Dark/Light Mode

Ekonomi Resmi Resesi

Menkeu Tenang, Rakyat Tegang

Jumat, 6 Nopember 2020 06:47 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Instagram)
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (Foto: Instagram)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonomi Indonesia resmi masuk jurang resesi. Kepastian itu setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,49 persen. Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani tetap tenang. Sementara rakyat kecil tegang karena harus makin mengencangkan ikat pinggang.

Resesi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut minus. Nah, pertumbuhan Indonesia mengalami minus berturut-turut. Pada kuartal II minus 5,32 persen dan kuartal III minus 3,49 persen. Dan ini menjadi resesi pertama bagi Indonesia setelah 1999.

Berita Terkait : Meski Resesi, Ekonomi Indonesia Mulai Membaik

Sebenarnya, kabar ekonomi Indonesia resesi bukan hal mengejutkan. Pemerintah dan pengamat sudah memprediksinya. Sebab, indikasi ke arah sana memang sudah terlihat dari kondisi ekonomi yang terhenti karena kena dampak pandemi Covid-19. Dimana banyak daerah yang melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penularan Covid-19. Dampaknya kegiatan ekonomi berhenti.

Laporan BPS tersebut lebih buruk dari prediksi Presiden Jokowi. Saat itu, Jokowi menduga pertumbuhan bisa mencapai minus 3 persen. Begitu juga dengan Sri Mulyani yang bahkan berharap ekonomi tumbuh ke level minus 2,9 persen.

Berita Terkait : Sumbawa Butuh Pemimpin Cerdas Yang Bisa Kurangi Pengangguran

Pengumuman Indonesia resesi disampaikan kepala BPS, Suhariyanto saat memaparkan Pertumbuhan Ekonomi dan Ketenagakerjaan melalui akun YouTube BPS, kemarin.

Dalam kesempatan itu, dia ditemani jajarannya. Suhariyanto mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi kuartal III minus 3,49 persen, tapi lebih baik jika dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 5,32 persen. “Ini memperlihatkan ekonomi sudah mengalami perbaikan,” ujarnya.

Berita Terkait : Bamsoet Minta Sri Mul Aktif Jelaskan Pemanfaatan Utang Luar Negeri

Lalu Suhariyanto membeberkan penyebabnya. menurut dia, yang membuat ekonomi kuartal III minus karena konsumsi rumah tangga minus 4,04 persen. Padahal pertumbuhan ekonomi masih banyak disumbang konsumsi rumah tangga. “Bobotnya besar sekitar 57 persen,” ucap Suhariyanto.
 Selanjutnya