Dark/Light Mode

Di Tengah Ancaman Corona, Ekspor Industri Naik 10 Persen

Selasa, 21 April 2020 18:35 WIB
Industri otomotif. (Foto: ist)
Industri otomotif. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri Tanah Air masih mampu menunjukkan geliat yang positif di tengah pandemi corona (Covid-19). Hal ini tercermin melalui capaian ekspor triwulan I-2020.

“Industri pengolahan mengalami tekanan mulai Maret 2020 akibat Covid-19, namun data ekspor industri pengolahan memberikan optimisme untuk tetap bertahan,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat ngobrol bareng Forum Wartawan Industri (Forwin) melalui video conference di Jakarta, Selasa (21/4).

Agus mengatakan, kinerja pengapalan sektor manufaktur nasional pada tiga bulan pertama tahun ini meningkat 10,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (y-o-y). Sepanjang triwulan I-2020, ekspor dari industri pengolahan menembus angka 32,99 miliar dolar AS, sedangkan nilai impornya tercatat sekitar 31,29 miliar dolar AS. 

“Sehingga terjadi surplus sebesar 1,7 miliar dolar AS. Bahkan, ekspor industri pengolahan pada triwulan I-2020 memberikan kontribusi signfikan hingga 78,96 persen terhadap total ekspor nasional yang mencapai 41,78 miliar dolar AS,” paparnya.

Lima sektor sebagai penyumbang terbesar pada nilai ekspor manufaktur nasional selama tiga bulan pertama tahun ini, yaitu industri makanan yang membukukan senilai 7,17 miliar dolar AS, diikuti industri logam dasar (5,48 miliar dolar AS), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (2,99 miliar dolar AS), industri pakaian jadi (2,02 miliar dolar AS), serta industri karet, barang dari karet dan plastik (1,78 miliar dolar AS). 

Baca juga : Telkomsel Ramal Trafik Internet Naik 20 Persen Saat Ramadan Dan Idul Fitri

Sementara itu, kinerja pengapalan sektor manufaktur pada Maret 2020, juga mengalami peningkatan sebesar 7,41 persen dibanding capaian Maret 2019. Ekspor dari industri pengolahan di bulan ketiga tahun ini, tercatat menembus angka 11,12 miliar dolar AS, sedangkan nilai impornya sekitar 10,80 miliar dolar AS. Sehingga mengalami surplus pada neraca perdagangan sebesar 0,32 miliar dolad AS. 

“Industri pengolahan pada Maret 2020 juga berkontribusi gemilang hingga 78,92 perse. terhadap total nilai ekspor nasional yang mencapai 14,09 miliar dolar AS,” imbuhnya. 

Adapun lima sektor yang menjadi champion pada perolehan ekspor manufaktur nasional selama Maret 2020, yakni industri makanan dan minuman yang membukukan nilai ekspor sebesar 2,47 miliar dolar AS, diikuti industri logam dasar (1,96 miliar dolar AS), industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (1,04 miliar dolar AS), industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik (1,02 miliar dolar AS), serta industri tekstil dan pakaian jadi (0,96 miliar dolar AS).

“Kami melihat bahwa terjadi shifting pertumbuhan ekspor yang awalnya didorong oleh CPO dan produk hilirnya serta tekstil di 2019, di triwulan I-2020 khususnya bulan Maret ini, kedua komoditas tersebut tergantikan oleh besi baja termasuk logam mulia, serta kertas dan permesinan,” ujar Agus.

Pertumbuhan ekspor yang tinggi dari komoditas besi baja, didorong oleh perusahaan di Kawasan Industri Morowali dengan tujuan pasar utamanya ke China dan beberapa negara lainnya. “Walaupun demikian, komposisi nominal ekspor terbesarnya masih ditempati oleh CPO dan produk hilirnya, serta tekstil dan alas kaki,” tandasnya. 

Baca juga : PKS Komitmen Melayani Rakyat

Masih Agresif

Agus menambahkan, beberapa sektor manufaktur lainnya masih agresif mendobrak pasar ekspor, meskipun di tengah kondisi sulit karena dampak dari pandemi Covid-19. Misalnya, di sektor agro, industri oleokimia mencatatkan nilai ekspor sebesar 658 juta  dolar AS pada Januari-Februari 2020 juta atau naik 31 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. Selain itu, industri minyak goreng sawit dan oleofood, nilai ekspornya mampu tumbuh 2,5 persen pada periode Januari-Februari 2020. 

Selanjutnya, industri otomotif. Pada periode Januari sampai per 15 April 2020, telah melakukan pengapalan kendaraan roda empat secara CBU sebanyak 87.879 unit. Sedangkan, untuk ekspor kendaraan roda dua, mencapai 215.347 unit.

Peningkatan ekspor produk otomotif juga sesuai dengan data PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC), yang menunjukkan jumlah bongkar muat kendaraan CBU mencapai 29.622 unit pada Maret 2020, meningkat 18,40 persen dibandingkan Maret 2019 sekitar 25.019 unit.

“Selain itu, industri otomotif kita melakukan ekspor komponen untuk kendaraan roda empat, hingga April 2020 telah menembus 11.099.550 pieces. Bahkan, perusahaan-perusahaan komponen pesawat, kereta api, dan alat berat, juga masih aktif melakukan ekspor,” tutur Menperin.

Baca juga : Cegah Corona, PGN Kerek Transaksi Non Tunai di SPBG

Agus optimistis, Indonesia akan menjadi salah satu dari negara yang diprediksi mengalami recovery lebih cepat dan mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif pasca pandemi corona. “Ini merupakan sebuah optimisme yang harus kita jaga,” tegasnya.

Hal itu berdasarkan laporan International Monetary Fund (IMF), yang menyatakan Indonesia merupakan satu dari tiga negara di dunia yang diprediksi pertumbuhan ekonominya tetap positif pada tahun 2020, meski diterjang pandemi Covid-19. Dua negara lainnya adalah China dan India. Karena itu, momentum tersebut bisa menjadi modal bagi sektor industri Tanah Air untuk bersama-sama bangkit. 

“Kita masih punya modal yang kuat. Artinya, kemungkinan kita bisa rebound cukup besar. Apalagi kita lihat bahwa kompetensi bangsa kita juga cukup besar. Jadi sesungguhnya, apa yang akan terjadi dalam sektor manufaktur nanti setelah Covid-19 sangat tergantung dengan apa yang kita lakukan sekarang,” pungkasnya. [DIT]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.