Dark/Light Mode

Purbaya Yakinkan Parlemen & Masyarakat: Defisit 734 Triliun, Tapi APBN Aman

Rabu, 8 Juli 2026 08:53 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi (kiri depan) dalam rapat di DPR. (Foto: Tedy O Kroen/RM)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi (kiri depan) dalam rapat di DPR. (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Defisit APBN 2026 diprediksi melebar mencapai Rp 734,3 triliun atau setara 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakinkan DPR dan masyarakat, APBN tetap aman.

Defisit APBN ini disampaikan Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Angka defisit tersebut lebih tinggi dari target awal yang sebesar Rp 689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB.

Purbaya menjelaskan, outlook belanja negara 2026 diprediksi mencapai Rp 3.942,4 triliun atau 102,6 persen dibandingkan pagu APBN. Sementara, outlook pendapatan negara 2026 diproyeksikan sebesar Rp 3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari pagu APBN.

Dari sisi pengeluaran, Purbaya merinci, belanja Pemerintah Pusat diproyeksikan Rp 3.245,5 triliun atau tumbuh 25,5 persen dan Transfer Ke Daerah (TKD) Rp 696,9 triliun atau 100,6 persen dibandingkan pada pagu APBN.

Baca juga : Pemakaman Khamenei, Presiden RI Utus Menlu-Ketua MPR

Ia memastikan, bengkaknya belanja negara ditujukan untuk mendukung program prioritas pembangunan, menjaga stabilitas harga pangan dan daya beli masyarakat, serta mendukung penyelenggaraan pemerintahan daerah, penanggulangan bencana, dan tambahan otonomi khusus.

"Selain itu, outlook belanja tersebut sudah memperhitungkan tambahan sebesar Rp 132 triliun untuk pembayaran kewajiban pemerintah untuk subsidi dan kompensasi," jelas Purbaya.

Untuk pelaksanaan tahun berjalan, pada semester I-2026, defisit APBN tercatat Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB. "Kondisi tersebut mencerminkan bahwa defisit APBN dijaga dalam batas aman dan terkendali," terang Bendahara Negara.

Purbaya menjamin, meski akan melebar, defisit APBN akan tetap di bawah batas maksimal, yakni 3 persen terhadap PDB. Jadi, ia meminta parlemen dan masyarakat tidak panik.

Baca juga : 2 Perusahaan Batu Bara Dibidik Kortastipidkor Polri

"Hitungannya (defisit) akan lebih tinggi karena kita akan ada belanja-belanja yang terakumulasi di semester II, tapi kami pastikan bahwa anggaran kita tetap terkendali dan defisit akan di bawah 3 persen," ujar Purbaya.

Ketua Banggar DPR Said Abdullah mengatakan, proyeksi defisit APBN yang disampaikan Purbaya lebih besar 0,17 persen dari target awal. Ia pun meminta Pemerintah menjaga disiplin fiskal agar pelebaran defisit tidak semakin besar. Upaya tersebut penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal di tengah perhatian pasar terhadap kondisi keuangan negara.

Pemerintah memprediksi penerimaan pajak hingga akhir 2026 mencapai Rp 2.631,4 triliun atau sekitar 97,6 persen dari target APBN sebesar Rp 2.693,7 triliun. Sementara, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp 575,1 triliun atau 125 persen dari target Rp 459,2 triliun.

Di sisi pembiayaan, Pemerintah memperkirakan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) hingga akhir tahun mencapai Rp 255,5 triliun. Nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi Silpa 2025 yang sebesar Rp 72,39 triliun.

Baca juga : Raja Juli Siap Dipanggil KPK

Said mengatakan, tingginya proyeksi Silpa perlu menjadi perhatian Pemerintah karena pembiayaan utang dilakukan pada saat biaya dana (cost of fund) masih relatif tinggi. "Ini akan menjadi beban Pemerintah. Tingginya Silpa sekaligus menandakan perencanaan pembayaran utang dan investasi tentu perlu disempurnakan," pesannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.