Dark/Light Mode

Pemerintah Perkuat Stabilitas Ekonomi melalui Pengendalian Inflasi

Jumat, 19 Juni 2026 17:28 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah strategis guna mengendalikan inflasi, menjaga harga kebutuhan pokok, memperkuat nilai tukar rupiah, serta mendorong aktivitas ekonomi masyarakat di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Berbagai kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil disinergikan untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Di sisi fiskal, sejumlah indikator menunjukkan kondisi ekonomi nasional masih berada pada jalur yang sehat.

Ekonom Senior INDEF Prof. Didik J. Rachbini menilai, berbagai kritik yang menyebut kondisi fiskal Indonesia memburuk tidak sepenuhnya sesuai dengan perkembangan data terkini.

“Saya mencermati kondisi fiskal masih cukup baik, dengan pendapatan dan pengeluaran yang berada dalam batas toleransi memadai. Terutama defisit hingga Mei 2026 yang terjaga di level 0,7 persen terhadap PDB. Mudah-mudahan kondisi ini terus bertahan hingga kuartal kedua,” ujar Didik, Jumat (19/6/2026). 

Baca juga : Wapres Minta Kopdes Perkuat Usaha Warga, Bukan Jadi Pesaing

Menurutnya, kemampuan pemerintah menjaga defisit fiskal tetap rendah menunjukkan disiplin pengelolaan anggaran yang baik di tengah tekanan ekonomi global.

Selain itu, realisasi pembiayaan fiskal yang telah mencapai Rp 379,4 triliun atau sekitar 55,1 persen dari target tahunan menunjukkan bahwa ruang pendanaan yang cukup untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah.

Didik juga menyoroti peningkatan pendapatan negara yang tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan hingga Mei 2026 menjadi Rp 1.185 triliun.

Kenaikan tersebut ditopang oleh pertumbuhan penerimaan pajak sekitar 22 persen serta peningkatan pendapatan nonpajak dari berbagai sektor produktif.

Sementara itu, pemerintah terus memperkuat perlindungan daya beli masyarakat melalui Program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar secara masif di berbagai daerah.

Baca juga : Melihat Peran PT Oktasan Baruna Persada Jaga Keandalan Listrik Nasional

Program ini menjadi instrumen penting dalam menjaga keterjangkauan harga kebutuhan pokok sekaligus mengendalikan inflasi pangan.

Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman mengatakan, stabilitas harga beras berhasil dijaga dalam dua tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi beras pada Mei 2026 tercatat hanya 0,38 persen, jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

“Kita syukuri beras tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi dalam dua tahun terakhir,” ujar Amran.

Pemerintah juga memperoleh dukungan dari kalangan legislatif terhadap berbagai stimulus ekonomi yang diberikan kepada masyarakat.

Baca juga : Pakar Sebut B50 Perkuat Ekonomi, Kurangi Impor

Anggota Komisi V DPR Sofwan Dedy Ardyanto menilai, insentif di sektor transportasi publik dapat meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus mendorong konsumsi rumah tangga.

“Dalam situasi ekonomi yang melambat seperti ini, diskon dan insentif di sektor transportasi akan meningkatkan mobilitas masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan belanja konsumsi,” kata Sofwan.

Melalui kombinasi pengendalian inflasi, penguatan fiskal, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta berbagai stimulus yang menyentuh langsung masyarakat, pemerintah optimistis aktivitas ekonomi nasional tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.