa pelemahan nilai mata uang rupiah bukanlah dikarenakan faktor internal, melaikan faktor eksternal," terangnya.
Terkait tujuh langkah BI meredam pelemahan Rupiah, Surya menyebut hal itu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Apabila permintaan terhadap Rupiah meningkat, maka Rupiah akan mampu bersaing dengan tingginya angka permintaan dollar AS.
"Tujuh langkah BI merupakan kebijakan strategis jangka pendek yang dikeluarkan guna memperkuat nilai tukar Rupiah di tengah kedigdayaan dollar AS. Namun, itu dibutuhkan komitmen dari para pelaku pasar, baik dari kalangan investor valuta asing maupun pelaku bisnis untuk selalu menggunakan Rupiah sebagai instrumen investasi dan alat tukar," kata pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Bengkulu ini.
Baca juga : Menko Airlangga: Ekonomi RI TW I Tumbuh 5,61 Persen, Tertinggi Di Negara G20
Sebab, katanya, pelemahan Rupiah ini bila berlangsung terus menerus justru merugikan para investor dan pelaku bisnis itu sendiri. Berbagai kebutuhan yang digunakan dari produk impor akan mengalami kenaikan yang cukup tinggi dikarenakan nilai tukar dollar AS yang tidak mampu diredam.
"Bagi pelaku bisnis, setiap kebutuhan bahan baku maupun alat produksi yang diperoleh dari luar negeri juga akan mengalami kenaikan sejalan dengan kenaikan dollar AS. Kenaikan ini tentunya akan menyebabkan barang hasil produksi semakin mahal sehingga tidak mampu diserap maksimal oleh pasar. Makanya perlu kesadaran dari berbagai kalangan untuk meredam depresiasi Rupiah," pungkasnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya