Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Keyakinan Menkeu Purbaya: Juni Rupiah Kuat, Didorong ke 15.000
Sabtu, 23 Mei 2026 08:11 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yakin rupiah akan menguat pada Juni nanti. Purbaya akan berusaha mendorong rupiah kembali ke level Rp 15.000 per dolar AS.
Keyakinan Purbaya ini didasarkan pada dua hal. Pertama, berlakunya aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) yang sempat tertunda. Kedua, derasnya aliran dana masuk dari penerbitan obligasi global (global bond).
"Nanti Juni akan ada supply dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi, rupiah akan menguat,” yakinnya, dalam acara Jogja Financial Festival 2026, di Jogja Expo Center (JEC), Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Karena itu, Purbaya mengingatkan para pemain valas untuk segera menjual dolar yang mereka simpan selama ini. Jika tidak, mereka akan rugi. “Pemain valas cepat-cepat juallah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15 ribu," ucapnya.
Soal aturan DHE SDA, Purbaya menyebut, sempat molor cukup lama. Banyak pelaku bisnis kasak-kusuk agar aturan ini tidak diperlakukan. Namun, Pemerintah mengambil sikap tegas, memberlakukannya pada Juni nanti.
Baca juga : 10 Perusahaan Nakal Dilaporkan ke Istana
“Itu keputusan yang berani dan saya pikir amat baik buat kita," terang Purbaya
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menemukan celah fatal pada kebijakan DHE sebelumnya. Selama ini, banyak eksportir memarkirkan devisa di bank-bank kecil di Indonesia sebagai formalitas aturan.
"Banyak uang masuk ke sini, ditukar ke rupiah, disalurkan ke bank kecil dengan cepat. Segera setelah itu, bank-bank itu mengirim ke luar negeri, ke Singapura. Sehingga dolar kita di sini habis. Walaupun ekspor kita selalu surplus, tapi nggak ada dampaknya ke cadangan devisa kita," beber Purbaya.
Untuk menutup celah tersebut, aturan baru DHE SDA mewajibkan penempatan devisa di bank-bank BUMN (Himbara). Tujuannya, agar Pemerintah dapat mengawasi pergerakan uang dengan ketat. Purbaya memastikan, jika ada direksi Himbara yang bermain, akan langsung dipecat.
Mengenai pasokan valas, Purbaya yakin akan membanjiri pasar dalam negeri berkat kesuksesan penerbitan obligasi global pada pekan ini yang menembus angka 3,4 miliar dolar AS. Surat utang negara tersebut diterbitkan dalam dua mata uang dengan variasi tenor 5 serta 10 tahun, dengan nilai 2 miliar dolar AS dan 1,25 miliar euro.
Baca juga : Luhut ke Singapura Tenangkan Investor
Purbaya melanjutkan, intervensi aktif Pemerintah dalam membeli obligasi di pasar sekunder domestik juga membuahkan hasil positif. Investor asing tidak lagi menarik uangnya dari Indonesia.
"Walaupun rupiah melemah, yield obligasi, bunga obligasi cenderung turun dalam satu minggu terakhir. Investor asing sudah masuk ke pasar sekunder kita, sudah masuk juga ke pasar primer. Jadi mungkin sekarang sudah hampir Rp 2 triliun lebih masuk ke situ," urainya.
Pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), posisi rupiah masih loyo. Rupiah berada di level Rp 17.690 per dolar AS atau melemah 0,28 persen. Pelemahan ini melanjutkan tekanan pada perdagangan, Kamis (21/5/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,23 persen ke level Rp 17.640 per dolar AS.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aida S Budiman menjelaskan, tekanan yang dialami kurs rupiah disebabkan faktor permintaan dan pasokan dolar yang tidak sebanding.
"Rupiah mengalami pelemahan karena yang ditawarkan untuk dolar AS lebih sedikit dari yang minta," terang Aida, di acara yang sama.
Baca juga : Kumpul Di Kantor Airlangga, Para Menteri Matangkan Pembentukan Badan Ekspor
Persoalan ini dapat dilihat dari kondisi transaksi berjalan Indonesia yang kembali mengalami defisit pada awal tahun ini. Defisit tembus hingga 4 miliar dolar AS atau 1,1 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) pada kuartal I-2026. Defisit ini meningkat dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar 0,7 persen dari PDB.
"Artinya, kita net-nya mengalami banyak bayar daripada nerima, ini yang menjadi permasalahan," beber Aida.
Untuk menangani masalah itu, Pemerintah dan BI telah memiliki sejumlah jurus yang dapat membuat pasokan dolar AS di dalam negeri dapat mengimbangi permintaan. Salah satunya dengan kehadiran BUMN khusus ekspor: PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI). Selain itu, BI dan Pemerintah juga tengah bersinergi menarik modal asing untuk memperkuat pasokan dolar AS.
Adapun untuk menutup defisit transaksi berjalan, melalui transaksi modal. "Transaksi modal sedang mengalami penurunan dan harus menarik arus modal asing masuk ke Indonesia, sehingga kita bisa lakukan pemenuhan," ungkap Aida.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya