Dark/Light Mode

BPDP-Ditjenbun-AKPY Siapkan Regenerasi Pekebun Sawit Adaptif Teknologi

Jumat, 10 Juli 2026 14:56 WIB
Perwakilan BPDP, Ditjenbun, dan AKPY berfoto bersama usai pembukaan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit SDMP 2026 di Makassar. Program ini memperkuat regenerasi pekebun sawit yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Perwakilan BPDP, Ditjenbun, dan AKPY berfoto bersama usai pembukaan Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit SDMP 2026 di Makassar. Program ini memperkuat regenerasi pekebun sawit yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) memperkuat regenerasi pekebun kelapa sawit melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 yang didukung BPDP dan Ditjenbun serta diselenggarakan AKPY di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 7–13 Juli 2026.

Pelatihan diikuti 149 peserta yang terdiri atas pekebun, penyuluh, dan keluarga pekebun dari Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, mengatakan masa depan perkebunan sawit rakyat sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Karena itu, regenerasi pekebun harus dibarengi dengan peningkatan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan standar keberlanjutan.

Baca juga : AKPY Gandeng BPDP-Ditjenbun Latih Pekebun Sawit Kalsel Tingkatkan Produktivitas

"Keberhasilan sawit tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul ataupun pengelolaan kebun, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Karena itu program BPDP ini bertujuan meningkatkan kapasitas, keterampilan, profesionalisme, dan daya saing petani agar mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan," ujarnya saat membuka pelatihan.

Menurut Idum, sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain meningkatkan produktivitas, pekebun juga dituntut mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, menerapkan praktik budidaya berkelanjutan, serta memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan kebun.

Ia menilai paradigma pekebun harus berubah. Pengalaman lapangan tetap menjadi modal penting, namun perlu diperkuat dengan penguasaan teknologi dan manajemen usaha yang lebih baik.

"Perkembangan teknologi juga menuntut petani terus belajar dan beradaptasi. Petani masa depan bukan hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik, dan menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan," katanya.

Baca juga : Salah Panen Bisa Tekan Harga, RPN-BPDP-Ditjenbun Latih Petani Sawit Di Sumsel

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan benih bersertifikat, manajemen pemupukan, pemeliharaan tanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman melalui prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga pengelolaan kesuburan tanah secara berkelanjutan.

Selain itu, peserta juga dibekali pemanfaatan bahan organik dari limbah sawit untuk menjaga kualitas tanah sekaligus menekan biaya produksi. Mereka juga mempelajari teknik meningkatkan keberhasilan pembentukan buah melalui pemanfaatan serangga penyerbuk alami maupun teknik hand pollination guna meningkatkan produktivitas tandan buah segar.

Idum menegaskan, investasi terbaik bagi pekebun bukan hanya pada sarana produksi, tetapi juga peningkatan kapasitas diri.

Ia berharap para peserta menjadi bagian dari generasi baru pekebun sawit yang mampu mengombinasikan pengalaman lapangan dengan inovasi sehingga dapat mengelola kebun secara lebih efisien, produktif, dan berdaya saing.

Baca juga : AKPY Gandeng BPDP Dan Ditjenbun Tingkatkan SDM Pekebun Sawit Kotim

"Apabila budidaya dilakukan dengan baik, panen dilakukan dengan benar, kelembagaan petani semakin kuat, serta didukung sarana dan prasarana yang memadai, maka produktivitas akan meningkat, pendapatan petani bertambah, dan kesejahteraan keluarga juga semakin baik," tuturnya.

Melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan 2026, BPDP, Ditjenbun, dan AKPY berharap lahir generasi baru pekebun sawit yang tidak hanya menguasai aspek teknis budidaya, tetapi juga memiliki profesionalisme, mampu beradaptasi dengan teknologi, serta siap menjawab tantangan industri sawit yang semakin modern dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.