Dark/Light Mode

PLN EPI Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Program Maggot BSF

Kamis, 20 Agustus 2026 08:09 WIB
Produk pupuk kompos hasil dekomposisi maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dikembangkan Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Gunungkidul, Yogyakarta, sebagai bagian dari program ekonomi sirkular PLN EPI.
Produk pupuk kompos hasil dekomposisi maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dikembangkan Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Gunungkidul, Yogyakarta, sebagai bagian dari program ekonomi sirkular PLN EPI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah hampir dua tahun berjalan sejak diluncurkan pada 2024, Program Maggot Black Soldier Fly (BSF) hasil kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan dampak dalam mendorong ekonomi sirkular berbasis masyarakat.

Program yang dikelola Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem tersebut mengolah sampah organik menggunakan maggot BSF menjadi kasgot (bekas maggot) dan pupuk organik cair (POC).

Produk yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian dan peternakan masyarakat.

"Hingga saat ini rumah maggot berhasil mengelola rata-rata 561 kilogram sampah organik per bulan yang berasal dari 60 rumah tangga dan dua pelaku usaha angkringan," ujar Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan.

Pengelolaan tersebut berkontribusi menurunkan volume sampah yang menimbulkan bau maupun pencemaran hingga 40–60 persen.

Program ini sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Dari sisi produksi, rumah maggot menghasilkan rata-rata 50 kilogram maggot segar per bulan, 420 kilogram kasgot per tahun, serta 540 liter POC per tahun.

Baca juga : Kolaborasi Kemenkop & KLH Dorong Koperasi Masuk Pasar Karbon & Ekonomi Sirkular

Tingkat keberhasilan budidaya juga terus meningkat dengan capaian panen 30–55 persen pada setiap siklus.

"Seluruh hasil budidaya dimanfaatkan kembali dalam ekosistem ekonomi sirkular," ujar Mamit.

Maggot dimanfaatkan sebagai pakan lele sebanyak 547,5 kilogram dan ayam sebanyak 730 kilogram per tahun. Sementara itu, 420 kilogram kasgot digunakan sebagai pupuk organik dan 150 liter POC telah dimanfaatkan maupun dipasarkan.

Produk tersebut turut mendukung kegiatan budidaya pertanian pada lahan seluas 400 meter persegi. Program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pengembangan program dan keterlibatan aktif warga memungkinkan kegiatan turunan, seperti peternakan ayam dan lele serta perkebunan, berjalan secara maksimal.

Penjualan lele dan telur ayam rata-rata menghasilkan Rp 1,5 juta per bulan. Sementara itu, penjualan sayuran mencapai sekitar Rp 500.000 per bulan, sedangkan kasgot dan POC menghasilkan pendapatan sekitar Rp4,5 juta per tahun.

Pemanfaatan maggot sebagai pakan ternak juga mampu menghemat biaya pembelian pakan hingga Rp10,08 juta per tahun.

Baca juga : Unpam Dorong Ekonomi Sirkular, Bank Sampah Kampung Darling Kini Go Digital

Pada aspek sosial, program tersebut memberikan manfaat langsung kepada 25–60 orang dengan melibatkan 25 anggota masyarakat sebagai pengelola aktif.

"PLN EPI bersama mitra juga telah menyelenggarakan 5–6 kali pelatihan pengelolaan sampah dan budidaya maggot, sehingga partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah meningkat hingga 60 persen," kata Mamit.

Keberlanjutan program diperkuat melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP), pencatatan produksi, serta kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM), Bank Sampah Ponjong, Bank Sampah Wonosari, dan Bank Sampah Patuk.

Sinergi tersebut mendorong peningkatan kapasitas produksi sekitar 10 persen setiap tahun sehingga rumah maggot dapat terus beroperasi secara berkelanjutan.

Mamit mengatakan Program Maggot BSF merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

PLN EPI meyakini transisi menuju keberlanjutan harus dimulai dari solusi yang dekat dengan masyarakat.

Program Maggot BSF menunjukkan sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular.

Baca juga : KLH Beri Pendampingan Pengelolaan Limbah SPPG

"Kami berharap model ini dapat terus berkembang dan direplikasi di berbagai daerah sehingga manfaatnya semakin luas," ujar Mamit.

Sementara itu, Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Riyanta, mengatakan program tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.

"Kini masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat juga memperoleh manfaat melalui penghematan biaya pakan, pupuk organik, dan peningkatan pendapatan kelompok," kata Riyanta.

Program Maggot BSF merupakan bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN EPI melalui pengurangan sampah organik, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan tata kelola program berbasis kolaborasi.

Program tersebut juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya TPB 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.