Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkejut melihat lautan manusia yang mengantar pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Bukannya simpati, Trump menyindir tangisan warga Iran itu, sebagai “air mata palsu”.
Dalam pidatonya pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-250 AS, Sabtu (4/7/2026), Trump mengaku heran melihat besarnya antusiasme rakyat Iran mengantar jenazah Khamenei.
“Orang-orang ini seharusnya membenci Ali Khamenei. Mungkin itu air mata palsu,” cibir Trump.
Ali Khamenei meninggal dunia dalam serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) di kediamannya bersama sejumlah anggota keluarga inti. Namun, perang yang terus meletus, membuat Pemerintah Iran menunda prosesi pemakaman Khamenei. Memasuki bulan kelima, barulah proses itu digelar.
Baca juga : Argentina Vs Mesir, Messi-Salah Adu Tajam
Meskipun benci terhadap Khamenei, Trump memastikan tidak akan mengganggu Iran. AS sengaja memberi waktu selama sepekan kepada Iran untuk melaksanakan seluruh rangkaian pemakaman Khamenei. Barulah kembali melanjutkan pembicaraan mengenai penyelesaian konflik.
Dalam pidatonya, Trump juga membanggakan kekuatan militer AS yang disebutnya telah memenangkan dua perang dunia dan mengakhiri Perang Dingin.
“Kami juga mengalahkan Venezuela dalam satu hari dan kami menghajar Iran habis-habisan. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Mereka benar-benar ingin berdamai. Kami memberi mereka jeda sepekan untuk pemakaman karena kami orang-orang yang baik,” ujarnya.
Presiden dari Partai Republik itu bahkan mengklaim militer AS sebenarnya bisa menghabisi sisa kepemimpinan Iran hanya dengan satu serangan. Namun, menurutnya, hal itu tidak dilakukan demi membuka ruang negosiasi.
Baca juga : KPK Segera Limpahkan Berkas Korupsi Kuota Haji
“Mereka semua ada di sana (pemakaman). Satu tembakan kita bisa menyingkirkan mereka. Tapi kita tak akan melakukan itu. Sebab kita nggak akan punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi,” katanya.
Trump juga memastikan tak akan ada serangan selama prosesi pemakaman berlangsung.
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Teheran. Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui akun resminya di platform X menegaskan, kematian seorang pemimpin tidak akan pernah mematikan perjuangan bangsa Iran.
“Manusia bisa dibunuh, tetapi cita-cita tidak. Kalian membunuh Pemimpin Tertinggi Khamenei, tetapi pada kenyataannya, kalian hanya memecahkan botol parfum agar aromanya menyebar ke mana-mana,” tulis pernyataan tersebut, dikutip Senin (6/7/2026).
Baca juga : Yusuf Lakaseng: Melawan Putusan Mahkamah Konstitusi
Iran juga menilai ucapan Trump menunjukkan AS sebagai negara yang tidak memiliki peradaban, sejarah maupun kehormatan. Termasuk menghormati negara yang sedang berkabung.
Diketahui, prosesi pemakaman Khamenei berlangsung sangat besar. Delegasi dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Rusia, China, Arab Saudi dan sejumlah negara lain menghadiri hari kedua salat jenazah di Aula Besar Kompleks Grand Mosalla atau Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran, Sabtu (4/7/2026).
Selain para pejabat, jutaan warga berpakaian serba hitam telah memadati kompleks Grand Mosalla sejak Jumat (3/7/2026) malam. Lapangan di depan masjid juga dipenuhi pelayat meski cuaca sangat panas.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya