Dark/Light Mode

Bank Jakarta dan BEI Dorong Transformasi & Kualitas di Tengah Dinamika Ekonomi

Rabu, 1 Juli 2026 13:12 WIB
Foto: Bank Jakarta.
Foto: Bank Jakarta.

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri keuangan nasional dinilai masih memiliki fundamental yang kuat di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Namun, perubahan lanskap bisnis dan perilaku pasar membuat pelaku industri harus terus bertransformasi agar tetap relevan dan mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, kondisi perbankan nasional saat ini masih berada dalam keadaan yang sehat.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit yang tetap positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang terjaga, serta rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang relatif rendah.

“Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah,” kata Agus dalam diskusi Shaping the Next Era of Indonesia’s Capital Market pada Investor Day 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir industri perbankan menghadapi berbagai dinamika yang sulit diprediksi, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik global, hingga perubahan kebijakan perdagangan internasional.

Kondisi tersebut membuat perbankan tidak lagi dapat menjalankan strategi bisnis secara business as usual.

Baca juga : KPAI Desak Audit Keselamatan Proyek Usai Balita Tewas Di Lubang Galian

Agus juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap biaya dana (cost of fund) industri perbankan.

Ia mengungkapkan, bunga deposito dalam lelang dana antarbank sempat menyentuh level 11,5 persen, yang menjadi sinyal meningkatnya biaya penghimpunan dana.

Menghadapi perubahan tersebut, Bank Jakarta menjalankan transformasi di berbagai aspek bisnis, mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko, hingga budaya kerja perusahaan.

Sebagai bank yang mayoritas sahamnya dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta memfokuskan pengembangan bisnis pada penguatan ekosistem pemerintah daerah.

Menurut Agus, perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta memiliki potensi besar yang dapat menjadi sumber pertumbuhan berkelanjutan bagi perseroan.

Selain itu, Bank Jakarta juga mempercepat transformasi digital secara menyeluruh, mulai dari pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Di sisi lain, penguatan manajemen risiko menjadi perhatian utama. Agus menilai, risiko yang dihadapi industri perbankan saat ini tidak lagi terbatas pada risiko kredit, tetapi juga mencakup berbagai ancaman baru, termasuk keamanan siber.

Baca juga : Bank Jakarta Borong 3 Penghargaan, 15 Tahun Konsisten Beri Layanan Terbaik

“Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi,” ujarnya.

BEI Dorong Investor Berkualitas

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffry Hendrik menekankan pentingnya peningkatan kualitas investor dalam mendukung pendalaman pasar modal Indonesia.

Menurut Jeffry, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih granular, pendalaman pasar, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik.

“Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi,” kata Jeffry.

Ia mengungkapkan, jumlah investor domestik saat ini telah melampaui 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor harus diiringi dengan peningkatan kualitas agar dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal nasional.

Menurut Jeffry, pasar modal membutuhkan investor yang memiliki literasi dan pemahaman investasi yang memadai. Investor juga perlu memahami profil risikonya masing-masing dan tidak hanya mengikuti tren pasar.

“Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO,” ujarnya.

Baca juga : Bank Jakarta Borong 3 Penghargaan Customer Experience 2026

Pesan tersebut sejalan dengan strategi yang diterapkan Bank Jakarta dalam menghadapi dinamika ekonomi saat ini.

Agus menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi sekadar mengejar pertumbuhan yang besar, tetapi lebih mengutamakan pertumbuhan yang sehat dan berkualitas.

“Kita nggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas,” kata Agus.

Baik sektor perbankan maupun pasar modal menilai, kualitas akan menjadi faktor penentu dalam menjaga ketahanan industri keuangan ke depan.

Transformasi digital, penguatan tata kelola, transparansi, serta peningkatan literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting untuk menghadapi perubahan yang semakin cepat dan kompleks.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.