Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- PMI Manufaktur Juli Kembali Ekspansi, Kadin Minta Tren Positif Dijaga
- Taipei Open 2026, Kalahkan Malaysia, Ganda Garuda Juara
- Kapal Pertamina Patra Niaga Selamatkan 17 Korban KMP Mutiara Sentosa 2
- Jasaraharja Putera Pastikan Perlindungan Bagi Korban KMP Mutiara Sentosa II
- Kasus Bupati Pemalang, KPK Sita Moge hingga Emas dari Penggeledahan
Keju dan Mentega Lokal Dinilai Layak Masuk Menu Program MBG
Jumat, 17 Juli 2026 15:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat memanfaatkan produk olahan susu lokal, seperti keju dan mentega, sebagai alternatif sumber protein hewani.
Selain memiliki nilai gizi yang tinggi, kedua produk tersebut juga dinilai lebih efisien dari sisi distribusi dan penyimpanan dibandingkan susu segar.
Founder Mazaraat Artisan Cheese, Muhammad Najmi atau Jemi, mengatakan, keju memiliki keunggulan dari sisi kepadatan nutrisi dan daya simpan sehingga layak dipertimbangkan sebagai salah satu menu dalam program MBG.
"Kalau ditanya lebih enak mengirim seratus liter susu atau sepuluh kilogram keju, tentu sepuluh kilogram keju. Volumenya lebih kecil, nutrisinya sama bahkan lebih tinggi. Susu murni umur simpannya hanya beberapa hari, sementara keju bisa bertahan sampai satu tahun, bahkan beberapa jenis lebih lama," kata Najmi dalam podcast YouTube Hendri Satrio Official.
Menurutnya, pemanfaatan keju juga dapat memberikan nilai tambah bagi susu segar hasil produksi peternak dalam negeri. Susu tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi juga diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Baca juga : Datangi Kejagung, Sudirman Said Diperiksa sebagai Saksi Kasus Petral
"Kalau memang kita bicara komitmen membangun gizi anak melalui MBG, pertimbangkan juga keju. Ada produk dalam negeri yang proses produksinya, standardisasinya, sampai sertifikasinya bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya.
Mazaraat Artisan Cheese telah memproduksi keju artisan sejak 2015 di Yogyakarta. Sementara itu, produk Naaya Artisan Butter dikembangkan Jemi bersama Ardani Yusuf Prawira di Pamijahan, Bogor.
Ardani menilai, mentega lokal juga memiliki prospek besar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas bahan pangan.
"Harapannya produk-produk seperti ini bisa semakin dikenal, bukan hanya sebagai produk premium, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan industri susu Indonesia," ujar Ardani.
Keduanya juga menyoroti masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai perbedaan keju natural dan keju olahan yang banyak beredar di pasaran.
Baca juga : Setahun Berjalan, Danantara Dinilai Mulai Tunjukkan Hasil Transformasi BUMN
Menurut Ardani, sebagian besar keju komersial mengandung campuran bahan lain dengan kadar keju yang relatif rendah.
"Selama ini kita terbiasa makan keju yang sebenarnya bukan seratus persen keju. Keju komersial yang biasa dikonsumsi kandungan kejunya umumnya hanya sekitar sepuluh sampai dua puluh persen, sedangkan sisanya merupakan campuran bahan lain," jelasnya.
Najmi menambahkan, apabila keju maupun mentega nantinya digunakan dalam program MBG, produk yang dipilih sebaiknya merupakan keju dan mentega natural yang dibuat 100 persen dari susu agar manfaat gizinya tetap optimal.
"Kalau ada klaim seratus gram keju setara satu liter susu, klaim itu hanya bisa disematkan pada keju natural yang benar-benar diproduksi dari susu, bukan yang dicampur tepung. Jadi kalau nanti keju atau mentega masuk sebagai menu MBG, yang digunakan sebaiknya memang produk yang seratus persen berasal dari susu," jelasnya.
Lebih lanjut, Najmi berharap program MBG dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri pengolahan susu nasional.
Baca juga : Mentan Pastikan Pasokan CPO Untuk Program B50 Aman
Menurutnya, manfaat tersebut tidak hanya dirasakan produsen keju dan mentega, tetapi juga peternak sapi perah serta koperasi susu di berbagai daerah.
"Kalau ada goodwill untuk mengembangkan susu domestik, peternak tidak hanya bergantung menjual susu mentah. Mereka bisa sampai ke pengolahan, sampai menghasilkan produk yang punya nilai tambah," katanya.
Ia optimistis, peningkatan pemanfaatan produk olahan susu lokal akan membantu industri nasional mencapai skala ekonomi yang lebih besar.
"Tujuan kami sederhana, bagaimana volume produksi Indonesia bisa mencapai skala ekonomi. Baru setelah itu kita bisa benar-benar bersaing dengan produk impor," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya