Dark/Light Mode

Guru Besar IPB: Kebijakan Impor Buah Pemerintah Pertimbangkan Kepentingan Petani

Selasa, 3 Nopember 2020 15:20 WIB
Berbagai macam buah lokal/Ist
Berbagai macam buah lokal/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Guru Besar Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Muhammad Firdaus mengatakan, intervensi pemerintah dalam proses impor hortikultura, seperti yang selama ini diterapkan dengan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) adalah keniscayaan yang juga diterapkan oleh banyak negara maju.

Namun dengan komitmen yang dicanangkan Pemerintah sejak tahun 1994 terkait perjanjian World Trade Organization (WTO), tuntutan dari dua negara pertanian maju yaitu Amerika Serikat (AS) dan Selandia Baru, menyebabkan Indonesia harus merevisi 18 macam peraturan, termasuk beberapa undang-undang terkait.

“Sebelum ada perubahan pasal pada Undang-Undang Cipta Kerja, pada tiga prolegnas (Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Undang-Undang Pangan dan Undang-UndangHortikultura) dinyatakan bahwa impor pangan, termasuk hortikultura, dilakukan hanya jika produksi dalam negeri tidak mencukupi,” ujar Firdaus, Minggu (1/11).

Firdaus menyebutkan, terdapat revisi bahwa pemenuhan kebutuhan pangan dilakukan dengan memanfaatkan sumber produksi dalam negeri, cadangan pangan dan impor. 

Berita Terkait : Pemerintah Tak Larang Produk Asal Prancis

“Ada klausul pada ayat berikutnya bahwa impor tersebut harus memperhatikan kepentingan petani dan nelayan,” tambahnya. 

Beberapa negara pertanian lain menerapkan instrumen seperti tarif. Rerata tarif terapan impor sayuran Thailand jauh di atas Indonesia. Thailand juga lebih dapat menerapkan hambatan seperti TBT karena sudah menerapkan good agricultural practices (GAP) pada orchard-orchard buah yang diregistrasi secara baik. 

“Australia sejak awal 2.000-an sudah menerapkan berbagai hambatan nontarif untuk impor durian, lengkeng dan manggis, meskipun daerah utara yang ingin dikembangkan buah tropis belum berhasil secara baik dilakukan. Inilah lesson learned yang dapat dipelajari oleh kita dalam kebijakan impor hortikultura,” sebut Firdaus. 

Hambatan perdagangan seperti kuota adalah hal yang dapat dikatakan tabu pada perdagangan internasional. Untuk impor buah, tidak ada alasan yang signifikan untuk menerapkan kuota, terlebih pada buah sub tropis yang memang tidak secara masif diproduksi di dalam negeri. 

Berita Terkait : Rektor IPB: Sektor Pertanian Penyelamat Pembangunan Nasional Di Masa Covid

“Hambatan kuota masih diterapkan, hanya dengan maksud untuk melindungi kepentingan nasional, seperti untuk komoditi strategis,” ungkap Firdaus.

Maka Firdaus menyebutkan pemberlakukan kebijakan impor buah tidak bisa disamakan dengan kebijakan komoditas lainnya, terutama komoditas strategis yang berpengaruh pada inflasi. 

Ia mencontohkan komoditas strategis seperti bawang merah, bawang putih atau cabe, yang tidak bisa tergantikan. Tentunya berbeda dengan buah. Saat harga apel mahal, konsumen segera dapat beralih misalnya ke jeruk atau buah lain. Masyarakat selaku konsumen dapat dengan mudah beralih memilih jenis buah yang mau dibeli.

Jadi menganalisis kebijakan impor buah tentu tidak dapat sama dengan impor jagung, gula atau sapi yang sering ditenggarai membuka jalan bagi pencari rente. 

Baca Juga : Menteri LHK Jamin UU Cipta Kerja Tak Bikin Hutan Rusak

“Kebijakan impor pada kurun waktu terakhir sudah terus dibenahi, agar transparansi proses dan perizinan lebih berjalan. Undang-Undang Cipta Kerja sekiranya dapat memberikan jawaban atas PR ini,” pungkas Firdaus. [KAL]