Dark/Light Mode

Apkasindo Soroti Ancaman Ganoderma Dan Anjloknya Harga TBS Sawit Rakyat

Kamis, 18 Juni 2026 20:41 WIB
Ilustrasi kebun sawit. (Dok. PTPN)
Ilustrasi kebun sawit. (Dok. PTPN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua ancaman besar yang saat ini membayangi keberlanjutan perkebunan sawit rakyat, yakni serangan penyakit Ganoderma dan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) yang dikeluhkan petani di berbagai daerah.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

Kegiatan yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu dihadiri pengurus DPP dan DPW APKASINDO, petani sawit, pemerintah daerah, serta sejumlah narasumber dari pemerintah pusat dan stakeholder industri sawit.

Ketua Umum DPP APKASINDO Gulat Medali Emas Manurung dalam sambutannya mengajak seluruh organisasi petani sawit untuk tetap menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri sawit nasional. Menurutnya, perbedaan organisasi tidak boleh menjadi penghalang dalam memperjuangkan kepentingan petani sawit Indonesia.

“APKASINDO saat ini telah terkonsolidasi di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota. Karena itu, sinergi antara organisasi petani, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan sangat penting untuk meningkatkan produktivitas kebun serta menjaga keberlanjutan sektor sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat,” ujar Gulat.

Dalam kesempatan tersebut, Gulat memberikan perhatian khusus terhadap penyebaran penyakit Ganoderma yang mulai mengancam kebun-kebun sawit rakyat di sejumlah daerah.

Menurutnya, Ganoderma merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena menyerang bagian akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani. Berbeda dengan serangan kumbang tanduk yang dapat terlihat secara kasat mata, Ganoderma bekerja secara perlahan hingga menyebabkan tanaman layu dan mati.

“Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat,” tegasnya.

Baca juga : Ketum Apkasindo: Petani Diuntungkan Kehadiran Pabrik Sawit Tanpa Kebun

Ia mengingatkan bahwa sejumlah sentra perkebunan sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan penyakit tersebut, sehingga diperlukan langkah antisipasi sejak dini.

Selain persoalan penyakit tanaman, APKASINDO juga menyoroti anjloknya harga TBS yang dalam beberapa pekan terakhir membuat petani sawit merugi.

Menurut analisis APKASINDO, salah satu penyebab utama merosotnya harga TBS adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Ketika tender mengalami withdrawal atau gagal transaksi secara berulang, pasar kehilangan referensi harga yang selama ini menjadi acuan dalam pembentukan harga TBS.

“Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS,” jelas Gulat.

Sementara petani plasma yang hanya sekitar tujuh persen masih memiliki perlindungan melalui mekanisme penetapan harga pemerintah daerah, mereka tetap terdampak karena formula harga mengacu pada tren harga CPO sebelumnya yang telah mengalami penurunan.

Karena itu, APKASINDO mendesak pemerintah segera mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia serta memastikan tender KPBN berjalan normal agar tercipta transparansi harga yang adil bagi petani.

APKASINDO juga menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah untuk menindak tegas pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS petani di bawah harga kewajaran.

Menurut Gulat, organisasi yang dipimpinnya terus melakukan advokasi kepada pemerintah pusat, termasuk berkomunikasi langsung dengan Kementerian Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian terkait perlindungan harga sawit rakyat.

Baca juga : Hasnur Group Uji Tanaman Energi Pongamia Di Lahan Bekas Tambang Tapin

“Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkahnya bisa melalui pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha,” tegasnya.

Selain itu, APKASINDO juga mendorong percepatan hilirisasi sawit melalui pemanfaatan minyak sawit asam tinggi menjadi bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) maupun bahan bakar penerbangan guna meningkatkan serapan domestik dan nilai tambah industri sawit nasional.

Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur Betman Siahaan mengungkapkan bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang paling terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk.

Ia menilai masih banyak petani yang belum memahami gejala awal penyakit Ganoderma sehingga penanganannya sering terlambat.

“Banyak petani mengira tanaman mati karena tersambar petir, padahal penyebab sebenarnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” ujarnya.

Betman juga menyoroti penurunan harga TBS di Kalimantan Timur yang disebut sebagai salah satu yang paling tajam di Indonesia.

Berdasarkan hasil rapat nasional APKASINDO, harga TBS yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat anjlok hingga Rp1.200 per kilogram. Pada harga tersebut, sebagian besar pendapatan petani habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram.

“Keuntungan bersih petani hanya sekitar Rp200 per kilogram. Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis,” ungkapnya.

Baca juga : Akademisi Dukung Bahlil Amankan Pasokan BBM Dan LPG Dari Rusia

Kondisi tersebut juga berdampak pada pelaku usaha pengumpul atau RAM yang mengalami kerugian besar akibat stok sawit menumpuk saat harga turun secara mendadak.

APKASINDO Kaltim menduga sejumlah PKS menerapkan pembatasan pembelian melalui sistem kuota meskipun harga CPO tidak mengalami penurunan signifikan. Karena itu, mereka mendorong penerapan satu harga TBS secara nasional dan percepatan pembentukan BUMN pengiriman CPO untuk mengurangi praktik monopoli tata niaga sawit.

Dalam forum tersebut, APKASINDO juga menyinggung keberadaan PKS komersial di Penajam Paser Utara. Dari delapan PKS yang beroperasi, dua menggunakan pola inti-plasma dan enam lainnya merupakan PKS komersial.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan dalam workshop, sekitar 90 persen petani mendukung keberadaan PKS komersial karena dinilai mampu menyerap hasil panen petani swadaya dan menciptakan persaingan pasar yang sehat.

Sementara itu, sambutan Bupati Penajam Paser Utara, Mudyat Noor, yang dibacakan perwakilan pemerintah daerah, menegaskan bahwa sektor perkebunan sawit memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten PPU mengapresiasi inisiatif APKASINDO dalam menyelenggarakan workshop tersebut sebagai upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia petani sawit.

“Serangan Ganoderma dan kumbang tanduk merupakan tantangan nyata yang dapat menurunkan produktivitas dan mengancam keberlanjutan perkebunan rakyat. Karena itu, petani harus terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengendalian hama serta penyakit tanaman,” demikian pesan Bupati.

Pemkab PPU juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sektor pertanian dan perkebunan melalui peningkatan kualitas SDM, penguatan kelembagaan petani, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.