Dark/Light Mode

Dana SAL Jadi Amunisi Perkuat Likuiditas

Himbara Siap Tancap Gas Salurkan Kredit

Rabu, 1 Juli 2026 06:40 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Hery Gunardi. (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Hery Gunardi. (Foto: Rizki Syahputra/RM.id)

 Sebelumnya 
“Penempatan dana SAL ini menjadi amunisi strategis bagi perseroan untuk memperkuat posisi likuiditas. Sekaligus mengakselerasi penyaluran kredit guna menggerakkan roda perekonomian,” jelas Nixon di Jakarta, Selasa (30/6/2026). 

Nixon menegaskan, penempatan dana SAL ini merupakan langkah strategis yang sangat krusial bagi perbankan untuk menjaga likuiditas tetap stabil, di tengah berbagai tantangan ekonomi. 

Likuiditas yang kuat, imbuhnya, menjadi motor utama bagi perseroan dalam menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal, guna memacu pertumbuhan kredit yang berdampak langsung pada penggerak ekonomi. 

“Kami terima kasih kepada Kemenkeu atas kepercayaan yang diberikan kepada BTN. Penempatan dana SAL ini sangat penting bagi kami,” ucapnya. 

Baca juga : Audit Total Proyek Galian Di Jakarta!

Nixon menggarisbawahi, penempatan dana SAL bukan sekadar memperkuat fundamental likuiditas perusahaan. Tetapi juga menjadi stimulus bagi BTN, untuk terus menggerakkan roda perekonomian melalui penyaluran kredit yang lebih agresif namun tetap terukur. 

Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti menambahkan, dengan dukungan likuiditas yang semakin kokoh, BTN kini memiliki ruang yang lebih luas untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan. 

Emiten berkode saham BBTN ini berkomitmen untuk menyalurkan dana tersebut ke sektor-sektor yang memiliki multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor perumahan yang menjadi fokus utama BTN. 

“Tugas kami adalah memastikan likuiditas ini tersalurkan dengan efektif ke sektor riil,” kata Venda. 

Baca juga : Dasco Pimpin Rakor Mitigasi Ekonomi, Pemerintah & Parlemen Selaraskan Kebijakan

Dia optimistis, dengan total dana SAL yang ada, BTN dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan kredit yang berkualitas. 

“Sekaligus memastikan pembiayaan yang disalurkan tepat sasaran dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi,” ucapnya. 

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan, Pemerintah kembali menempatkan dana SAL kepada lima bank BUMN. Yakni, BRI, Bank Mandiri, BNI, BTN dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). 

Juda mengatakan, dari dana Rp 281 triliun yang ada di perbankan, Pemerintah sempat menarik kembali Rp 110 triliun pada awal Juni 2026 ini. 

Baca juga : Diumumkan Airlangga, Ekonomi RI Di Jalur Positif 

“Namun lewat kajian lebih lanjut, maka dana (Rp 110 triliun) dimasukkan lagi ke perbankan dan masa penyimpanan diperpanjang hingga akhir tahun 2026,” jelas Juda di kawasan Gedung DPR, Jakarta, Senin (29/6/2026). 

Dikatakan Juda, Kemenkeu juga masih ada tambahan Rp 100 triliun dana yang disiapkan sebagai standby, in case masih diperlukan perbankan untuk menambah likuiditas. 

Menurut Juda, Pemerintah melihat tingginya permintaan kredit tetapi bank masih berhatihati untuk menyalurkan kredit, karena keterbatasan likuiditas. 

“Kami harap, pertumbuhan kredit masih double digit pada bulan-bulan ke depan. Karena itu, likuiditas memang benar-benar harus tetap terjaga di perbankan,” tutup Juda. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.