Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rupiah Melemah Ke 17.600 Per Dolar AS
Harga-harga Naik, Pengusaha Njerit
Sabtu, 16 Mei 2026 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rupiah makin melemah ke posisi Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan Mata Uang Garuda ini akan memicu harga-harga naik. Para pengusaha juga ikutan menjerit karena membengkaknya biaya produksi.
Rupiah dibuka melemah ke Rp 17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Rupiah melemah dibandingkan 0,48 persen dibandingkan penutupan, Kamis (14/5/2026) di posisi Rp 17.529 per dolar AS.
Pada pukul 13.31 WIB, rupiah sedikit menguat ke Rp 17.597 per dolar AS. Angka tersebut bertahan sampai dengan penutupan perdagangan.
Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Terutama akibat gejolak di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak mentah.
“Selama gejolak Timur Tengah belum reda dengan kenaikan harga minyak mentah, rupiah masih dalam tekanan,” kata Ariston kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, Jumat (15/5/2026).
Baca juga : Bunga Kredit Ultra Mikro Di Bawah 9%
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat menimbulkan efek domino terhadap perekonomian nasional. Dampak pertama ialah meningkatnya biaya utang luar negeri, baik pemerintah maupun sektor swasta.
Selain itu, kata dia, biaya pendanaan juga ikut naik karena imbal hasil obligasi terdorong naik sehingga ruang ekspansi dunia usaha semakin terbatas. “Yang paling serius dalam jangka menengah adalah reputasi Indonesia sebagai destinasi investasi ikut tergerus,” ujar Yusuf kepada Rakyat Merdeka, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, investor global tidak hanya mempertimbangkan insentif pajak atau biaya tenaga kerja murah, tetapi juga melihat stabilitas makroekonomi dan kepastian kebijakan jangka panjang.
Yusuf menambahkan, pelemahan rupiah juga akan memicu kenaikan harga barang, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor berbagai komoditas seperti gandum, kedelai, bawang putih, susu, bahan baku obat, dan bahan baku industri.
“Tempe dan tahu pasti akan naik,” katanya.
Baca juga : Bunga Kredit Ultra Mikro Di Bawah 9 Persen
Keluhan juga datang dari kalangan pelaku usaha. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang mengatakan, pelemahan rupiah mulai mempengaruhi psikologis dunia usaha karena berdampak langsung terhadap arus kas dan biaya operasional perusahaan.
“Dunia usaha menjerit lantaran biaya produksi dan logistik akan naik. Pelemahan ini akan mengerek harga bahan baku impor dan logistik,” kata Sarman kepada Rakyat Merdeka, Jumat (15/5/2026)
Ia mengingatkan, jika pelemahan rupiah terus berlanjut, pelaku usaha terpaksa melakukan penyesuaian harga yang berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memicu inflasi. Kondisi paling dilematis dialami pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) karena kenaikan harga produk berisiko menurunkan penjualan.
Saat ini, kata dia, pelaku usaha mulai mencari strategi efisiensi seperti menggunakan bahan baku lokal hingga mengurangi ukuran produk tanpa menaikkan harga jual. “Jika pelemahan ini berkepanjangan, dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak rupiah menembus level Rp 17.000 per dolar AS, pelaku usaha mulai meningkatkan kewaspadaan. Dia meminta, Satgas PHK segera mengantisipasi potensi pengurangan tenaga kerja.
Baca juga : MK Putuskan Ibu Kota Negara Tetap Jakarta, Pembangunan IKN Tetap Lanjut
“Rupiah di atas Rp 17.000 per dolar AS sudah membuat pengusaha menjerit,” ujarnya.
Dia berharap, pemerintah mengeluarkan segala cara untuk menjinakkan nilai tukar rupiah ke level Rp 16.000 ribuan lagi.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak akan mengalami krisis seperti 1998 karena fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.
“Kita tahu betul kelemahan di mana dan bisa kita betulin. Kita nggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, pemerintah terus menjaga stabilitas pasar surat berharga negara agar arus modal asing tidak terus keluar dari pasar domestik dan stabilitas rupiah tetap terjaga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya