Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bertahan di Tengah Covid-19
Bos Garuda Ngarep Bisa Naikin Tarif Tiket Pesawat
Minggu, 7 Juni 2020 07:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Garuda Indonesia (Persero) tengah mempertimbangkan untuk menyesuaikan tarif tiket pesawat jika protokol kesehatan tetap membatasi keterisian pesawat hanya 50 persen saat skema kenormalan baru diterapkan.
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, jika masyarakat ingin merasa aman saat bepergian menggunakan pesawat, maka ada tempat duduk yang dikosongkan agar memberi jarak antar penumpang. Hanya saja, hal tersebut bisa bermasalah bagi perusahaan karena akan berimplikasi pada keuangan.
“Ada bangku yang tidak bisa dijual. Opsinya, boleh nggak kita naikin harga? Tapi, tetap masuk akal. Kita minta pengertian penumpang, sampai situasinya membaik,” ujarnya, saat video conference di Jakarta, Jumat (5/6).
Ia menuturkan, pendapatan perseroan turun drastis hingga 90 persen. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari fokus pada bisnis kargo, penundaan dan pemotongan gaji direksi dan komisaris sejak April, tidak adanya THR (tunjangan hari raya) termasuk di anak usaha, hingga merumahkan karyawan kontrak sampai situasi membaik.
Baca juga : Perangi Covid-19, Grup BCA Salurkan Donasi ke PERSI
Bahkan, pihaknya juga melakukan percepatan penyelesaian kontrak karyawan dengan tetap memastikan hak-haknya terpenuhi sesuai yang dijanjikan dalam kontrak. “Diberitakan katanya Garuda melakukan PHK. Itu tidak benar, kami hanya percepat penyelesaian kontrak. Semua langkah ini untuk menjaga perusahaan tetap bertahan dan bisa recovered (pulih) secepatnya,” ungkapnya.
Ia menuturkan, Garuda bukan perusahaan yang bisa terbebas dari dampak pandemi Covid-19. Bahkan, di industri penerbangan global, banyak yang sudah melakukan PHK hingga mengalami kebangkrutan seperti maskapai penerbangan nasional Thailand, Thai Airways. “Kita bukan perusahaan yang bebas dalam kondisi ini. Kami sepakat, PHK hanya opsi terakhir, segala upaya kita lakukan untuk bertahan,” tegasnya.
Ibarat jatuh tertimpa tangga, maskapai pelat merah ini juga harus legowo kehilangan pendapatan dari penerbangan jamaah haji tahun ini yang telah dibatalkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). “Pendapatan 10 persen hilang (dari penerbangan jamaah haji). Pukulan cukup besar bagi Garuda,” akunya.
Meski demikian, perseroan akan tetap menyiapkan berbagai langkah antisipatif pada aspek operasional dan layanan jelang era kenormalan dengan mengacu pada ketentuan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di seluruh touch point layanan penerbangan sesuai ketentuan yang diterapkan Gugus Tugas Covid-19 dan otoritas terkait. Mulai dari implementasi physical distancing yang menjadi salah satu prioritas perusahaan agar dipastikan terlaksana secara berkesinambungan guna memitigasi risiko penularan pada masa pandemi. Upaya lainnya yang dilakukan seperti kebijakan penggunaan masker bagi penumpang dan awak pesawat, penyediaan hand sanitizer di seluruh touch point penumpang, screening dan pemeriksaan kesehatan penumpang pada sebelum dan sesudah melaksanakan penerbangan yang dilakukan bersama otoritas penerbangan terkait.
Baca juga : Menperin Banjir Pujian
Selain itu, perseroan juga menerapkan protokol kebersihan dan perawatan armada yang semakin komprehensif melalui prosedur prolong inspection guna memastikan airworthiness aircraft quality tetap terjaga. “Kami juga menjalankan prosedur sterilisasi (disinfeksi) armada yang menyeluruh, pengecekan dan penggantian berkala sistem filtrasi udara di kabin pesawat,” imbuhnya.
Pengamat industri penerbangan Alvin Lie mengatakan, apa yang dialami Garuda Indonesia juga dialami secara global oleh maskapai lainnya, sebagai imbas dari pandemi Covid-19. “Maskapai negara lain juga mengalami hal yang sama kok,” katanya, kepada Rakyat Merdeka.
Karenanya, perlu upaya penanganan yang tepat di industri penerbangan agar bisa tetap bertahan ke depannya. Saat ini, maskapai memang harus sabar mengingat moda transportasi udara masih akan kehilangan pasarnya untuk sementara waktu.
Namun, ia memperkirakan usai pandemi Covid-19 ini berakhir, kinerja industri akan langsung melesat. Meski imbasnya, harga tiket penerbangan akan mengalami kenaikan signifikan. “Tidak menutup kemungkinan, harga tiket pesawat akan naik melambung, karena ada perubahan,” katanya.
Baca juga : Mau Naikin Tarif, Pelni Mesti Kulonuwun Ke DPR
Dana Talangan Cepat Ngucur
Sebelumnya, Irfan berharap proses pencairan dana talangan dari pemerintah, bisa lebih cepat. Rencananya Garuda bakal mendapatkan kucuran Rp 8,5 triliun berbentuk pinjaman dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). “Dalam kondisi Garuda Indonesia saat ini, pada dasarnya yang paling penting adalah ketersediaan cash. Saya harap, prosesnya bisa cepat karena situasi hari demi hari sangat kritis,” jelasnya.
Irfan menambahkan, untuk mendapatkan dana talangan tersebut, Garuda perlu sepakat dengan pemberi pinjaman, yaitu Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Kesepakatannya antara lain, jangka waktu pembayaran dan bunga yang ditetapkan. Selain itu, Kementerian BUMN yang juga terlibat dalam proses ini, sepakat bahwa dana talangan tidak boleh digunakan untuk membayar utang. “Sinyal utama yang sudah disampaikan, (dana talangan) ini tidak boleh diperuntukan membayar utang sukuk Garuda Indonesia,” ujarnya.
Seperti diketahui, Garuda Indonesia memiliki utang jatuh tempo pada 3 Juni lalu, berupa sukuk global senilai 500 juta dolar AS. Namun, saat ini Garuda tengah menegosiasi untuk merestrukturisasi utang itu hingga tiga tahun ke depan. Untuk itu, akan ada Rapat Umum Pemegang Sukuk (RUPS) pada 10 Juni 2020 untuk mendapatkan persetujuan.
Hingga saat ini, Irfan mengatakan, 90 persen pemegang sukuk setuju untuk diperpanjang utangnya. Meski belum ditandatangani, namun sudah ada kesepakatan antara pihak Garuda Indonesia dengan Kemenkeu dan Kementerian BUMN terkait penggunaan dana talangan. Salah satunya, digunakan untuk modal kerja di tengah terhimpitnya bisnis maskapai di tengah pandemi corona. “Yang sudah disepakati, tapi belum ditandatangani itu adalah untuk modal kerja. Lalu, untuk rencana efisiensi yang dilakukan Garuda Indonesia,” ungkapnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya