Dark/Light Mode

Banyak Sektor Bisa Digenjot

Pemerintah Endus Peluang Kebut Pemulihan Ekonomi

Selasa, 8 September 2020 06:38 WIB
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Kemenko, Iskandar Simorangkir
Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Kemenko, Iskandar Simorangkir

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mengendus sejumah sektor yang kinerjanya bisa dipacu di era pandemi Covid-19. Jika hal itu bisa digarap, pemulihan ekonomi bisa makin cepat.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir menyebutkan beberapa sektor yang masih bisa digenjot pertumbuhannya. 

Antara lain sektor pertanian, informasi dan komunikasi, jasa kesehatan dan jasa keuangan. 

Berita Terkait : Jokowi Serukan Pemda Kebut Serap Anggaran

“Saya kira perlu dilihat recovery rate kita dalam pandemi Covid-19 sebesar 71,4 persen. Angka ini lebih tinggi dari recovery rate rata-rata dunia 68,8 persen. Jika sektor-sektor ini bisa didorong lagi, maka pemulihan ekonomi Indonesia bisa makin cepat,” ungkap Iskandar di acara Sosialisasi Virtual Permenko Nomor 15 dan Permenko Nomor 16 Tahun 2020 di wilayah Jawa’ di Jakarta, kemarin. 

Dia menuturkan, pandemi Virus Corona sangat mempengaruhi perekonomian global, termasuk Indonesia. Ada 213 negara terdampak, termasuk Indonesia. Namun perlu diperhatikan, meski pada kuartal II-2020, ekonomi Indonesia terkontraksi -5,32 persen, tapi tidak separah India. 

India pada Jumat (4/9) mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal II mengalami kontraksi yang amat dalam. Ekonomi negeri Bolywood terkontraksi hingga -29,3 persen dibandingkan kuartal I tumbuh positif 4,4 persen. 

Berita Terkait : Sektor Perumahan Diyakini Percepat Pemulihan Ekonomi

“Ini terjadi karena mereka cepat sekali mengadakan lockdown, sehingga lonjakannya ke bawah sangat dalam,” ungkap Iskandar. 

Iskadar memaparkan, hampir sepertiga pertumbuhan ekonomi India di tahun 2019 tergerus karena adanya pandemi Virus Corona. 

Sementara, China menjadi negara pertama yang terimbas pandemi, akhirnya bisa tumbuh positif di kuartal II meski ekonomi mereka juga terdampak di kuartal I. 

Baca Juga : Pemerintah Kudu Pikirkan Lagi Wamen Yang Rangkap Jabatan

“Hal sama terjadi di Indonesia, meski kontraksinya tidak separah negara lain. Dari sisi sektoral, transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi terdalam -30,84 persen disusul akomodasi dan makan minuman sebesar - 2 2 , 0 2 persen , ” tambah Iskandar. 

Iskandar memastikan, untuk mencegah potensi terjadinya kontraksi lebih dalam, konsumsi rumah tangga dan pemerintah akan terus didorong pada kuartal III. Pasalnya, konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi Indonesia diprediksi masih terus tertekan. 

“Kita lihat konsumsinya anjlok. Konsumsi pemerintah masih anjlok jadi kita dorong konsumsi pemerintah agar bisa lebih tinggi sehingga tidak terjadi resesi di kuartal ketiga,” ujarnya. [NOV]